
Setelah merasa cukup aman,
"Jangan katakaan apapun tentang kita kepada Eko," tegas Eko kepada Elia.
"Iyaa, maaf aku tadi sedikit gugup," ucap Lia yang kemudian berlari meninggalkan Eko.
"Pantas kamu sudah melupakanku, ternyata kamu sudah bahagia dengan Roni, ya setidaknya aku bisa tenang melihatmu bahagia," gumam Eko menatap Elia yang semakin menjauh.
Elia yang sudah menjauh dari Eko merasakan sedikit luka di hatinya,
"Ternyata kau sudah bersanding dengan wanita lain, semoga kau berbahagia," gumam Elia.
Flashback Off
Setelah cukup lama melamun, akhirnya Elia kembali meneruskan persiapannya, ia memilih untuk tidak membantah apapun yang nantinya direncanakan oleh Eko, karena ia tau sekarang Eko benar-benar setia dengan sahabatnya sehingga ia rela mengorbankan kebahagiaanya. Setelah semua hampir selesai, Eko kembali masuk ke kamar Elia.
"Lia, aku minta maaf ya," pintanya.
"Tidak masalah Eko, lakukan lah apapun yang kamu mau, asalkan itu membuatmu bahagia," ucap Elia.
"Ya untuk saat ini kebahagiaan kalian yang paling utama, kamu tidak perlu memikirkan kebahagiaanku, melihat sahabatku bahagia saja sudah cukup untuk saat ini, sisanya biar waktu yang berbicara," ucap Eko yakin.
"Semoga waktu itu tiba dengan cepat," ucap Elia menimpali.
Setelah semuanya selesai, mereka langsung masuk ke Mobil Eko dan setelah itu sebelum menuju ke rumah Eko, mereka singgah menemui Roni terlebih dahulu untuk memberitahu agar menyusulnya keesokan harinya ke Paris. Tiba di rumah Roni, Eko dan Elia langsung saja di sambut Oleh Roni, Ia langsung memeluk Elia cukup lama.
"Hai sayang, aku benar-benar merindukanmu," ucap Roni.
"Aku juga sayang," jawab Elia.
Kemudian gantian Roni memeluk Eko, dan mengutarakan kerinduannya, dan Mereka segera masuk ke dalam Rumah.
"Malam ini kami mau ke Paris," ucap Eko.
"Apa? Paris? Hanya kalian berdua?" tanya Roni berusaha menghilangkan keterkejutanya.
"Papa memberikan hadian Bulan madu untuk kami, dan baik aku maupun Elia tidak bisa menolaknya, dan kau tenang saja, besok aku akan memesankan tiket untukmu agar kau bisa menyusul kami," ucap Eko.
"Bro apa ini tidak keterlaluan? Harusnya ini menjadi kebahagiaanmu, tapi justru sebaliknya," ucap Roni.
"Roni jangan berbicara seperti itu, kita pernah berjanji akan saling membantu sebisanya, dan saat ini aku bisa membantumu, santai.., justru harusnya aku yang minta maaf, melakukan rencana gila ini," balas Eko.
"Tanpa rencanamu mungkin saat ini Elia sudah bersama lelaki lain yang di paksa Papa Elia, dan tentu saja kami tidak bisa bersama lagi bahkan untuk bertemu pun mungkin tidak bisa lagi," ucap Roni.
"Bro bisa aku sebentar bicara dengan Elia saja," pinta Roni.
"Oh, tentu!" Ucap Eko sembari pergi keluar.
Setelah Eko menjauh, Roni langsung menyambar Bibir Elia, ********** dengan ganasnya, Ia benar-benar merindukan bibir manis itu.
Elia mulai merasakan sesak,
"Roni apa yang kau lakukan, Eko sudah menunggu," ucap Elia.
"Ayo Elia biarkan sebentar lagi, aku rindu dan akan merindukannya," ucap Roni yang kembali menghajar bibir Elia.
Elia kemudian membalas ciuman Roni, ia juga sangat rindu akan hal ini, tapi ia merasa takut jika Eko melihatnya, perasaanya sekarang benar-benar mempermainkan tubuhnya, ia merasa rindu pada Roni namun takut perasaan Eko bisa terluka.
Walaupun sebenarnya Eko sudah tau bahwa mereka sering melakukan hal ini bahkan Eko juga tau Elia telah melakukan hubungan s*x dengan Roni, namun tetap saja Elia berpikir mungkin Eko bisa terluka melihat ini, jika bisa memilih, ia ingin Eko dan Roni menjadi satu sehingga perasaanya tidak bercampur aduk seperti ini, perasaanya benar-benar bimbang yang mana sebenarnya ia cintai saat ini Eko atau Roni.
Setelah cukup lama saling bercumbu, Roni segera mendekap Elia dan berkata,
"Aku akan merindukan ini selama satu bulan kedepan."
Elia yang bingung dengan kata kata Roni pun bertanya,
"Bukankah besok kau akan menyusul?"
Roni tidak menjawab namun langsung saja menarik tangan Elia dan mengantarnya menuju mobil Eko yang sudah lama menunggu di dalam mobil
"Sory bro kelamaan," kata Roni kemudian membukakan pintu untuk Elia masuk ke dalam mobil.
"Hati hati ya," sambungnya kepada mereka berdua.
Eko membalas dengan membuyikan klakson mobilnya sementara Elia hanya tersenyum membisu. Pikiranya masih terbesit kata-kata Roni.
"Apakah kau tidak akan menyusul kami? Lalu kemana kau? Mengapa kau tidak mau menyusul kami?" pertanyaan bertubi-tubi itu menghantui pikiran Elia.
Eko yang melihat Elia terdiam membisu, mulai memecah keheningan.
"Lia kamu kenapa?" tanya nya berusaha membuyarkan lamuman Elia.
Bantu Like, Koment juga Vote nya jika suka dengan cerita saya. Terimakasih