
Pagi hari telah tiba, setiap manusia kembali ikut bekerja layaknya matahari yang bekerja menerangi bumi, bangun untuk mewujudkan bunga-bunga tidur mereka.
Eko dan Tasya telah tiba di rumah orangtua Eko, Orangtua Eko sengaja mengosongkan seluruh jadwalnya, karena Eko ingin berbicara penting kepada mereka.
Elia yang pagi sekali sudah pergi dari kontrakan Roni, ia kemudian telah tiba di rumah orangtua Eko bersama ayahnya, setelah mereka mendapat perintah dari Eko.
Ayah Elia masih bertanya dalam benaknya, apa yang membuat Eko memerintahkan untuk berkumpul bersama keluarga besarnya, sementata Elia tahu betul bahwa hari perpisahannya dengan Eko semakin dekat.
Hatinya berusaha seikhlas mungkin menerimanya, walau rasa tidak rela itu masih ada sedikit.
Seluruhnya telah berkumpul di ruang tengah, "Aku membawa kalian semua berkumpul di sini karena ada hal yang penting ingin aku sampaikan perihal hubunganku dengan Elia."
Sontak mereka yang berkumpul terdiam membisu menatap Eko.
"Apakan cucuku akan segera hadir?" Mama Eko tersenyum.
Elia terkulai lemas mendengar perkataan Mama Eko, "Aku harap mama siap menerima kenyataan ini," gumam Elia.
Eko hanya tersenyum iba menatap Ibunya, "Ayo ceritakan apa yang ingin kamu sampaikan?" Ayah Eko mendesak.
Saat Eko akan mulai berbicara, ponselnya berdering, nama Roni tertera di layar ponselnya. "Tunggu sebentar saya akan menerima panggilan ini."
"Huh bikin penasaran aja," Mama Eko protes. Ia kemudian menatap Elia, "Nak, usai kandunganmu sudah berapa bulan?" mama Eko tersenyum.
Elia diam membisu, Ayah Elia sedari tadi diam mulai mengerti arah pembicaraan Eko, melihat reaksi Elia yang gelisah, "Lebih baik kita menunggu Eko, mungkin dia mau yang pertama menyampaikan informasi baik ini," ucap Papa Elia.
"Mudah-mudahan apa yang ada di pikiranku tidak terjadi," gumam Papa Elia berusaha membuang jauh pikiran negatifnya.
"Halo, kenapa?" Roni menjawab panggilan Roni setelah menjauh.
"Eko, aku tau sekarang kamu akan menepati janjimu, kamu adalah sahabat terbaikku..." Roni menangis di balik telepon.
Eko mendengar tangisan Roni, "Roni... Kamu menangis?"
"Bukankan ini merupakan impianya. Mengapa ia justru bersedih," gumam Eko.
"Tapi sebelum kamu memberitahu keluargamu tentang perceraian kalian, aku ingin memberitahumu satu hal ... "
"Aku sudah tau semuanya dari Elia," ucap Roni.
"Apa yang kamu ketahui?" Eko kebingungan
"Aku tau Elia adalah cinta masa kecilmu."
"Apa... Elia mengatakan semuanya?" seketika tubuh Eko tegang.
"Ya, aku jadi ingat, ternyata aku lah orang yang menyarankanmu untuk merenggut kesucian wanita yang sekarang justru aku cintai, haha," Roni tertawa kecil di sela tangisannya.
"Lalu sekarang apa? Itu hanya masa lalu, tidak perlu di pikirkan," ucap Eko.
"Apa kau masih mencintai Elia?"
Jantung Eko berdegup kencang, "Hey, pertanyaan apa itu, jika aku masih mencintainya, sekarang aku tidak akan mengumumkan perceraian ini ke mereka," Eko berusaha tenang menormalkan kembali detak jantungnya.
"Mengapa Elia mengatakan semua ini?" gumam Eko.
"Eko, maaf beberapa hari lalu aku sempat berpikir kau akan merebut Elia dariku, tapi setelah aku tahu kebenaranya, sekarang aku akan merelakan kalian berdua..."
"Faktanya akulah yang merebut Elia darimu, sedari kecil aku sudah tau bagaimana kau sangat mencintainya, sekarang urungkanlah niatmu untuk menceraikan Elia, lanjutkan cinta masa kecil kalian," Ucap Roni.
"Maksud kamu?"
"Roni, kau itu sahabatku, aku sudah memikirkannya jauh hari sebelumnya, meskipun dia kekasihku saat kecil, tapi sekarang aku tidak mencintainya."
"Eko aku tidak tau hatimu terbuat dari apa, tapi ingat, perjuangkanlah kebahagiaanmu sendiri, jangan terlalu memikirkan kebahagiaan orang-orang terdekatmu, apalagi sampai kamu sendiri yang menderita," Roni menutup sambungan teleponnya.
Eko terdiam mencerna kata-kata Eko, "Elia mengapa kamu mengatakan semua ini kepada Roni," gumam Eko.
"Eko berapa lama lagi kami akan menunggu," Mama Eko berteriak.
Eko tersadar dari lamunanya, kemudian kembali menuju mereka.
"Cepat katakan, mama penasaran," Mama Eko antausias meunggu.
Eko sejenak melirik Elia yang sudah cemas,
"*Aku tidak tau apa maksudmu memberitahukan kisah kecil kita kepada Ro ni, tapi yang pasti sekarang dia justru rela jika kita tidak jadi bercerai ..."
"apa itu memang tujuanmu? Kamu tidak ingin bersama Roni, hah jangan pikir aku akan merubah keputusanku, kau tidak pernah mamikirkan bagaimana perasaan Roni jika impianya bahagia bersamamu tidak terwujud*," gumam Eko menatap Elia dengan sinis.
Eko duduk mengahadap seluruh mereka yang berkumpul, " Aku dan Elia akan bercerai."
Seketika suasana tiba-tiba tegang.
"Ma .. Maksud kamu?" tanya Mama Eko panik.
Elia hanya menunduk, sementara Ayah Elia sudah pasrah sekakan-akan apa yang ada di pikirannya terjadi.
"Maaf Ma, ini sudah keputusanku, kami tidak bisa lagi bersama."
"Tapi, kenapa Nak?" Mama Eko semakin histeris.
Elia menangis, Ayahnya mendekat dan merangkulnya untuk menenangkannya
"Jelaskan Eko, kenapa? Apa alasannya," Mama Eko beralih ke Elia, "Elia apa yang terjadi?" Mama Eko ikut menangis.
"Ma aku tidak mencintainya, dari awal pernikahan ini juga bukan keinginanku," ucap Eko tegas.
Mama Eko menangis histeris, "Aku kira akan ada berita bahagia darimu, tapi..." Ayah Eko merangkul istrinya yang tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Eko apa semuanya tidak bisa di bicarakan baik-baik?" papa Eko menimpali.
"Iya nak, apa tidak ada lagi sedikit maaf darimu, jika ada yang salah dari Elia," papa Elia ikut menimpali.
"Elia tidak bersalah, hubungan kami baik-baik saja, hanya saja kami memang tidak saling mencintai," ucap Eko.
Mama Eko langsung bergegas pergi meninggalkan perkumpulan tersebut, Ayah Eko juga ikut untuk menenangkan istrinya.
Elia yang sudah merasakan sakit hati, ia benar-benar mendengar dari mulut Eko bahwa benar adanya Eko memang tidak mencintainya lagi, Elia kemudian berlari meninggakan rumah Eko.
Eko menatap kepergian Elia, sementara ayah Elia masih diam tidak mengejar Elia, "Eko ikut denganku sebentar," Ayah Elia mengajak Eko pergi ke area belakang rumahnya. Eko dan Tasya ikut melangakah mengikuti Papa Elia.
"Bisa kita bicara berdua saja," Tasya yang mengerti langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
"Kita sekarang berbicara antara sesama lelaki," tekan Ayah Elia.
BERSAMBUNG..
Like & Koment.