
Eko dan Tasya kemudian segera pergi ke rumah Elia setelah berdebat panjang dengan Roni.
Sampai di rumah Eko menyaksikan Elia yang sedang duduk dan menangis di depan ayahnya. Eko datang mendekat.
"Malam, Pa," ucap Eko.
Elia dan Papanya menoleh ke sumber suara, "Eko, kebetulan kamu datang, sini duduk didekatku," ucap Papa Elia antausias.
"Asal kamu tau, tadi lelaki pemakai yang tidak punya masa depan itu datang menemuiku, dan kamu tau apa yang di lakukan, dia ingin meminta restu dariku, hah lelaki macam apa dia, berani-beraninya melamar istru orang," papa Elia emosional.
Kemudian Papa Elia mengenggam bahu Eko, "Nak, sekarang aku paham inti permasalahan kalian, aku tau Elia bermain asmara di belakangmu dengan lelaki itu, atas nama Elia aku meminta maaf, dan tolong pikirkan kembali tentang perceraian kalian, aku akan memastikan lelaki itu tidak akan merusak hubungan kalian lagi," ucap Papa Elia.
"Seluruh berkasnya telah saya limpahkan ke pengadilan, dan besok adalah hari sidang dan kami resmi bercerai," ucap Eko.
"Apa.. Nak cabut kembali berkas itu, tolong maafkan Elia," Papa Elia memelas.
Kemudian mendekat ke Elia, "Dasar bodoh, mengapa kamu masih dekat dengan lelaki itu, dari dulu dia selalu membawa pengaruh burul untukmu, tapi kau tidak pernah mendengarkanku..."
"Sekarang lihat akibat dari kelakuanmu, ini yang kamu mau, hah?" Papa Elia semakin emosional.
"Aku rasa Papa salah paham, kami memang tidak saling mencintai," ucap Eko.
"Hah, kamu jangan membohongi dirimu sendiri nak, aku tau kamu mencintainya hanya saja ia yang bodoh menyia-nyiakan cintamu, bagaimana mungkin ia dengan berani membawa lelaki itu ke hadapanku untuk meminta restu, sementara kalian masih berhubungan," Papa Elia menumpahkan seluruh emosionalnya.
Eko memegang pundak Papa Elia, "Pa tenang dulu, jangan emosi, dengarkan penjelasan Elia, ini semua adalah salahku ini adalah rencanaku," ucap Eko.
Papa Elia bingung, "Maksud kamu?"
"Ya, rencana untuk bercerai ini sudah kami rencanakan jauh hari sebelumnya, ini memang sangat keterlaluan, tapi saat Papa mengatakan dalih bahwa Elia akan menikah denganku karena perusahan Papa akan bangkrut, dan saat Mama yang berhasil sadar dari komanya saat mengetahui aku menyetujui pernikahan ini, maka kami terpaksa menikah.."
"Aku memang bodoh, tidak berpikir panjang akan menjadi seperti ini, tapi Pa.., ini sudah keputusan kami, tidak mungkin hubungan suami istri berjalan baik jika tidak ada perasaan cinta di dalamnya, kami memang pernah saling mencintai di masa lalu, tapi sekarang perasaan itu tidak ada lagi Pa, tidak mungkin untuk di paksakan," ucap Eko.
Papa Elia bernafas pasrah mendengar penjelasan Eko, "Awalnya aku berpikir kalian akan saling mencintai, karena aku tau masa lalu kalian, yah tapi perasaan memang tidak bisa di paksakan.."
"Tapi tetap saja, cara Elia untuk ingin berpisah sangat salah, jika memang ia tidak mencintaimu maka seharusnya ia berterus terang bukan dengan bermain dengan lelaki lain di belakangmu," ucap Papa Elia.
"Pa, itu juga sudah kami rencanakan jauh hari, Papa harus tau Roni juga merupakan sahabatku sejak kecil, aku tahu betul bagaimana menderitanya hidupnya saat ia ditinggalkan oleh kedua orangtuanya, dan anak Papa, Elia.. Ia datang sebagai seorang malaikat penolong Roni, menemani Roni sampai bangkit dari keterpurukannya..."
"Dan itu adalan alasan baginya untuk nekat meminang Elia, karena ia sangat tulus mencintai Elia, saat pertama kali Papa mengatakan kepadanya agar menjahui Elia karena ia tidak memiliki masa depan yang jelas, ia langsung berusaha, bekerja keras memperjuangkan cintanya," ucap Eko.
Papa Elia terkejut mendengar fakta dari Eko, sementara Elia masih dengan tangisanya, di satu sisi ia bersedih telah mengecewakan Papanya, dan juga di tambah perih dari hatinya mendengar perkataan Eko yang menyatakan bahwa ia tidak mencintainya.
"Elia akan menerima kasih sayang dari seorang Roni, dan Elia juga sangat mencintainya, lalu apalagi alasan papa menolak restunya?"
"Apa Papa masih ingin kami tetap bersama, hidup tanpa cinta, itu hanya akan membawa ke arah yang tidak baik.."
"Pa, restuilah hubungan mereka, Roni sangat hancur, apalagi saat ia mengetahui bahwa aku adalah kekasih masa kecil Elia, ia benar-benar pasrah, bahkan ia sudah berpikir untuk merelakan Elia, karena hal yang paling berharga menurut Roni adalah keluarga Pa, ia tidak mungkin memaksa Elia tanpa restu dari Papa, ia tidak ingin hubungan kalian renggang, ia tahu betul bagaimana hidup tanpa kasih sayang orang tua," ucap Eko.
Tangis Papa Elia pecah, ia kemudian mendekat ke Elia dan memeluknya dengan erat, suara tangisan keduanya saling beradu.
Tasya yang melihat adegan tersebut juga tidak kuasa menahan tangisnya.
Setelah puas menangis, Papa Elia pergi meninggalkan mereka tanpa berbicara sepatah kata pun.
"Elia besok hadir di persidangan, lalu temui Roni, katakan Papa kamu telah merestuinya," ucap Eko.
"Jadi kamu memang tidak lagi mencintaiku?"
Eko terkejut, " Elia aku ingin kamu bahagia," ucap Eko.
"Terimakasih atas kebaikan anda, Tuan Eko, terimakasih atas cinta masa kecilmu yang indah, aku akan selalu mencintaimu," ucap Elia.
"Ya, aku juga selalu mencintaimu, dan kebahagiaanmu adalah prioritasku," ucap Eko.
"Aku akan hadir besok, sekarang pergilah, aku ingin istirahat," ucap Elia dan mulai pergi menuju kamarnya.
Eko dan Tasya juga sudah mulai meninggalkan rumah Elia.
"Ternyata kamu berusaha menyatukan aku dengan Roni karena kamu memang tidak mencintaiku," gumam Elia.
Elia mulai membayangkan senyuman Roni.
"Baiklah, Eko benar aku memang harus bersama lelaki yang memang mencintaiku, aku akan mencintaimu sepenuhnya Roni, aku dan kamu sudah banyak terluka, kita akan pergi dari sini dan berbahagia di sana," gumam Elia lagi sebelum tenggelam dalam tidurnya.
Papa Elia masih merenung di depan jendela kamarnya di lantai dua. Ia melihat di teras rumahnya, Eko dan seketarisnya mulai pergi meninggalkan rumahnya.
"*Harusnya aku bertanya terlebih dahulu tentang perasaan kalian satu sama lain, bukan dengan langsung memaksa pernikahan ini, jika berpisah adalah jalan terbaik, maka aku akan menerimanya selama hasil akhirnya adalah kebahagiaan kalian berdua, walaupun aku masih percaya kalian itu saling mencintai, tapi mungkin perasaanku yang salah, Elia mungkin memang akan bahagia dan mencintai Roni.."
"Aku terlalu rendah memperhatikan Roni, aku hanya tau ia lelaki pemakai yang tidak punya masa depan, cinta memang mengubah segalanya, semangat Roni sangat mirip dengan semangatku saat berjuang mendapatkan istriku, Apa nanti dia mau memaafkanku, tapi yang pasti aku akan merestui kalian berdua*," gumam Papa Elia.
Like & Koment