Because Of Love

Because Of Love
Episode 69


Happy Reading


Eko kemudian langsung menuju ruangannya, ia memeriksa data dari orang kepercayaanya tentang penyebar berita tersebut.


Seketika ia terkejut melihat profil penyebar berita tersebut. "Sinta."


Eko langsung membuka ponselnya dan menghubungi Sinta. Tidak lama Sinta langsung menerima panggilan Eko.


"Hallo Eko, lama tidak melihatmu? Apa kamu merindukanku?" Tanya Sinta di balik teleponnya.


"Jangan banyak basa-basi, mengapa kamu menyebarkan berita itu? Apa kamu pikir aku akan diam?" Tanya Eko tegas.


"Aku hanya ingin memberikan pelajaran kepada orang yang meremehkanku, santai Eko.., apa berharganya dia bagimu, dia hanya seketaris murahan yang kebetulan beruntung bekerja denganmu?" ucap Sinta.


"Jaga bicaramu, jangan pernah lakukan apapun yang mengusik orang-orang di sekitarku, atau aku akan tidak tinggal diam!" balas Eko.


"Haha, aku hanya ingin bertemu denganmu, aku tau kamu merindukanku, aku akan menunggumu di Cafe XX, aku menunggumu sayang," ucap Sinta.


"Hah, jangan harap aku menemui wanita sepertimu, dan aku tidak pernah merindukanmu, bahkan aku tidak pernah menganggap kamu ada!" tegas Eko lagi.


"Cepat temui aku, atau berita ini akan muncul lagi," ucap Sinta menutup teleponnya.


"Sialan, wanita licik, oke kita lihat saja, kamu salah berurusan denganku!" tegas Eko.


Eko kemudian pergi ke ruangan Tasya.


"Kamu pulang sendiri naik taksi, aku ada urusan!" tegas Eko.


"Baik Tuan."


Eko kemudian mengemudikan kendaraannya menemui Sinta. Dengan penuh emosi Eko melajukan mobilnya dengan cepat.


Eko kemudian tiba di cafe yang di janjikan dan mendapati Sinta yang sudah duduk di salah satu meja yang telah ia pesan. Melihat Eko yang sudah muncul, Sinta langsung bangkit menyambut Eko.


"Eko, aku tau kamu akan datang," ucap Sinta.


Dengan ekpresi dingin, "Jangan basa-basi, aku tidak ingin lama-lama dengan wanita licik sepertimu!" tegas Eko.


"Apa maumu?" tanya Eko.


Mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan Sinta berusaha tenang, dan duduk kembali, "Eko tenang dulu, apa kamu tidak ingin berbincang dulu, aku sangat merindukanmu," ucap Sinta.


"Cepat katakan, aku tidak bisa berlama-lama," tegas Eko lagi.


"Baiklah, tapi kamu harus mendengarkan aku dulu, ayolah ini hanya sebentar," pinta Sinta.


Eko kemudian menuruti Sinta, dan duduk di depannya. "Cepat katakan!" tegas Eko malas.


Sinta mulai tersenyum, "Eko apa kamu masih belum bisa merelakan Elia?" tanya Sinta.


"Jangan membahas hal yang bukan urusanmu!" tegas Eko.


"Haha, ternyata aku benar kamu belum merelakannya, dia sudah bahagia dengan laki-laki lain, apalagi yang kamu harapkan?" tanya Sinta.


"Cukup! Aku sudah bilang jangan ikut campur dengan urusanku!" ucap Eko cukup kuat, hal itu menarik perhatian dari pengunjung cafe lainnya.


Sinta mulai gemetar mendengar ancaman Eko, namun bukan Sinta namanya jika langsung menyerah.


"Aku tidak peduli apapun yang kamu lakukan, tapi aku pastikan berita ini akan sampai ke seketaris murahan itu, aku tidak sabar melihat bagaimana ekspersinya," ucap Sinta.


Mengetahui Sinta adalah wanita yang sangat nekat maka Eko akhirnya kembali mengalah. "Cepat katakan apa yang kamu mau? Apapun itu akan aku penuhi, tapi jangan harap jika kamu menginginkanku, itu tidak akan pernah terjadi, berapa kali aku harus mengingatkanmu, kamu tidak bisa memaksakan cinta kepada orang!" tegas Eko.


Mendengar perkataan Eko, hati Sinta teiris, "Aku tidak mengerti kamu sangat takut jika keburukan Tasya akan menyebar? Apa dia telah mampu menggantikan Elia di hatimu?"


"Itu bukan urusanmu!" lagi-lagi Eko menjawab demikian.


"Baiklah sekarang dengarkan keinginanku, kamu harus memenuhinya jika kamu tidak ingin semua orang tahu rahasia terbesar dari seketaris kesayanganmu itu..."


Eko hanya diam menunggu permintaan dari Sinta.


"Eko aku tau cinta itu memang tidak bisa di paksakan, tetapi aku percaya cinta itu juga akan muncul jika terbiasa, dan kamu tau sejak dulu aku sangat mencintaimu, aku akan melakukan apapun untuk memilikumu..."


Eko benar-benar merasa risih mendengar perkataan Sinta, tetapi dia masih berusaha tenang.


"Dan kamu ingat terakhir kali, bagaimana aku berniat menjebakmu, saat itu aku hampir berhasil, hanya saja seketaris sialan itu datang menggagalkan semua rencanaku, dan dengan lantang dia menantangku.."


"Sekian lama aku benar-benar mencari cara untuk menyingkirkannya, dan akhirnya aku tau, ternyata seketaris kesayangmu itu memiliki masa lalu yang menjijikkan, itulah caraku untuk menyingkirkannya.."


"Tetapi aku masih berbaik hati, aku mau ia pergi jauh darimu dari kota ini, dan cara satu-satunya adalah kamu yang harus melakukannya, kamu harus mengsuir dia dari jauh, atau jika kamu tidak melakukannnya maka aku akan melakukannya dengan caraku sendiri!" ucap Sinta tersenyum.


Eko tidak habis pikir dengan jalan pikiran Sinta. "Apa tujuanmu melakukan itu?"


"Tentu saja menyingkirkan siapapun yang menjadi penghalang untuk mendapatkanmu," jawab Sinta.


"Sinta, kamu pikir dengan menjauhkan Tasya dariku semuanya akan berubah? Justru itu hanya akan menambah kebencianku!" tegas Eko.


"Kamu tidak ingat apa yang aku katakan sebelumnya, cinta itu akan ada jika terbiasa, kita hanya perlu terbiasa bersama dan menyingkirkan semua pengganggu," ucap Sinta meyakinkan Eko.


"Sinta, berpikirlah, kamu sangat terobsesi memiliku, kamu harus memeriksakan kejiwaanmu," ucap Eko.


"Eko, aku begini karena kamu, aku sangat tulus mencintaimu, apa aku salah mencintaimu?" tanya Sinta dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kamu tidak salah mencintaiku, tapi kamu harus berpikir jernih, jangan pernah memaksakan kehendakmu," ucap Eko.


"Aku tidak peduli, aku harus mendapatkanmu, pokoknya kamu harus menyingkirkan Tasya, atau kamu mau tau semua orang akan tau siapa sebenarnya dia!" ucap Sinta.


Sinta kemudian bangkit dari tempat duduknya meninggalkan Eko. Air matanya mulai mengalir, ia kemudian melajukan mobilnya dengan cepat.


Setelah kepergian Sinta, Eko kemudian juga meninggalkan cafe tersebut, sebelumnya ia membayar minuman yang telah mereka pesan.


Di perjalanan ia benar-benar frustasi menghadapi Sinta, "Apa yang akan terjadi jika semua orang tau masa lalu Tasya, dia akan sangat terluka, dasar Sinta kau benar-benar sakit jiwa," gumam Tasya.


Di sepanjang perjalanan ia berpikir apa yang harus ia lakukan, ia tidak ingin Tasya terluka, tetapi ia juga tidak rela jika Tasya akan meninggalkannya. Sejenak ia mulai ingat salah satu perkataan Sinta, "Cinta ada karena terbiasa, itu ada benarnya juga, mengapa aku sangat mengkhawatirkan Tasya, mengapa aku tidak rela jika ia pergu dariku, apa jangan-jangan.."


"Ah itu tidak mungkin, dia hanya seketaris pribadiku," gumam Eko.


Ia benar-benar frustasi memikirkannya, logika berpikir dan suara hatinya benar-benar tidak bisa berdamai sepanjang perjalanan.