
Happy Reading
Dengan perasaan kesal Tasya kemudian melangkah masuk ke dalam kantor Eko dengan secangkir kopinya. Tasya meletakkan kopinya di atas meja, Eko kemudian mulai menyeruput kopi tersebut.
Tasya menunggu reaksi dari Eko, berharap Ia dapat menyukai kopi buatannya.
Setelah menyeruput sedikit kopinya, Eko terdiam sejenak, Tasya mulai khawatir.
"Lumayan, kopinya tidak terlalu manis, baiklah mulai sekarang kamu yang membuatkan kopi untukku," ucap Eko.
Tasya kemudian menghela nafas lega karena Eko ternyata menyukai kopi buatanya. Ia tersenyum kecil
"Mengapa lama sekali membuat secangkir kopi saja?" tanya Eko tiba-tiba.
Senyuman Tasya mendadak menghilang, "Aku tidak mungkin mengatakan telah bertengkar dengan karyawan perusahaan ini, nanti masalahnya menjadi panjang, apalagi aku telah melukai salah satu dari mereka," gumam Tasya.
"Aku sedang bertanya, mengapa kamu diam saja? Apa ada masalah?" tanya Eko lagi.
"Ti..tidak tuan, tadi saya sedang ke toilet," jawab Tasya berbohong.
Eko menatap Tasya, ia tau Tasya sedang berbobong, "Baiklah, jika ada masalah jangan pernah sembunyikan dariku, sekecil apapun itu," ucap Eko.
Tasya sedikit lega karena merasa Eko tidak mengetahui bahwa ia sedang berbohong.
"Bagaimana dengan tugas yang aku perintahkan? Apa kamu sudah mengumpulkan semua media yang memberitakan isu-isu tidak benar?" tanya Eko.
Tasya kemudian menyerahkan seluruh berkas hasil pengamatanya, Eko memeriksa secara teliti hasil kerja Tasya.
Wajahnya mulai mengkerut saat melihat isi seluruh berkas tersebut.
Ia kemudian menoleh ke Tasya, "Kamu tahu di berita saat ini kamu di isukan menjadi orang ketiga dalam hubunganku dengan Elia?"
"Ya, saya mengetahuinya, Tuan."
"Lalu, apa itu tidak masalah bagimu? Apa tidak ada orang yang mencibirmu?"
Tasya berusaha tenang dengan pertanyan Eko, "Itu pasti ada Tuan, tapi itu adalah resiko saya bekerja dengan Tuan, dan saya sudah terbiasa di hina, bahkan lebih dari hinaan pernah saya terima," ucap Tasya tersenyum.
Eko kemudian menatap Tasya dengan tatapan prihatin, "Kamu tenang, besok semua berita ini akan saya bungkam, dan mulai hari ini jika ada yang berani mencela bahkan melukaimu, maka jangan sungkan untuk memberitahuku," tegas Eko.
"Tidak tuan, saya tidak perlu dikhawatirkan," balas Elia
"Seluruh karyawan disini adalah tanggung jawab saya, bukan kamu saja, jika mereka juga merasakan hal yang sama saya akan menguruanya, jadi jika kamu merasa diistimewakan, kamu salah itu memang menjadi kewajiban saya menjadi pemimpin," tegas Eko kembali.
"Baik Tuan, saya mengerti," ucap Tasya.
"Sekarang ambil buku resep masakan, pelajari semuanya di ruanganmu, jangan panggil aku jika itu tidak penting," perintah Eko.
"Baik Tuan," Tasya mulai pergi meninggalkan ruangan Eko.
"Tunggu," ucap Eko, langkah Tasya terhenti, Iya, Tuan," Jawab Tasya.
"Ingat, Waktumu hanya sebulan mempelajari itu, giatlah," ucap Eko.
"Baik Tuan," Tasya tersenyum dan kemudian keluar dari ruangan Eko.
"Dasar sialan, cepat-cepatlah selesai penderitaan ini," teriak Tasya di dalam ruanganya, "Aku benar-benar muak membaca, huh membosankan," teriaknya kembali di depan setumpukan buku resep masakan tersebut.
......
Ayah Elia ikut melihat hasil kerja dari EO yang tengah melakukan tahap penyelesaiannya, Ayah Elia tersenyum bahagia, saat sedang menyaksikan seluruh anggota dari EO tersebut, pandanganya terhenti pada seorang wanita yang tidak asing baginya, wanita tersebut tampak sibuk mengatur seluruh anggotanya.
Ayah Elia kemudian mendekatinya, "Salsa," ucap Papa Elia.
Wanita tersebut menoleh dan kebingungan. "Kamu Salsa adik Eko kan?" tanya Papa Elia.
"Ah iya, Tapi maaf, saya tidak mengenali Tuan," ucap Salsa sopan.
"Saya ayah Elia, kamu tau Elia kan?" tanya Papa Elia.
"Oh, Elia istri Kakak Eko, tentu saya mengenalnya, jadi Tuan Ayahnya, maaf saya tidak mengenali Tuan," ucapnya.
"Tidak masalah, panggil saya Papa saja," ucap Papa Elia.
"Baik, Pa, lalu Papa disini dengan siapa? Papa tamu undangan?" tanya Sinta.
Papa Elia mulai sadar, bahawa Salsa belum mengetahui keadaan hubungan antara Eko dan Elia, "Kamu sendiri sedang apa disini?" Papa Elia mengalihkan pembahasan.
"Ohiya, saya kebetulan di suruh menjadi EO acara ini, saya sudah lama tinggal di Paris saya kuliah sambil bekerja, Pa," jawab Salsa.
"Wah, kamu wanita yang mandiri, saya salut denganmu," ucap Papa Elia tersenyum.
"Ah, belum ada yang bisa dibanggakan sekarang, ohiya pa.., apa Kak Eko dan Elia baik-baik saja? Karena kesibukanku aku sampa lupa menanyakan kabar mereka, Papa dan Mama juga belum aku kabarin, aku merindukan mereka" ucap Salsa.
Papa Elia mulai bingung, ia tidak tau harus mulai dari mana untuk menjelaskannya, "Ah, setelah kamu menyelesaikan pekerjaanmu, apa kamu ada kegiatan lain?" tanya Papa Elia.
"Tidak Pa, mungkin aku akan pergi untuk beristirahat," ucap Salsa.
"Besok aku akan kembali ke Indonesia, tapi sebelum itu apa kita dapat berjumpa terlebih dahulu?" Tanya Papa Elia.
Salsa berpikir sejenak, "Tentu saja Pa," Salsa menyerahkan kartu namanya, "Di situ ada nomor saya, Papa dapat mengabari saya, Tapi semua baik-baik saja kan Pa?" tanya Salsa sedikit curiga.
"Besok aku akan menjelaskannya," ucap Papa Elia. "Baiklah acara akan dimulai, aku akan mengabari besok," Papa Elia kemudian meninggalkan Salsa.
Salsa kemudian mulai curiga mengapa Papa Elia mengingkan mereka untuk bertemu, namun karena sudah letih dengan pekerjaannya, Tasya tidak mau memikirkanya terlebih dahulu, ia kemudian kembali untuk beristrahat.
Acara dimulai, Roni dan Elia telah resmi mendapat restu disaksikan oleh seluruh keluarga kecil dari Roni dan Elia.
Mereka sengaja hanya mengundang sedikit dan acara dilakukan tertutup agar tidak menjadi konsumsi publik, untuk menghindari isu-isu yang kurang sedap dari media.
Suasana kebahagiaan tampak dari pengantin dan tamu yang hadir. Hingga kemudian satu persatu tamu undangan mulai meninggalkan acara tersebut, sampai kemudian Roni dan Elia kemudian berangkan menuju hotel terdekat yang telah mereka pesan untuk berisitriahat.
Papa Elia juga kemudian masuk ke dalam kamar hotel yang disiapkan, dan kemudian beristirahat. Roni dan Elia telah selesai membersihkan diri dan mereka telah berbaring di atas ranjang.
Roni kemudian memeluk Elia, memberikan sinyal bahwa ia menginginkanya. Elia yang mengerti menolak Roni.
"Sayang, besok aja ya, aku lelah," ucap Elia mengusap wajah Roni.
"Tapi..."
"Besok aja ya, aku lelah," Elia memelas.
Roni akhirnya mengalah, mengehlas nafas panjang, kemudian mereka langsung tertidur karena kelelalahan.
Like dan Koment Ya Bosku!!