
Elia mulai terlamun lama setelah mendengar penjelasan panjang dari Eko, namun lamunanya terhenti saat Eko mulai kembali bertanya.
"Sekarang aku mau penjelasan darimu, apa yang terjadi padamu di masa itu?" tanya Eko.
"Terutama bagaimana bisa kau menjelaskan dapat berpaling dariku, padahal kamu berjanji akan setia menungguku?" Eko menyambung pertanyaanya yang bertubi.
Elia mulai tersenyum, ia mulai mengingat kembali masa itu. "Kau tau saat itu aku benar-benar mencintaimu, tidak ada sedikitpun aku berniat untuk berhubungan dengan laki-laki lain, aku hanya tau bahwa aku telah kamu miliki dan aku akan setia menunggumu," ucap Elia, ia sejenak kembali menyalakan sebatang rokoknya.
Elia mulai melanjutkan kembali penjelasannya, "Tapi semuanya berubah saat aku pergi ke pantai itu. Sepulang dari sekolah aku singgah ke pantai untuk melepas penat sesaat. Di pantai itu lah aku menyaksikan Roni sahabatmu sedang menangis di tepi laut, aku spontan penasaran siapa dia, karena dia mengenakan baju batik khas sekolah kami...."
"Saat aku menghampirinya, aku mulai mengingat wajahnya, dan aku tau dia adalah Roni, kakak kelasku yang sedang berduka karena saat itu akulah pengurus osis, jadi aku ikut berkunjung kerumahnya. Hatiku benar-benar merasakan apa yang dia rasakan, di situ lah awal mula aku mulai menyemangatinya agar bangkit dari keterpurukannya..."
"Ia memintaku agar selalu di sampingnya, karena ia tidak memiliki siapa-siapa lagi, aku menyanggupi hal itu karena aku merasa kami hanya sebatas kakak-beradik, kami mulai sangat dekat, aku selalu mengisi harinya sampai perlahan-lahan ia mulai bangkit dari keterpurukannya. Kami selalu bergantian untuk saling berkunjung ke rumah kami. Ayah juga saat itu sangat suka terhadap Roni yang sopan dan memperlakukanku dengan baik. Sampai saat ia tamat sekolah. Roni mengajakku ke pantai disanalah ia mulai mengungkapkan perasaanya..."
"Aku tidak menyangka selama ini Roni memiliki perasaan lebih terhadapku, namun saat itu aku berusaha untuk menolak perasaanya, karena selain aku masih menunggumu aku juga hanya menganggap dia adalah seorang kakak bagiku..."
"Namun perasaanku mulai bimbang saat aku cukup lama terdiam tidak menjawabnya, aku melihat raut wajahnya kembali menunjukkan kesedihan yang mendalam, akhirnya aku mengedapankan rasa kasihan ku padanya dan mengesampingkan rasa cintaku yang benar benar tidak ada sedikitpun kepadanya..."
"Awalnya aku menerimanya menjadi kekasih bukan karena dasar perasaan namun bisa di bilang karena kasihan, mungkin itu memang terdengar kasar, tapi itu lah kenyatannya saat itu. Aku telah bersusah payah agar ia tidak bersedih lagi, dan aku tidak mau kesedihanya terulang kembali. Jadi saat itu menerimanya adalah suatu keharusan dan pengorbanan yang aku lakukan tanpa berpikir bagaimana akibat yang akan terjadi di masa depan," Elia mulai terisak.
Eko mendekat pada Elia mulai menidurkan Elia ke pundaknya, ia mengusap rambutnya pelan. "Jika kau tidak ingin berbicara lagi sudah hentikan, aku mengerti," ucap Eko.
Perlahan ia mulai melanjutkan perkataanya, Eko masih setia mendengar sampai akhir
"Dan perasaan kasihan itu perlahan digantikan dengan perasaan cinta, ya.., saat itu aku benar-benar telah mencintai Roni, mungkin perasaan itu tumbuh karena kami selalu bersama, ia selalu mengantar jemput aku ke sekolah, kami selalu mengunjungi pantai, ia mengajariku untuk merokok dan aku sangat bahagia. Kebahagiaanku bertambah saat ia menyerahkan sebuah cincin dari hasil uang tabunganya kepadaku, ia memberikan itu sebagai tanda janjinya akan menikahiku..."
"Ia mulai semangat bekerja menjadi pelukis yang handal walapun bisa di bilang masih dalam tahap awal sehingga penghasilannya pun masih sedikit tapi aku bahagia melihat semangatnya. Sampai tiba waktunya aku telah tamat Sma, dan dia menunaikan janjinya. Roni datang menemui Papa untuk melamarku, tapi Papa menolak mentah-mentah lamaran Roni, Papa berdalih aku masih harus kuliah dan bahkan mulai meminta Roni untuk menjauhiku karena Papa merasa Roni tidak memiliki masa depan yang cerah tidak akan mampu menghidupiku..."
"Roni benar-benar terpukul saat itu, ia mulai kembali terjerumus ke dalam obat-obatan terlarang. Pelan-pelan aku kembali meyemangatinya lagi, aku berjanji akan selalu setia bersamanya, aku sudah sangat yakin bahwa dia adalah cintaku satu-satunya. Perlahan dia kembali bangkit walaupun sepenuhnya belum lepas dari obat-obatan itu, kami selalu bertengkar karena hal itu. Aku mulai lelah, aku yang selalu berusaha membahagiakannya sampai aku lupa, aku juga butuh bahagia..."
"Sampai tiba pada hari itu, Roni mengatakan akan mengenalkan sahabat terbaiknya padaku, dan sahabat baiknya adalah kamu Eko!!"
"Setelah sekian lama, aku melihatmu kembali untuk pertama kalinya, perasaan itu tumbuh kembali, namun di pertemuan pertama itu juga, kau memintaku untuk melupakan semua kenangan kita, kau mengatakan akan menikah dengan wanita lain, hatiku sangat sakitt Eko!" Elia menangis sejadi-jadinya.
"Tapi mendengar alasan yang kau katakan barusan, aku mengerti kau memang harus melakukan hal itu, kau orang yang sangat memikirkan kebahagiaan sahabatmu," sambung Elia terisak.
Eko tak kuasa melihat tangisan Elia. Ia segera memeluk Elia, "Sudah jangan cerita itu lagi, semua sudah cukup," bisik Eko di telinga Elia.
Elia menangis di dalam pelukan Eko. Burung-burung tiba-tiba datang bergerombolan menghinggapi teras hotel mulai berkicau bersama seakan prihatin menyaksikan kedua insan yang baik hati, yang selalu mengedapankan kebahagiaan orang lain tanpa mereka sadari bahwa mereka juga membutuhkan kebahagiaan itu.