Because Of Love

Because Of Love
Episode 28


Setelah selesai membersihkan diri, pelayan hotel datang ke kamar nya untuk mengantar makanan, Elia kemudian berinisiatif untuk membangunkan Eko, namun ia melihat Eko ternyata sudah tidak ada lagi di atas ranjang, ia mendengar gemercik air dari arah kamar mandi dan setelahnya Eko keluar dari kamar mandi bertelanjang dada.


Elia terkejut dan sedikit kagum melihat tubuh atletis dari Eko, ia menatap tubuh Eko lama. Eko yang selesai mengeringkan badannya belum sadar akan kehadiran Elia, ia mulai menanggalkan handuknya dan ia bertelanjang bulat saat ingin mengambil pakaianya ia terkejut melihat kehadiran Elia.


"Lia, ngapain di situ," ucapnya sambil berlari ke lemari dan mulai mengenakan pakaiannya. Setelah itu ia melangkah mendekat Elia yang masih melamun.


"Hey Lia," ucapnya menepuk pundak Elia.


Elia tersadar dari lamunanya, "Hah, apaan?" tanya Elia.


"Harusnya aku yang bertanya, kamu ngapain di sini? Jangan bilang kamu tergoda sama badan ku?" tanya Eko menggoda.


"Hah badan gitu aja kamu banggain, ayo makanan sudah tiba, cepetan makan," ucapnya sambil pergi meninggalkan Eko, wajahnya merona merasa malu.


Elia dan Eko kemudian makan bersama, suasana hening, setelah selesai makan, mereka berdua sama sama duduk dan merokok di teras hotel. Teras tempat mereka membahas masa lalu tadi malam, Elia dan Eko tiba tiba teringat lagi masa itu namun mereka masih terdiam membisu.


Setelah sebatang rokok mereka habis, Eko kemudian mulai membuka suara. Ia merasa harus menyelesaikan dan menjelaskan semua tentang masa lalunya dengan Elia untuk memperjelas apa yang terjadi saat itu.


"Lia mungkin sekarang waktu yang tepat untuk memperjelas semua, kita harus saling jujur dan harus menentukan komitmen masing-masing agat suatu hari nanti tidak ada yang terluka," ucap Eko.


"Sudahlah aku sedang tidak ingin membahas itu, mungkin lain waktu," ucap Elia.


Elia masih terdiam, namun ia juga penasaran apa yang terjadi pada masa lalu mereka.


"Oke, mulai dari aku. Eko kamu pernah berjanji akan menikahiku saat kita tamat smp, aku percaya sampai-sampai aku memberikan segalanya untukmu. Aku menunggumu yang ternyata tidak pernah mengunjungiku? Dan saat pertama berjumpa. Aku mendengar dari mulutmu sendiri kau akan menikah dan memintaku untuk melupakan semua kenangan itu? Mana janjimu?" tanya Elia mulai menangis.


Eko mulai terdiam, ia melihat tangis Elia, ia sangat ingin mengusap air mata Elia, namun ia menahan diri.


"Oke aku akan jawab.., dan aku jawab semua ini dengan jujur. Saat itu aku tidak tau akan di sekolahkan oleh Papa di sekolah kedinasan yang sangat ketat, awalnya aku menolak tapi desakan Mama lah yang membuatku tidak dapat menolak nya. Kamu tau sendiri kan sekolah kedinasan di Kota A itu? Terkenal dengan ketegasannya. Saat libur pun kami tidak bisa pulang kerumah, kami harus di sana sampai tamat, untuk berkomunikasi apalagi, sedikit saja ketauan menggunakan ponsel hukuman akan menantimu," ucap Eko sambil menyalakan kembali menyalakan rokoknya.


"Lalu?" tanya elia menunggu kelanjutannya.


"Tapi aku diam-diam menelpon Roni untuk meminta menjelaskan keadaanku kepada kamu. Saat itu aku tidak punya kontak kamu, dan saat itu aku tidak memiliki apapun untuk mengontakmu kan? Tidak ada sosial media yang kamu gunakan saat itu, jadi aku tidak dapat memberitahumu secara langsung, jadi karena Roni lah orang yang paling dekat ke rumah kamu. Saat itulah aku ingin agar dia memberitahukan kondisiku saat ini sekaligus menjelaskan kepadamu bahwa kamu adalah kekasihku, waktu itu ia selalu mendesakku memberi tahu siapa kekasihku agar ia dapat menjaga kekasih sahabatnya, tapi aku tidak mengatakan kamu adalah kekasihku karena kamu tidak mau hubungan kita di umbar..."


"Saat aku menghubunginya aku justru mendapat berita sedih darinya. Aku ingat di kecewa padaku saat itu, neneknya meninggal dia tidak memiliki siapapun lagi, ia berharap aku datang mengunjunginya, tapi aku tidak dapat melakukannya, dia sangat marah dan tidak mau lagi berbicara denganku. Aku sangat kesal tidak dapat menemaninya saat ia benar-benar terpuruk. Aku juga mengurungkan niatku untuk menyampaikan pesanku kepadamu karena aku tau ia kecewa denganku," ucap Eko panjang lebar kepada Elia.


Elia berpikir sejenak, dan kembali bertanya karena ia masih butuh kejelasan lain,


"Ya aku dapat mengerti keadanmu saat itu, lalu bagaimana setelah kau tamat dari sekolah itu? Bagaimana dengan Rosa mantan kekasihmu yang tidak jadi kamu nikahi?" tanya Elia kembali.


******