Because Of Love

Because Of Love
Episode 58


.......................


Hapy Reading


.......................


Kebaikan dan kesetiaan Eko sepertinya sangat melebihi batas wajar, di dalam benaknya ia sangat mencintai Elia namun karena melihat Roni sahabatnya mencintai Elia, ia akhirnya merelakan Elia. Ternyata di balik semua ini Eko memiliki alasan tersendiri merelakan Elia...


Ayah Elia kemudian mulai bertanya dengan tegas


"Kamu lelaki bagaimana, sampai tega membuat wanita menangis?"


"Kamu laki-laki sejati kan? Bukan hanya Elia, Ibu kamu, mereka berdua bersedih menangis karena hal ini ..."


"Sekarang lihat aku, katakan dengan lantang di depanku bahwa kau benar-benar tidak mencintai Elia," ucap Ayah Elia yang sangat kecewa.


Eko tidak bergeming, mulutnya terbungkam


"Cepat katakan di hadapanku," Papa Elia semakin emosi.


"Aku.. Tidak mencintai El.." Eko terbata-bata.


"Hah, aku tau kau mencintainya, aku sangat tau, aku yakin ada sesuatu yang tidak beres..."


"Aku tidak mencintai Elia."


Papa Elia seketik terkejut, sekujur tubuhnya lemas, tidak mampu lagi berkata-kata.


"Ya, aku tidak mencintainya," ucap Eko yakin.


Papa Elia terdiam pasrah, menatap Eko dalam.


"Baik.., terimakasih telah melukai putriku, semoga karma tidak cepat menghampirimu," Papa Elia kemudian pergi meninggalkan Eko.


Papa Elia semakin jauh sampai hilang di pandangan Eko, "Kalian semua tidak mengerti," gumam Eko lirih.


......


Elia sudah menangis di pantai sejak lari dari rumah Eko tadi, "Aku rindu masa kecilku, masa dimana kamu benar-benar mencintaiku," gumam Elia menangis.


"*Dulu mungkin kau berpikir itu hanya perasaan belaka, tapi aku dulu sampai sekarang bersungguh-sungguh mencitaimu, dan ternyata aku bodoh,"


"Kau harusnya berpikir, wanita mana yang masih di bawah umur, masih polos, baru pertama kali pacaran, tapi rela memberikan kesuciannya, kalau bukan karena dia mencintaimu*," Elia berkutat dengan pikirannya.


Batang demi batang rokok telah ia hisap, desiran angin pelan, suara ombak masih belum mampu menenangkan jiwa dan raganya. Matahari mulai terbenam, sinar jingganya meneduhkan padangan Elia, seakan-akan ingin menghiburnya.


.....


Eko dan Tasya sedang berada di tengah perjalanan, Tasya tidak tau dan tidak berani untuk bertanya kemana tujuan mereka.


Ia melihat dan mengerti bagaimanan kejadian di dalam rumah Eko, dan sekarang mengerti bagaimana perasaan Eko, apalagi tadi sebelum pergi, Mama Eko mengusir Eko, ia tidak mau mendengarkan penjelasan Eko, "Pergi kau anak sialan," kata-kata Mama Eko yang bergeming di benak Tasya saat itu.


Mereka tiba di villa pribadi Eko, "Ternyata ke villa ini lagi, mungkin tempat ini menjadi pelariannya jika hatinya sedang dalam kondisi buruk," gumam Tasya.


Eko kemudian duduk bersandar di sebuah sofa, lampu-lampu gemerlap kota metropolitan tersuguhkan di depan mereka.


Botol demi botol minukan habis di teguk oleh Eko, Tasya tidak berani melarang atau berusaha agar Eko tidak minum lagi, melihat Eko yang diam sedari tadi membuat Tasya sedikit ketakutan.


"Jika dia mabuk, aku akan lari sejauh mungkin," gumam Tasya.


Namun kekhawatiran Tasya sepertinya tidak terjadi, Eko sudah terlelap. Tasya menatap wajah Eko yang meneduhkannya.


Tanpa sadar ia sudah menyentuh wajah Eko.


"Kamu terlalu baik, aku tidak mengerti, gerak-gerikmu selama ini menujukkan kamu sangat mencintai Elia, aku tidak tau apa istimewanya Roni, sampai-sampai kau rela menderita seperti ini karenanya," lirih Tasya.


Tasya masih diam terpaku menatap wajah Eko, wajahnya sekan-akan candu akhir-akhir ini, diam-diam Tasya selalu curi-curi pandang menatap wajah rupawan Eko.


"Uhuk.. Uhuk."


Sontak Tasya terkejut saat mendengar suara batuk dari Eko.


Batuk Eko semakin keras, Tasya panik langsung menyerahkan segelas air pada Eko. Perlahan Eko menenguk pelan airnya.


Kemudian Eko mengisyaratkan Tasya menggunakan jarinya untuk medenkat. Tasya panik namun tidak berani membantah.


Tasya telah mendekat, Eko memeluknya, jantung Tasya berdetak tidak beraturan.


"Kamu belum mengusap rambutku," Eko kemudian tidur di pangkuan Tasya.


"Cepat lakukakan," Tasya tersentak kemudian mulai mengusap lembut rambut legam Eko. Pancaran senyum tampak di wajah mulus Eko.


Sampai keduanya terlelap saling berdekapan.


......


Pagi hari telah tiba, mentari cerah memberikan semangat, namun berbeda dengan suasana hati milik seorang yang sudah tersadar dari lelapnya. Mendung hitam legam masih enggan berpindah dari hatinya.


Elia yang tadi malam menghabiskan waktunya merenung di pinggir pantai, memilih kembali ke rumahnya, panggilan masuk dari Roni sejak tadi malam tidak ia hiraukan, Papa yang belum pulang sejak Eko mengucapkan kaya cerai juga tidak ia hiraukan.


Setelah siap-siap, ia kemudian kembali pergi ke pantai, melihat matahari terbit, berharap secercah cahaya menyinari hatinya yang gelap.


Rokok yang membunuh perlahan, tidak ia pikirkan karena ketenangan yang di berikan dari setiap hisapan, hanya itu yang ia tau dan tidak mau tau mengenai akibat buruk kedepannya.


Dari kejauhan Roni berdiri menatap wanita yang sedari dulu ia puja, walau setelah mengetahui faktanya cintanya mulai surut layaknya ombak pantai.


Ia merasa bersalah menempatkan Elia ke dalam cinta yang rumit ini, hatinya sudah ia siapkan jauh hari jika memang suatu hari harus berpisah dengan Elia.


Perlahan ia mulai mendekat dan duduk di sebelah Elia, tidak ada gubrisan dari Elia melihat Roni duduk di sampingnya.


Desiran angin terdengar mengusir keheningan dari pantai yang sepi pengunjung karena pantai ini hanya ramai saat akhir pekan.


"Maaf," kata pertama di ucapkan Roni memecah keheningan.


Elia masih diam, masih sibuk berkutat dengan selinting tembakaunya.


"Maafkan aku," ucap Roni lagi.


"Maaf atas apa?" tanya Elia kemudian.


"Maafkan aku membuatmu terluka," air mata Roni mengalir.


"Dua hari lagi aku akan pergi dari negara ini, aku tidak akan lagi memaksamu, tidak akan menuntut cintamu lagi, tidak akan menuntutmu membalas kerja kerasku dengan cintamu, pergilah dengan kekasih masa kecilmu, berbahagialah," ucap Roni lirih.


"Jadi kamu tidak bahagia denganku?" tanya Elia. "Kamu akan pergi tanpaku?"


Elia kemudian menangis dan mulai bersandar di atas pundak Roni.


"Selama ini aku tidak tau kau terluka seperti ini, aku tidak sadar aku lah sumber lukamu, aku hanya memikirkan bahwa aku akan bekerja keras untuk membahagiakanmu tanpa berpikir bahwa aku sebenarnya orang yang merenggut kebahagiaanmu," Roni menangis.


"Pergilah buatlah cinta lamamu bersemi kembali, aku akan pergi dengan hati yang luka, dan memulai semuanya kembali di sana, semoga kita berdua bahagia meski tidak bersama," ucap Roni lagi.


Mereka kemudian menangis bersama meratapi kisah cinta yang rumit.


"Harusnya aku tidak memaksamu menerima cintaku dulu, sekarang aku sadar bahwa kau menerimaku karena kamu ingin aku bangkit dari keterpurukanku.., Terimakasih menemaniku melewati masa sulitku dahulu," ucap Roni lagi.


Elia mulai menangis sejadi-jadinya, Roni mulai mendekap erat Elia.


Like & Koment!