Because Of Love

Because Of Love
Episode 68


Happy Reading


Hari demi hari telah berlalu, Elia dan Roni yang semakin hari semakin bahagia, sementara Eko yang secara perlahan mulai melupakan luka yang lama membekas di hatinya.


Namun sifatnya yang dulu ramah dan hangat saat berada di perusahaan sudah berubah drastis. Dingin dan kejam adalah sifat yang sudah menjadi citra yang tergambar kepada dirinya sepenuhnya.


Semenjak kepergian Elia, ia hanya fokus menjalankan perusahaannya, ia telah resmi menjadi Presdir perusahaan tersebut menggantikan Ayahnya. Di bawah kepemimpinannya perusahaan berkempang pesat dan sudah melebarkan sayapnya ke mancanegara. Pundi-pundi harta semakin bertambah, menempatkan ia sebagai pemuda terkaya di Negaranya, hal itulah yang membuat banyak wanita antri untuk mendekatinya.


Namun Eko tidak pernah menanggapi siapapun mereka yang ingin mendekatinya, ia telah bertekad untuk tidak lagi berurusan dengan percintaan, luka lama telah membuatnya trauma.


Di pagi hari seketaris Tasya dengan susah payah menyiapkan sarapan untuk Eko. Tasya sudah cukup mahir memasak setelah paksaan belajar yang di lakukan oleh Eko.


Setelah selesai menyiapkan sarapan, Tasya kemudian menyiapkan seragam untuk Eko, semua urusan Eko harus di tangani oleh Tasya, ia akan sangat marah jika Tasya lalai sedikit saja.


Eko yang masih terlelap kemudian mulai tersadar, saat Tasya membangunkannya.


"Tuan, ayo bangun," ucap Tasya.


Eko terusik dengan suara Tasya akhirnya tersadar, ia kemudian bangun dan menatap Tasya cukup lama. Tasya hanya diam menunggu suara dari Eko.


"Kamu sudah menyiapkan semuanya?" tanya Eko.


"Sudah tuan."


Eko akhirnya mengisyaratkan Tasya untuk pergi. Tasya kemudian keluar dari kamar Eko dan menyiapkan diri untuk berangkat bekerja.


Mereka kemudian menyantap sarapan buatan Tasya. Eko dengan lahap, "Kamu sudah semakin baik memasak, jangan pernah lelah belajar, semua akan berguna di masa depan," ucap Eko.


Tasya mengangguk dan tersenyum mendapati perlakuan Eko, hanya Tasya seorang yang selalu mendapat perlakuan istimewah dari Eko di balik perubahanya yang drastis. Namun sikap itu hanya ia lakukan karena kesabaran Tasya menemani Eko di masa-masa sulit.


Semenatara Tasya merasa perlakuan itu adalah suatu yang biasa, ia harus tetap profesional dalam melakukan pekerjaanya karena ia di bayar mahal oleh Eko untuk itu.


Mereka telah tiba di kantor seluruh karyawan menunduk dengan kedatangan Eko. Tasya berdiri di sebelah Eko mengikuti langkahnya, tidak seperti biasanya, tatapan-tatapan benci tampak di seluruh tatapan para karyawan tersebut.


Mereka sekali-sekali tampak berbincang-bincang sambil menatap sinis Tasya. Hal ini membuat Tasya tidak nyaman dan sangat risih, namun ia tidak mengerti mengapa hari ini para karyawan bersikap aneh kepadanya, Ia merasa tidak pernah melakukan kesalahan apapun.


Tasya telah selesai mengantar kopi untuk Eko, dan ia kembali ke ruanganya. Ia memilih melupakan kejadian tersebut dan fokus menyiapkan berkas-berkas yang akan di serahkan kepada Eko.


Eko menyadari kejanggalan dari para karyawannya tersebut, ia tau terhadap setiap tatapan-tatapan tidak suka mereka kepada seketarisnya Tasya, namun karena ia tidak mengerti apa yang terjadi ia memilih bungkam.


Kemudian fokus Eko bekerja terganggu saat ia mendapat panggilan dari orang kepercayaanya, panggilan tersebut akan masuk ke Eko jika ada sesuatu yang penting, dan Eko pun tidak dapat mengabaikannya karena ia tau itu adalah hal yang penting.


Eko menyambungkan panggilan ponselnya.


"Tuan, apa anda sudah melihat portal berita hari ini?" tanya seorang di balik telepon.


Tanpa menjawab Eko langsung melihat portal berita hari ini tersebut. Darah di tubuh Eko perlahan naik, emosinya meluap saat melihat berita utama yang terpampang.


"Kurang ajar."


"Aku mau berita ini harus hilang secepatnya, dan cari siapa yang membuat berita ini pertama kali!" tegas Eko kemudian menutup teleponya.


Emosinya benar-benar meninggi, "Siapa yang berani-beraninya mengusikku," gumam Eko.


Di tengan emosinya, pikiranya teralih ke Tasya, "Apa dia sudah melihatnya?" gumam Eko.


Eko langsung berlali menuju kantor Tasya, dan membuka pintunya dengan keras. Tasya yang sedang fokus menyiapkan berkas-berkas penting sangat terkejut.


"Tuan, ada apa?"


"Mana ponselmu?" Tanya Eko.


Tasya melototkan matanya, "Kenapa dia meminta ponselku?" gumam Tasya.


"Cepat serahkan ponselmu!" ucap Eko.


Tasya terkejut, dan dengan berat hati menyerahkan ponselnya.


"Ayo, kita harus pergi sekarang," ucap Eko.


Tasya hanya menurut mengikuti Eko.


Di perjalanan Tasya benar-benar ketakutan, "Apa yang di lakukan dengan ponselku, apa dia tau semuanya," gumam Tasya.


Mukanya benar-benar terlihat kesal, melihat itu Eko tersenyum kecil, menurutnya ekspresi Tasya saat memayunkan bibirnya benar-benar menggemaskan.


Mereka kemudian tiba di pantai tempat kenangan cinta yang membuat hati Eko telah terluka. Pantai kenangan ia saat bersama Elia.


Tasya kebingungan, "Tuan mengapa kita kesini?"


Eko tidak menjawab, ia kemudian duduk di sebuah bangku, menatap matahari yang hampir terbenam. Eko mulai menyalakan sebatang rokoknya. Sementara pikiran Tasya masih tidak karuan memikirkan ponselnya yang masih berada di tangan Eko.


Karena semakin ketakutan rahasia di ponselnya akan terbongkar, ia kemudian menangis karena tidak tahan lagi. "Tuan aku minta maaf, dia selalu menggodaku aku tidak tega mengabaikannya," ucap Tasya.


Eko kebingungan melihat tinglah Tasya, "Hey kenapa menangis? Apa maksudmu?" tanya Eko kebingungan.


"Tuan, aku tau kamu marah sampai mengambil ponselku karena kamu tau aku sedang berhubungan dengan seorang lelaki, aku berjaanji tuan akan mengakhiri secepatnya," ucap Tasya.


Eko mengerti maksud Tasya, "Jadi dia berpikir aku mengambil ponselnya karena dia pikir aku marah dia berhubungan dengan laki-laki lain," gumam Eko tersenyum.


"Dia tidak tau apa fakta sebenarnya aku mengambil ponselnya, aku tidak ingin dia melihat berita buruk tentangnya hari ini," gumam Eko lagi.


Karena Tasya tertangkap basah melanggar aturan Eko, akhirnya ia bermaksud untuk memberikan Tasya pelajaran.


"Tasya aku sudah bilang jangan pernah melangggar peraturanku, kamu tidak ingat pernah berjanji tidak akan berhubungan dengan siapapun selama aku bekerja? Kamu harus memberikan seluruh perhatianmu hanya kepadaku," ucap Eko.


Tasya semakin memelas, "Maaf Tuan, saya akan mengakhiri semua hubungan kami," ucap Tasya.


"Baik, jangan pernah ulangi lagi, kali ini aku akan memaafkanmu," ucap Eko.


"Baik Tuan, terimakasih telah memaafkan saya," ucap Tasya memayunkan bibirnya.


Eko benar-benar menahan gemas melihat ekspresi Tasya, namun ponsel Eko berdering panggilan masuk dari orang kepercayaannya. Eko segera bergerak menjauh dari Tasya.


"Bagaimana?" Tanya Eko di balik ponsel.


"Beritanya sudah berhasil kami bungkam Tuan, kami juga tau siapa yang menyebarkan berita ini pertama kali," ucap seorang di balik ponsel.


"Baiklah, langsung kirimkan data penyebar pertama, tunggu arahan saya selanjutnya," jawab Eko sambil menutup telepon.


Mereka kemudian kembali ke kantor, sesampainya di kantor, Eko menyerahkan kembali ponsel Tasya.


Tasya langsung tersenyum, "Terimakasih Tuan saya tidak akan melanggar aturan anda," ucap Elia.


"Jangan ulangi lagi kesalahanmu, cepat lanjutkan pekerjaanmu," ucap Eko.