Because Of Love

Because Of Love
Episode 36


Waktu sudah hampir menuju tengah hari, matahari semakin terik, cahayanya mulai menyelinap masuk melalui celah-celah kamar yang menyilaukan mata Elia.


Akhirnya Elia mulai tersadar dari alam mimpinya. Ia mulai berusaha menjernihkan matanya yang masih buram. Matanya terbuka sempurna, dan semakin terbuka akibat terkejut melihat jam dinding, "Aduhh kok kesiangan sih, dasar aku!!" cacinya kepada dirinya sendiri.


Ia kemudian bangkit dari ranjang empuknya, segera menuju kamar mandi membersihkan tubuhnya. Setelah persiapan untuk berangkat ke kampus selesai, Elia teringat dengan Eko, ia segera menuju ke kamar Eko, kamarnya tidak dikunci dan ia tidak melihat keberadaan Eko di sana.


"Dasar Eko, di pergi tanpa memberitahu aku, aku bisa saja tidak kesiangan seperti ini jika ia memberitahuku!!" gerutu Elia.


Ia segera mulai menuruni anak tangga, pandangannya teralih ke meja makan. Ia mulai menghampirinya dan melihat Mi goreng yang siap untuk di nikmati, tanpa pikir panjang ia langsung menyantap makanan tersebut, rasanya benar-benar pas di lidah Elia, "Siapa yang memasak ini, rasanya enak sekali, setauku pembatu akan datang besok, apa pembatu datang lebih cepat ya," pikir Elia kebingungan.


Saat akan beranjak dari meja makan, ia melihat selembar catatan kecil di sekitar meja makan, ia segera meraihnya dan mulai membacanya. Senyum Elia mulai mengembang, "Eko, wanita mana yang tidak luluh dengan perlakuan ini, semoga kau secepatnya bahagia bersama wanitamu, meskipun aku sedikit berharap akulah wanitanya, tapi kebahagiaanmu adalah segalanya bagiku, kau sudah terlalu menderita," guman Elia tersenyum tulus.


Saat ini Elia benar-benar akan mulai menghilangkan Eko dari hatinya, dan akan kembali mencintai Roni sepenuhnya.


"Oh iya, bagaimana dengan keadaan Roni, apa dia tidak tau aku sudah kembali, mengapa ia belum menghubungiku."


Elia kebingungan dan mulai memainkan ponselnya menghubungi Roni, namun nomor Roni tidak dapat dihubungi. Setelah berkali-kali tidak dapat dihubungi, Elia memutuskan untuk berangkat ke kampus untuk melakukan bimbingan skripsinya, setelah itu ia akan pergi ke rumah Eko.


"Huh, akhirnya siap juga, sekarang tinggal melakukan semua penelitian untuk skiripsi,"


ucap Elia senang kepada teman sekampusnya yang sedang berkumpul.


"Yaudah aku pergi dulu ya, ada urusan penting," ucap Elia sambil beranjak menuju mobilnya untuk segera melaju ke tempat Roni.


"Hati-hati Lia, ingat semua akan indah pada waktunya," sahut salah satu teman Elia. Mereka semua tau apa yang sedang terjadi pada Elia, memberikan semangat padanya adalah satu-satunya cara yang bisa mereka lakukan.


Setelah melewati jalanan kota Jakarta yang padat, Elia tiba di depan rumah Roni. Suasana rumah sangat hening, seperti tidak ada kehidupan di dalamnya, Elia mulai melangkah ke depan pintu kontrakan Roni, ketukan pertama ia lakukan, namun belum ada jawaban, ketukan selanjutnya juga masih belum ada jawaban, Elia akhirnya menyerah dan mulai kembali menghubungi Roni, namun masih belum ada jawaban. Elia mulai khawatir, pikirannya mulai kemana-mana.


Elia tetap berusaha berpikir positif, ia kemudian memutuskan untuk pergi menemui Eko, barangkali ia dapat jawaban di sana. Sebelum menuju kantor Eko, ia singgah sebentar ke pantai tempat biasa ia akan menemukan Roni jika tidak tau keberadaanya, perjalanan jauh menuju pantai ia tempuh. Sesampainya di pantai, ia keliling kesana kemari mencari pujaan hatinya, namun tidak ada tanda-tanda Roni di sana, setelah mencoba bertanya kepada teman-teman yang mengenal Roni, mereka berkata Roni terakhir berada di pantai sebulan yang lalu, setelah itu Roni tidak pernah lagi berkunjung ke pantai ini.


Elia mulai benar-benar panik, "Roni kamu kemana?" Elia yang benar-benar panik. Hari sudah mulai menujukkan jingganya, Elia akhirnya menempuh cara terakhir yaitu menemui Eko.