
Pagi hari Eko bangun, kepalanya terasa berat, efek dari obat tidurnya. Ia segera melakukan ritual mandinya, setelah selesai ia melihat belum ada aktivitas lain di dapur ataupun meja makan, "Elia mungkin masih mau menenangkan diri di dalam kamarnya."
Eko segera memasak sendiri Mi goreng untuk sarapannya. Ia memasak untuk dua porsi, setelah selesai sarapan ia meletakkan sarapan untuk Elia sambil meletakan catatan, "Aku sudah berangkat ke kantor banyak pekerjaan yang sudah menumpuk, jangan lupa sarapan sebelum berangkat kuliah!!" tulisnya di catatan tersebut.
Ia segera berangkat ke kantornya, banyak urusan yang harus segera ia selesaikan karena tertunda akibat liburanya bersama Elia di Paris saat itu.
Sampai di kantornya, Eko melihat seorang wanita yang tidak asing berdiri di depan loby perusahaannya. "Ah wanita itu, apalagi yang dia inginkan," ucap Eko melihat Sinta dari kejauhan. Eko sangat berat untuk melanjutkan langkahnya namun entah mengapa ia terus saja melangkah.
Sinta yang mendapat informasi dari orang suruhannya bahwa Eko telah tiba di Jakarta, segera bergegas menuju ke perusahaan Eko, ia menunggu di depan pintu masuk karena tidak mau masuk ke dalam perusahaan akibat kejadian buruk yang dialaminya dengan karyawan Eko saat pertama kali datang kembali ke perusahaan itu.
Wajah Sinta kemudian tersenyum sumringah melihat Eko telah tiba dan mulai mendekatinya. "Hay Tuan Eko Suryo Handoko, lama tidak bertemu, tidak ada yang berubah darimu," ucap Sinta mendekat ke Eko untuk memeluknya.
Namun Eko langsung menolak pelulan dari Sinta. "Memang tidak ada yang berubah dariku, soal aku sangat membenci kamu juga tidak ada yang berubah!!" ucap Eko mendorong pelan Sinta.
Sinta tak menyerah, "Ya dan kau tau cintaku kepadamu juga tidak ada yang berubah, justru aku semakin bernafsu memilikimu," ucap Sinta kembali mendekat ingin memeluk Eko.
Eko kemudian tidak menolak pelukan Sinta. Di dalam pelukannya, Sinta kemudian berbisik kepada Eko "Aku tau apa yang terjadi antara kau dan wanita bernama Elia!!" bisik Sinta.
Eko terkejut mendengar bisikan dari Sinta, kemudian mendorong Sinta dari tubuhnya, "Siapa yang memberitahumu?" tanya Eko menatap tajam Sinta.
Sinta tersenyum sambil mengusap-usap dasi Eko, "Mari kita berbicara di dalam kantormu, aku tidak nyaman dengan mata-mata yang sedari tadi melihat kita," ucap Sinta.
Eko tersadar banyak pasang mata yang memperhatikan mereka sedari tadi. Eko langsung menarik Sinta ke dalam ruangannya, tampak banyak sorot mata yang menatap tajam ke arah Sinta, mereka benar-benar ingat bagaimana kesan buruk Sinta saat pertama kali datang ke perusahaan tempat mereka bekerja.
"Eko, ternyata kau masih belum terlalu mengenalku dari dulu, meskipun perusahan keluargaku tidak sebesar perusahaan keluargamu tapi kau harus tau aku masih bisa melakukan apapun di kota ini. Ya.., mungkin hanya keluargamu dan orang terdekatmu yang tidak bisa ku sentuh, yang lainnya itu sangat mudah bagiku. Apakah kau menyadari itu?" tanya Sinta tersenyum sumringah.
Eko sadar betul dengan perkataan Sinta, kekuasaan keluarga mereka benar-benar berkuasa di kota ini walaupun tetap saja keluarga Eko lah yang lebih berkuasa.
"Baiklah lalu apa maumu? Apa kau berpikir akan mengancamku agar menikahimu lagi seperti dulu? Hah, itu tidak akan terjadi, silahkan saja beritahu hal ini kepada siapapun, aku tidak takut dan tidak akan segan-segan menghancurkan siapapun yang menggangguku!!" ucap Eko.
Mendengar itu Sinta tiba-tiba menangis.
"Hiksss, Eko aku sadar jika kita nantinya kita bersama karena hal keterpaksaan, maka aku tidak akan bahagia bersamamu. Aku ingin kita bersama atas dasar saling mencintai. Aku ingin bahagia bersamamu!!" ucapan Sinta terhenti karena air matanya mulai mengalir deras.
Sinta kemudian berusaha menenangkan diri kemudian melanjutkan perkataanya "Aku memang menghalalkan segala cara untuk mendapatkanmu, tapi aku bukan wanita licik seperti di dalam cerita novel yang melakukan itu karena mengincar materi semata, aku melakukannya karena aku mencintaimu tulus Eko..."
"Jika aku mengincar materi atau agar menjadi orang yang terpandang, aku rasa keluargaku memiliki semua itu meskipun tak sehebat keluargamu tapi setidaknya sudah lebih dari cukup, jadi tolong berikan aku satu kesempatan, tolong kau buka sedikit saja hatimu untukku!" ucap Sinta semakin menangis.
Eko diam membisu melihat Sinta yang menangis, ia tidak tau harus berkata apa.
"Baiklah tolong sekarang kamu pergi, aku akan memikirkannya nanti, pekerjaanku masih banyak, aku akan segera mengabarimu!!" perintah Eko.
"Baiklah aku menunggumu sampai kapanpun, dan satu hal lagi, aku tau kau akan berpisah dengan Elia suatu saat nanti, maka aku bukan pelakor murahan yang berusaha memisahkan kalian. Alasanku mendekatimu karena bisa di bilang kau hanya sedang menikah dengan seorang karena kau ingin membantu mereka," ucap Sinta kemudian pergi meninggalkan Eko sambil berusaha menyeka air matanya.
Eko mentap kepergian Sinta, ia mulai sedikit luluh atas perkataan Sinta tadi, namun pekerjaan yang menumpuk mulai mengalihkan perhatiannya, "Aku akan memikirkannya nanti setelah semua ini selesai," batin Eko kemudian mulai bekerja.