
Tiba di Pantai yang di janjikan Elia tersenyum mengingat hal manis pertama kali saat menjalin hubungan dengan Roni.
Setelah lama berlamun dari kejauhan ia melihat Roni bersama Eko berjalan menghampirinya,
"Sayang, kamu lama nungguin ya, maaf ya tadi Eko lama bangunnya, lagi stres dia mau di jodohin Mamanya," ucap Roni menggoda Eko.
"Wah bentar lagi Eko nikah dong, gak jomblo lagi dehh, Elia di undang ya ke pernikahannya," sambut Elia ikut menggoda Eko.
"Lia ini karena Mama, tapi kalian berdua pasti di undang," balas Eko kesal.
"Kalian kapan nyusul gue?" Tanya Eko tiba-tiba.
Mendengar pertanyaan Eko, hati Elia tiba tiba merasa sesak sakit terisir-iris tak terasa air matanya menetes,
"Secepatnya bro, iya gak sayang?" tanya Roni menoleh ke arah Elia
Saat menoleh ke Elia, Roni dan Eko kaget melihat Elia menangis,
"Kamu kenapa sayang? Sayang aku minta maaf, mungkin kamu ragu karena menikah denganku karena sifat burukku, tapi sekarang aku sudah menjauhinya, aku akan lebih baik lagi, dan aku akan menikahimu," ucap Roni yang mengerti perasaan Elia.
"Ia Lia, Roni udah jauhin barang-barang itu kok, gue bisa jamin," ucap Eko meyakinkan Elia.
Namun bukannya senang, Elia justru semakin menangis,
"Roni aku harap kamu berubah, dan alasanmu berubah itu jangan karenaku, berubahlah demi dirimu sendiri, karena mungkin ini pertemuan kita terkahir, aku harap kamu bisa melepaskan aku pergi!" ucap Elia.
Mendengar perkataan Elia, Roni kebingungan,
"Lia, maksud kamu apa? Tidak-tidak, aku berubah memang karenamu, hanya kamu yang dapat merubah aku menjadi lebih baik, bagaimana bisa kau menyuruhku untuk melepasmu? Aku tau kau mencintaiku lia," ucap Roni.
"Cukkupp!!, jika kamu mencintaiku, berubahlah karena dirimu sendiri, dan relakan aku, minggu depan aku akan menikah dengan laki-laki pilihan papa," balas Elia.
Mendengar jawaban Elia, Roni tidak dapat menahan tubuhnya, ia terjatuh ke pasir pantai, angin pantai menusuk-nusuk ke hatinya,
"Maksud kamu?" tanya Roni lemas.
"Iya Roni, aku tidak mencintaimu lagi, buang saja aku dari pikiranmu!!" ucap Elia.
Melihat perkataan Elia, Eko tau itu bukan perkataan yang sesungguhnya dari Elia, kemudian Eko berusaha memperjelas kondisi mereka,
"Lia, aku tau kamu berbohong, aku tau kalian saling mencintai, dan aku tau perusahaan Papamu mungkin sedang bermasalah, dan mungkin kau di nikahkan karena di paksa Papamu bukan karena kau cinta," ucap Eko asal.
"Tidak, aku tidak mencintainya, aku benci dia Eko!!" teriak Elia.
Mendengar itu hati Elia benar benar merasakan sakit di hatinya, ia tidak bisa menyembunyikan perasaanya.
"Ronii cukup, Eko benar aku terpaksa melakukan ini, aku tak mungkin bisa melupakanmu secepat ini, di pantai ini juga aku sudah berjanji senyumku akan selalu mengasihimu, bagaimana mungkin aku lupa Ronii!!, tapi aku tidak bisa melawan Papaku," tangis Elia memuncak, dan Roni memeluknya, keduanya menangis dan saling mendekap erat.
Melihat hal tersebut Eko tersentuh, dan tidak sadar juga ingin menangis, namun ia berusahan menahanya,
"Kalian berdua tenang, aku akan membantu perusahaan Papa Elia, sehingga kalian berdua tidak akan berpisah," ucap Eko di tengah tangisan mereka
Roni dan Elia kaget mendengar ucapan Eko,
"Kamu serius mau bantu perusahaan Papaku?" tanya Elia.
"Iya serius lah," balas Eko.
"Tapi kan harus lewat Papa lo, emang dia mau bantu?" Roni menimpali.
"Tenang nanti biar gue atur, gue pasti bisa ngeyakinin Papa kok, tapi sekarang lo berdua jangan berantem lagi, gue mau pergi dulu, tadi dari luar kota gue langsung ke sini sama lo, gua mau ngeliat Mama gue," ucap Eko kemudian beranjak pergi meninggalkan Roni dan Elia.
"Eko kamu memang sahabat terbaikku, kamu selalu membantu hidupku, makasih bro," ucap Roni melepas kepergian sahabatnya.
"Santai bro, sahabat kan harus gitu, aku cabut ya bro, jangan sedih lagi ya Elia!" ucap Eko menatap dalam Elia.
"Iya Eko, terimakasih" Balas Elia yang membalas dalam juga tatapan Eko, mereka seakan-akan mengerti apa maksud dari tatapan itu.
Saat Eko meninggalkan pantai, Roni dan Elia akhirnya merasa sedikit tenang, setidaknya saat ini masih ada harapan mereka dapat bersama, walau tanpa mereka sadari perpisahan itu tidak lama lagi.
"Roni, aku minta maaf, aku mencintaimu!" ucap Elia.
"Aku juga minta maaf Lia, harapan akan selalu ada jika kita yakin dengan cinta kita," Balas Roni mendekap tubuh Elia.
Mereka beruda larut dalam kebahagiaan, setelah beberapa waktu tidak bertemu, Roni kembali dapat melihat Senyum yang ia yakini sebagai kekuatan hidupnya.
Elia juga kembali memberikan senyum terbaiknya kepada Eko, mereka benar benar larut di Pantai yang selalu menajdi saksi bisu akan keyakinan mereka kepada kekuatan cinta tulus keduanya.
"Udah ya, aku balik dulu nanti Papa tau aku keluar, sekarang kita cuman bisa menunggu kabar baik dari Eko," ucap Elia.
"Iya sayang, maaf sekarang aku tidak bisa apa-apa untuk cinta kita," ucap Roni.
"Tidak Roni, kamu hanya perlu mencintaiku, dan berusaha nanti pasti akan sesuai harapan," ucap Elia menenangkan Roni.
"Baik sayang, aku rindu senyummu!" senyum Roni melepas kepergian Elia.