
Happy Reading..
Pagi hari mulai kembali tiba seperti biasanya, Roni telah sadar dari bunga tidurnya, menatap Elia yang masih terlelap. Perlahan manatap wajah Elia, "Sekarang kamu telah resmi menjadi milikku," gumam Roni sambil mengusap Pipi Elia dengan lembut.
Sembari mengusap, Roni juga perlahan mulai mencium seluruh bagian wajah Elia. Dan Elia kemudian tersadar atas perlakuan Roni, "Sayang," Ucap Elia tersenyum.
Roni membalas senyuman Elia, dan kemudian melanjutkan kembalu ciumanya, menelusuri seluruh wajah Elia. Nafas Elia mulai memburu dan tetpancing dengan perlakuan Roni. Kemudian akhirnya mereka melakukan malam pertama yang tertunda.
Di pagi hari itu juga, Ayah Elia telah selesai dengan persiapannya, saat ia mengetuk kamar Elia dan Roni namun tidak ada jawaban, ia mengerti bahwa mereka adalah seorang pengantin baru. Ia akhirnya memilih tidak mengganggu mereka dan meninggalkan pesan melalui ponsel bahwa ia akan kembali ke Indonesia.
Saat di dalam perjalanan, pikiran Ayah Elia bimbang, antara menghubungi Salsa dan memberitahu yang terjadi, atau membiarkanya mengetahuinya sendiri cepat atau lambat.
Lama ia menatap kartu nama Salsa, "Dilihat dari kartu nama ini, sepertinya bisnis dari Salsa berjalan dengan baik, dia wanita yang mandiri," gumam Ayah Elia.
Kemudian tanpa pikir panjang akhirnya ia menghubungi nomor yang tertera di kartu nama Salsa, dan tidak lama ia mendapat jawaban dari Salsa.
"Pak putar balik, tolong antarkan saya ke Cafe XX, saya ada urusan sebentar!" perintah Ayah Elia.
Kendaraan yang ia tumpangi kemudian memutar arah dan menuju tempat yang diminta Ayah Elia.
Ayah Elia telah tiba dan memasuki cafe tersebut, Salsa dari kejauhan melambaikan tangan, Ayah Elia tersenyum dan melangkah menuju meja Salsa.
"Kamu sudah menunggu lama?" Tanya Ayah Elia mengulurkan tanganya.
Salsa menyambut uluran tangan Ayah Elia, "Tidak saya juga baru sampai, Tuan."
"Panggil saya Pa, jangan tuan," ucap Ayah Elia.
"Baik, Pa." jawab Salsa tersenyum.
"Jadi Papa hari ini akan kembali?" Tanya Salsa membuka percakapan.
Pelayan cafe kemudian datang membawa daftar menu, namun Ayah Elia menolak, ia berdalih hanya sebentar di cafe ini.
Papa Elia kemudian kembali menoleh Salsa, "Saya tidak bisa lama, saya harus segera ke bandara," ucap Ayah Elia.
Salsa mengangguk tanda mengerti.
"Salsa, apa kamu mengenal siapa yang menikah di acara semalam?" Tanya Papa Eko.
"Tidak Pa, yang saya tau yang meminta kami untuk mengurus acara itu atas Nama Roni, apa Papa mengenalnya, kenapa Papa bisa ada disana?" Tanya Salsa.
"Apa kamu tidak tau Roni? Sahabat kecil Eko kakakmu?" Tanya Papa Elia.
Salsa berusaha meningatnya, "Oh iya Pa, Salsa ingat, Oh jadi dia yang menikah, tapi kenapa Kak Eko tidak ada di acara situ?" tanya Salsa bingung.
"Roni sebenarnya mau sahabatnya Eko hadir, tapi istrinya tidak ingin Eko ada disana," jawab Papa Elia.
"Kenapa begitu, apa Kak Eko ada masalah dengan istrinya?" Salsa semakin penasaran.
"Cepat atau lambat kamu pasti mengetahui semuanya, tapi yang jelas saat ini yang menikah dengan Roni adalah Elia mantan istri Eko," ucap Papa Elia.
Salsa terkejut bukan main mendengar ucapan Ayah Elia, "Jadi.. Papa hadir di acara itu karena yang menikah Elia anak Papa?" Tanya Salsa.
"Ya, mereka menikah setelah Eko menceraikan Elia," jawab Papa Elia.
"Itu semua keinginan Kakakmu Eko, dan hal ini sudah lama mereka rencanakan," jawab Ayah Elia.
Salsa semakin kebingungan, "Maksudnya Pa.. Apa yang mereka rencakan, aku jadi bingung," ucap Salsa.
"Intinya Eko dan Elia menikah saat itu karena atas dasar keterpaksaan, aku pernah mengancam Elia akan aku nikahkan dengan orang lain jika tidak dengan Eko.."
"Akhirnya Eko menikah dengan Elia agar Elia tidak menikah dengan orang lain, dan setelah itu mereka bercerai dan Elia akan menikah dengan Roni jika sudah sukses, dan sekarang mereka menikah, aku tidak tau harus apa, yang pasti aku ingin melihat Elia bahagia, aku tidak bisa memaksakan kehendakku, kuharap kamu mengerti," ucap Ayah Elia.
Salsa hanya terdiam sejenak mencerna perkataan Ayah Elia. "Jadi sebenarnya Kak Eko tidak mencintai Kak Elia?"
"Aku tidak tau pasti, aku sebenarnya merasa Eko mencintai Elia, tapi ini semua adalah ke inginannya, aku tidak mengerti jalan pikiranya, yang pasti ia sangat setia dengan sahabatnya Roni," ucap Ayah Elia.
Salsa sejenak mengingat Kakanya, dan ia mengingat kembali kisah kelam kakak yang ia sayangi, meskipun mereka tidak begitu akrab sebagai saudara kandung.
"Ayah tau Kak Eko setiap malam akan bisa terelap jika kepalanya di usap?" Tanya Salsa.
Ayah Elia berpikir sesaat, "Ya.. Saya tau, kenapa?"
"Sebenarnya ini adalah rahasia keluarga kami, tapi aku rasa Ayah harus mengetahui ini..."
Namun ucapan Salsa terhenti saat supir yang mengantar Ayah Elia menyela pembicaraan mereka.
"Maaf Tuan, sebentar lagi pesawat akan berangkat," ucap supir tersebut.
"Oh, iya, kita berangkat sekarang," balas Ayah Elia.
"Salsa, aku sebenarnya penasaran apa yang ingin kami beritahu, tapi sepertinya aku harus pergi," ucap Ayah Elia.
Salsa berpikir sejenak, "Kita mungkin akan jarang berjumpa lagi, bagaimana jika saya memberitahu Papa melalui pesan?" Tanya Salsa.
"Ide bagus, saya akan menunggu pesanmu, saya akan pergi," ucap Ayah Elia tersenyum kemudian mulai bergegas.
Salsa membalas senyumanya untuk melepas kepergian Ayah Elia, kemudian Salsa juga segera kembali ke apartementnya.
Sesampainya di apartementnya, ia mulai membersihkan diri, melepas kelelahanya karena tidak berhenti saat selesai mengurus acara pernikahan Roni dan Elia ia juga langsung menemui Ayah Elia.
Selesai dengan ritual mandinya, ia menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang empuknya. Pikiranya kembali bimbang, "Apa aku perlu memberitahu ini kepada Ayah Elia," gumamnya.
Setelah membuang keraguanya akhirnya ia mulai mengetik kata demi kata, sebuah rahasia besar dari Kakanya Eko yang selama ini ditutup rapat oleh seluruh keluarganya.
Hingga sampai ia mengeti pada kata terkahir, saat akan menekan tombol mengirim kembali ia meyakinkan dirinya sendiri.
"Ya, aku harus memberitahu ini, mungkin ini penting untuk diketahui Ayah Elia," gumamnya.
Setelah benar-benar yakin kemudian Salsa kemudian menekan tombol terkirim, dan pesannya masuk ke Ayah Elia.
Kemudian ia kembali membayangkan masa kelam kakanya saat itu, sampai kemudian ia tertidur di tengah lamunanya.
"Semoga kak Eko selalu bahagia," gumamnya.
Pesan tersebut telah di terima Ayah Elia, "Nanti saja di rumah," gumam Ayah Elia.