
Hari pernikahan pun tiba, Eko dan Elia sama-sama tampil memukau, mereka telah tiba di tempat penghulu, Eko mengucapkan ijab kabul di depan penghulu, setelah itu mereka pergi ke catatan sipil, mereka telah sah sebagai pasangan di mata hukum dan agama.
Setelah semua selesai, mereka akhirnya tiba di kediaman Eko mereka mengadakan acara resepsi atas pernikahan mereka, Eko dan Elia menerima salam dan ucapan selamat dari tamu undangan dari kalangan pengusaha rekan rekan orangtua Elia dan Eko, sementara teman-teman Eko dan Elia hanya sedikit yang datang, karena mereka berdua tidak ingin pernikahan ini diketahui teman-teman mereka.
Elia sangat bahagia, bukan karena pernikahan yang terpaksa ini, tetapi karena melihat raut wajah Papanya yang terlihat sangat bahagia.
"Aku bersyukur dapat melihat senyum Papa, aku sangat bahagia, terimakasih Eko telah mewujudkan mimpiku membahagiakan Papa," ucap Elia.
"Iya aku juga terimakasih, karena pernikahan ini Mama jadi semangat berjuang dari penyakitnya, sekarang dia sangat bahagia," ucap Eko.
Melihat mereka tersenyum tampak seperti pasangan serasi, walapun sebenarnya di balik semua mereka hanya melakukanya dengan terpaksa.
Tampak dari kejauhan, Sinta Prawira seorang anak tunggal dari Andara Prawira seorang pengusaha yang juga sangat sukses namun tidak lebih besar dari usaha Papa Eko.
"Siapa wanita itu? Dia tidak ada apa apanya di banding aku, tunggu saja, aku tidak akan lama, secepat mungkin aku akan dapat menaklukkan kamu Eko," gumam Sinta.
Sinta saat itu yakin akan dapat memiliki Eko seutuhnya, namun semua sirna karena Eko lebih memilih Rossa mantan kekasihnya, namun saat mendengar Eko dan Rosa batal menikah, Sinta sangat senang dan merasa ia memang di takdirkan bersama Eko, namun lagi-lagi ia harus melihat pil pahit, hari ini ia mendapat kabar bahwa lelaki pujaanya telah menikah.
"Cukup sekali aku melepasmu dengan Rosa saat itu, sekarang kau harus milikku, aku akan memilikimu Eko," gumam Sinta.
Sinta kemudian menghampiri Elia dan Eko kemudian menyalami dan langsung memeluk Eko.
"Hai Eko, lama tidak bertemu, aku akan mendapatkanmu, cukup sekali aku melepasmu dari Rosa, saat ini aku tidak akan merelakanmu bersanding denga wanita ini," bisik Sinta ke telinga Eko.
Eko yang risih langsung melepas pelukan Sinta, setelah itu Sinta berpindah menyalami Elia.
"Bersenang-senanglah, tapi itu tidak akan lama karena Eko hanya milikku," bisik Sinta.
"Aku tidak mengenal kau siapa, tapi kupastikan aku akan bersenang-senang di atas lukamu," bisik Elia tak mau kalah.
Medengar itu Sinta membulatkan kedua matanya, ia tidak menyangka mendapat respon seperti itu, Sinta langsung pergi dari acara tersebut dengan kesal.
"Wah lawanku ternyata hebat juga, kau akan menyesal tunggu saja," gumam Sinta sambil segera pergi dari acara tersebut.
Mendengar perkataan Elia, Eko tersenyum, Ia yakin Sinta pasti berpikir 2 kali melawan Elia yang tak kalah beringas.
"Eko kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Elia.
"Aku tidak menyangka kau menjawab seperti itu kepada sinta," ucap Elia.
"Kau kira aku wanita lemah? Aku bahkan bisa lebih dari itu, tapi siapa dia?" tanya Elia.
"Dia yang berusaha memisahkanku dengan Rossa saat itu, tapi dia tidak berhasil, saat Sinta tidak mengganggu kami lagi, justru Rosa mengkhianatiku," ucap Eko.
"Sudah lupakan, kau pasti akan menemukan yang lebih baik dari Rosa," Senyum Elia.
Setelah semua acara selesai, Eko dan Elia yang lelah, ingin segera isitirahat. Mama Eko kemudian menghampiri mereka.
"Eko kamar kalian ada di lantai 2, kami sudah menyiapkan semuanya, Mama sangat berharap kalian segera memberikan Mama cucu," ucap Mama Eko.
"Elia terkejut dengan perkataan mertuanya tersebut, aku baru sadar menikah ternyata harus mempunyai anak.., bagaimana ini," batin Elia.