Because Of Love

Because Of Love
Episode 6


"Mama aku pulang, Mama udah sehat kan?" tanya Eko setibanya di rumah.


"Eko sayang anak mama, sini mama cium pipinya!" mamanya coba mencium Eko.


"Udah dong ma jangan cium-cium aku kan udah besar," tolak Eko.


"Hah oke, awas aja mintak nanti malam kepalanya di usap usap!" goda Mamanya.


"Itu kan obat tidur ma, haha," tawa Eko.


Mama Eko mengajaknya ke ruangan kerja ayahnya untuk menunjukkan sesuatu.


"Lihat ini adalah setelah jas untuk mu, dan ini adalah gaun calon istrimu, minggu depan kamu akan menikah!" ucap Mamanya.


"Apa ma? Bukannya 2 minggu lagi?" tanya Eko bingung.


"Tidak, lebih cepat lebih baik!" ucap mamanya.


"Tapi ma?" protes Eko.


"Cukup Eko, tidak ada tapi-tapian!" ucap Mama Eko.


"Yaudah ma, aku tidur dulu, ayo temenin, usapin dulu rambutku!" pinta Eko.


"Oh tidak, nanti calon istrimu lah yang melakukannya, jadi seminggu ini terbiasalah, minggu depan istrimu yang akan melakukannya anak manja," ucap Mama Eko.


Sesampainya di dalam kamarnya, Eko langsung membersikan diri dan tidur di ranjanganya, Eko benar-benar tidak bisa tidur, dan ia teringat perusahaan Papa Elia.


Ia menelpon seketarisnya,


"Tasya, tolong kamu cari semua info tentang perusahaan Almoz Grup, saya tunggu besok pagi!" perintah Eko.


"Baik pak" jawabnya yakin.


Eko benar benar tidak bisa tidur, akhirnya ia kembali minum obat tidur agar bisa terlelap, hal ini ia lakukan dalam setahun terakhir karena tidak pernah lagi di usap ibunya karena sakit.


Di pagi hari telepon Eko berdering panggilan dari seketaris barunya Tasya,


"Hallo bagaimana sudah dapat?" tanya Eko.


"Sudah pak, saya kirim via Email ya" jawab Tasya.


"Baguss, apa kamu sudah tidur semalam?" tanya Eko.


"Belum pak, saya semalaman terjaga karena mencari informasi ini pak tapi saya akan tetap ke kantor pak," jawabnya.


"Tidak, hari ini kamu isitirahat" ucap Eko.


"Tapi pak saya mau ke kantor pak" mencoba menolak kebaikan Eko.


"Yasudah terserah kamu!" tutup Eko.


"Dari awal aku tau kau adalah pekerja keras."


Tasya seketaris baru Eko adalah seorang resepsionis di perusahaan cabang Eko yang dulu hampir bangkrut akibat ulah pimipinan cabang itu sendiri, Tasya di angkat menjadi seketaris perusahaan karena Eko, selain suka dengan ketegasan Tasya, ia juga tidak suka dengan seketaris sebelumnya yang selalu membocorkan apapun tentangnya ke pada Papanya.


Sementara itu Tasya bersimpuh lemah di kamarnya, "aduh bodohnya aku, aku kan cuman berusaha pura-pura ingin ke kantor suapaya Pak Eko kira aku itu pekerja keras, tapi malah di bilang terserah, Bosku tidak peka sama wanita," kesalnya sambil mulai bergegas untuk segera berangkat ke kantor.


"Ma .., Pa!!" panggil Eko.


"Eko, bagaimana lancar kan perusahaan?" tanya Papa Eko.


"Lancar Pa, Mama udah makin baik kan?" tanya Eko.


"Iya mama udah sembuh total, Mama gak boleh sakit lagi dong, kan bentar lagi Kamu mau nikah," senyum mamanya menunjukkan kebahagiaan.


"Oke ma, semua demi mama, dan satu Pa, aku mau Papa memenuhi permintaanku sebagai syaratnya, setelah itu aku pasti menikah," ucap Eko.


"Oke apapun itu akan Papa usahakan," balas papanya.


"Oke, aku mau Papa Investasi ke perusahan Almoz grup, aku mau perusahaanya kembali berjaya tanpa harus kita akuisisi perusahaan tersebut, bagaimna pa, setuju?" tanya Eko ragu-ragu.


Papa Eko berpikir sejenak,


"Apa kamu sudah bertemu calon istrimu?" tanya Papa Eko.


"Belum lah pa, kan haritu dibatalin!" jawab Eko.


"Oke Papa penuhi, itu memang harus Papa lakukan karena itu syarat pernikahan kamu juga" jawab Papa Eko.


"Maksud papa?" tanya Eko kebingungan.


"Iya itu kan perusahaan punya keluarga calon istrimu," ucap Papa Eko.


"Apaaa???" teriak Eko terkejut.


Eko benar benar terkejut seakan akan petir seperti menyambar seluruh tubuhnya, namun ia masih bisa menahan diri, dan segerap pamit ke Papa dan Mamanya untuk pergi ke kamar nya.


"Tidak mungkin, jadi aku menikah dengan Elia, ah .., bagaimana mungkin aku menikahi kekasih sahabatku, tidak itu tidak bisa terjadi, tapi apa yang harus kulakukan, pikiran Eko benar benar kacau."


Eko tidak bisa tidur sehingga obat tidur kembali menjadi pelampiasan terkahir, setidaknya malam itu ia bisa tertidur dan sejenak melupakan masalah itu.


........


Bangun pagi, Eko langsung membersihkan diri dan langsung pergi ke kantor, ia langsung menyibukkan diri dengan pekerjaanya dia masih belum memikirkan apa yang harus di lakukan, pikirannya benar benar masih belum jernih , ia tidak bisa membayangkan semua itu akan terjadi.


Sementara itu Elia saat ini sedang bahagia karena ia akan bertemu dengan Roni,


setalah selesai bersiap-siap ia pergi menggunakan mobilnya menuju kontrkaan Roni, dan sesampainya ia melihat Roni yang sedang serius melukis di dalam kamarnya.


"Sayang, kamu mau lukis apa?" tanya Elia.


"Aku mau lukis kamu, aku mau lukis saat kamu tersenyum di pantai, semua itu adalah kekuatan cintaku, senyummu, pantai itu kelak akan ku kenang sebagai tempat dan sumber kehidupanku sayang," ucap Eko.


"Sayang kamu bisa aja, aku janji itu akan menjadi kenangan kita bersama, kita akan bahagia mengenangnya bersama-sama," ucap Elia tersipu malu.


Mendengar itu Roni tanpa aba-aba langsung mencium bibir Elia, Elia yang kaget segera membalas ciuman Eko dengan penuh gairah, Eko melepas ciumannya dan langsung mengangkat Elia ke tempat tidurnya.


"Elia aku rindu kamu," ucap Roni


"Cepat Roni lakukan sekarang, aku lebih merindukanmu," pinta Elia yang semakin bergairah.