
Roni dan Elia sedang beradu pagutan dengan nafas yang tidak beraturan di atas sofa ruang tamu. Suara bibir bersentuhan menggema di iringi desahan penuh nafsu birahi.
Sebelum semakin jauh, Eko dan Tasya yang berdiri di dekat mereka langsung memberi isyarat akan kehadiran mereka.
"Ehemmm," Eko berisyarat keras
Roni dan Elia langsung saja menghentikan aksi mereka, "Ah kamu sudah datang Eko, maaf," ucap Roni sedikit gugup.
Elia hanya terdiam, dengan wajah yang panik.
"Tidak masalah, bersenang-senanglah, sebentar lagi impian kalian akan terwujud, aku akan mengurus semuanya segera, kalian sepertinya sudah tidak sabar," Eko berusuara dengan penuh penekanan.
Sontak Elia dan Roni hanya dapat diam membisu. "Eko apakah kamu keberatan melihat yang kami lakukan barusan?" tanya Roni
"Tentu saja tidak, aku senang kalian bahagia."
"Baiklah, aku dan Elia lebih baik untuk sementara tinggal di kontrakan saya, apakah kamu keberatan?" tanya Roni kembali.
"Lakukan apa yang menurutmu benar, aku akan mendukungnya."
"Oke, kami akan pergi, kami akan berangkat ke Paris dalam minggu ini, jadi aku berharap kamu menyelesaikan urusan yang jauh hari telah kamu rencanakan.."
"Kami pergi dulu," ucap Roni sambil menarik Elia pergi keluar dari Rumah tersebut.
Elia hanya menurut pergi, ia sama sekali tidak berani menatap mata Eko. Elia tau pasti bahwa Eko sedang cemburu melihatnya bercumbu dengan Roni, ia cukup terkejut melihat Eko mulai terang-terangan menunjukkan rasa cemburunya yang selama ini dia sembunyikan bila berada di depan Roni.
Saat Roni dan Elia sudah semakin menjauh, Tasya yang sedari tadi membisu mulai mengeluarkan suara, "Maaf Tuan, apakah dia Elia istrimu?"
"Ya, benar."
"Huh istri apaan, beraninya bercumbu dengan laki-laki lain," hardik Tasya kesal.
Eko langsung menatap tajam ke Arah Tasya, "Kamu jangan mencampuri urusan pribadiku."
"Ah, baik Tuan, maaf," Tasya bergedik ngeri sambil menelan salivanya.
"Sekarang istrahatlah, besok banyak urusan yang akan kita kerjakan, panggil pembantu di sini jika kau membutuhkan sesuatu," ucap Eko sambil pergi menuju kamarnya.
"Maaf Tuan, saya tidur dimana?" tanya Tasya kebingungan.
Langkah Eko terhenti, ia berpikir sejenak, "Kamu tidur bersamaku, oh dan satu lagi suruh Bik Ina siapkan makan malam, aku baru sadar kita belum makan apa-apa dari pagi," ucap Eko santai kemudian melanjutkan langkahnya.
Tasya diam membisu mendengar penjelasan dari Eko. "aku harus tidur bersamamu? Baru tadi kamu khilaf dan meminta maaf padaku, dan sekarang kamu menyuruku tidur bersamamu, hah! dasar sialan, kita lihat saja nanti," gumam Tasya.
.......
Roni dan Elia telah sampai ke kontrakan, Elia masih membisu.
Roni langsung menuntun Elia duduk di dekatnya, "Sayang, mengapa kamu tidak berbicara? Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Roni.
"Ah, tidak ada, aku hanya memikirkan Eko, apakah dia benar-benar bahagia?" tanya Elia khawatir.
Mendengar itu, Roni langsung berdiri dan memegang kedua pipi Elia, "Katakan sekarang, bahwa hanya aku lah lelaki yang kamu cintai!" perintah Roni tegas.
"Apa maksudmu?" tanya Elia kebingungan berusaha melepas tangan Roni.
"Cepat katakan!" suara Roni sedikit mengeras.
"Jangan pernah pikirkan kebahagiaan orang lain lagi, apalagi Eko, aku tidak suka!" tegas Roni.
"Roni, aku hanya memikirkan kebahagiaanya, apa kamu tidak tahu bagaimana besarnya pengorbanan Eko terhadap kamu?" tanya Elia yang sudah berhasil lepas dari cengkraman Eko
"Kamu jangan egois, sekarang impianmu akan tercapai, jangan lupa dengan pengorbanan Eko," ucap Elia lagi.
"Elia, aku sudah cukup lama menderita, dan sekarang aku sudah berusaha mencapai kebahagiaanku, dan kamu juga pernah bilang akan setia menungguku, Apakah sekarang cintamu telah pudar? Apa Eko sialan itu telah membuatmu jatuh cinta dan mengabaikan aku?" ucap Roni.
"Cukup, kamu bilang kamu menderita, apakah kamu pikir hanya kamu yang menderita, apa kau pikir Eko tidak menderita juga, dia juga menderita tapi dia justru lebih mementingkan kebahagiaan kamu sahabatnya, lalu sekarang kamu melupakan semua itu?" tanya Elia.
"Sudah cukup! aku lelah, aku ingin istriahat, saat ini aku ingin tidur sendiri, lebih baik kita tidak berbicara untuk saat ini, " ucap Elia pergi masuk ke dalam kamar Roni dan mengunci pintu.
Roni hanya diam meyaksikan Elia yang telah hilang dari pandanganya.
"Elia, aku takut Eko merebutmu dariku, maafkan aku Elia," gumam Roni sambil menitihkan air matanya.
........
Makanan malam telah di sajikan oleh pembantu rumah tangga Eko, Eko mulai menyantapnya, Tasya memandang Eko menunggu reaksi dari Eko yang masih membisu.
Setelah selesai makan, Eko kemudian pergi ke kamarnya, dari jauh ia memanggil Tasya yang hanya diam di meja makan, "Hey, ayo istirahat, besok akan menjadi hari yang melelahkan," perintah Eko.
"Tuan tidurlah, aku akan menata terlebih dahulu pakaianku, dimana aku harus menaruh pakaianku?" tanya Tasya.
"Taruh di lemari kamar ini, cepat ke sini!" perintah Eko.
Tasya langsung menurut dan mengangkat kopernya, kemudian masuk ke dalam kamar Eko. Tasya kemudian menata seluruh pakaianya ke dalam lemari milik Eko, sementara Eko masih sibuk dengan ponselnya.
Tasya kemudian menyiapkan pakain ganti dan pergi membersihkan diri ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi Tasya masih ragu, ia tidak mau jika Eko kembali khilaf seperti kejadian sebelumnya.
"Aku tidak akan tidur sampai pagi, dasar Eko sialan, mengapa aku harus tidur bersamamu, meski kau membayarku mahal sebagai seketaris pribadimu, tapi bukan berarti kamu bisa berbuat sesukamu," gumam Tasya kemudian melakukan ritual mandinya.
Tasya telah selesai dengan ritual mandinya, tidak seperti biasanya, jika di apartemennya Tasya akan menggunakan lingerin tipis tanpa pakaian dalam saat akan beristirahat, kali ini di kamar Eko ia mengenakan pakaian yang tebal lengkap dengan pakaian dalamnya.
Melihat itu Eko mengerti apa yang sedang di pikirkan oleh Elia, "Tasya tidur di sebelahku!"
Tasya terkejut dan membulatkan matanya, "Maaf tuan saya tidur di atas sofa ini saja," Tasya menolak halus
"Hey, cepat ke sini!"
Tasya pasrah, dan mulai tidur di sebelah Eko, namun ia menjaga jarak dan memunggungi Eko.
Eko sedikit kesal dan mulai bergerak mendekati Tasya, "Tasya kamu tidak perlu takut, aku tidak akan melakulan hal seperti yang ada di pikiranmu," ucap Eko mulai menarik Tasya yang semula memunggunginya.
Mereka kemudian saling menatap, Tasya masih ketakutan. "Aku akan memberitahu satu rahasia terbesarku, dan kau sebagai seketaris pribadiku harus tau."
Tasya kemudian mulai menatap Eko penasaran.
"Asal kamu tahu, aku tidak bisa tidur jika belum ada yang mengusap rambutku, dan aku memintamu untuk melakukan itu sampai aku tertidur setiap malam, tapi jika kamu tidak menyanggupinya, kamu akan kembali menjadi seketaris biasa di kantor," ucap Eko.
Tasya menatap tak percaya, dan masih membisu.
"Dan setiap usapan itu berbeda, hanya Ibuku, Elia dan seorang mantan kekasihku dulu yang dapat membuatku terlelap dengan usapan tanganya, sekarang aku berharap usapanmu dapat membuatku terlelap..."
"Jika usapanmu tidak dapat membuatku terlelap, maka besok kembali kemasi barang-barangmu, kau tidak lulus menjadi seketaris pribadiku, sekarang ayo lakukan!" ucap Eko.
Tasya dengan ragu kemudian perlahan duduk dan mengarahkan kepala Eko ke pangkuanya, perlahan Tasya mulai mengusap rambut legam kepunyaan Eko.
Ia sangat berharap Eko dapat terlelap dengan usapanya.
Dan hanya sebentar Tasya mengusapnya, Eko langsung terlelap di pangkuan Tasya. Eko terlelap dengan bibir yang sedikit tersenyum.
Tasya kemudian bahagia tak karuan melihat Eko telah terlelap. Ia menatap wajah Eko, kemudian mengecup keninganya.
"Selamat tidur Tuan, aku lulus menjadi seketaris pribadimu," ucap Tasya tersenyum kemudian ikut tertidur dalam keadaan masih terduduk karena takut Eko akan bangun jika ia mengubah posisinya.
Selamat Membaca Bosku, dari saya Author abal-abal yang membutuhkan semangat dari pembaca sekalian. Terimakasih