
Eko tidak mau lagi memperpanjangnya dan memilih untuk segera tidur di sofanya karena merasa lelah saat acara tadi.
Namun seperti biasa Eko sangat gelisah dan susah tidur karena tidak ada yang mengusap rambutnya, karena tidak dapat lagi menahannya, akhirnya ia mengambil obat tidurnya.
Saat akan bangkit dari sofa, tanpa ia sadari Elia telah duduk di sampingnya, Elia langsung mengarahkan kepala Eko ke atas pahanya dan mulai mengusap rambut Eko secara lembut, Eko cukup terkejut namun tubuhnya seperti terhipnotis tidak melawan perlakuan dari Elia.
"Aku hanya membantumu tidur, aku tidak tahan melihatmu sangat gelisah, tidurlah mimpi yang indah!" ucap Elia.
Eko berusaha menghilangkan keterkejutannya, "Baiklah, ini tidak akan lama, setelah aku tertidur kau segera pindah ke ranjang dan isitirahat, kau pasti letih," balas Eko.
Elia tidak menjawab, tatapanya kosong namun tanganya tetap aktif mengelus rambut Eko.
Elia kembali mengingat saat itu, saat Ia masih sekolah dasar, dan ia selalu melakukan hal ini kepada seorang jika Ibunya pergi keluar kota untuk bekerja, maka dia yang menggantikannya untuk mengelus rambutnya agar ia bisa tertidur.
Flashback ON
Seorang Tuan kecil menghampiri rumah Elia Kecil di antar oleh supir pribadinya, dan segera memanggil penghuni rumah,
"Om apa Lia ada di dalam, Ibu sedang pergi keluar kota, dan aku tidak bisa tidur jika bukan Lia yang mengusap rambutku," ucap Tuan Kecil tersebut.
"Baik nak, saya akan memanggil Lia, tunggu sebentar," ucap Papa Elia.
Elia yang sedang asik membaca buku ceritanya di dalam kamarnya, sangat merasa terganggu karena ia di perintahkan Ayahnya untuk menemani Tuan Kecil, namun ia tidak berani membantah perintah ayahnya.
Ia segera bergegas keluar dari kamarnya dan segera menemui Tuan kecil tersebut, Tuan Kecil tersenyum sangat senang menyaksikan Elia datang menemuinya.
"Elia, ayo menginap di rumahku, temani aku, aku takut sendiri," pinta Tuan kecil.
"Baik, ayo kita pergi," ucap Elia kecil ketus,
Ia benar-benar merasa Tuan kecil tersebut mengganggu kegiatannya membaca buku ceritanya.
Setelah mereka berpamitan dengan Ayah Elia, mereka segera bergegas ke rumah Tuan kecil tersebut, Papa Elia tentu sangat tidak keberatan dengan hal itu, setiap Tuan Muda itu ingin Elia menemaninya ia tidak pernah sekalipun menolaknya.
Keluarga Tuan Muda tersebut yang selalu membatu dan menguatkanya saat masa-masa terpuruknya di tinggalkan oleh istrinya, ia juga berharap suatu saat mereka bisa hidup bersama sebagai pasangan suami istri.
Karena ia yakin cinta itu bukan hanya sekedar perasaan namun butuh materi dalam mempertahankanya dan tentu saja materi milik keluarga Tuan Muda tidak dapat di tolak, karena keluarga mereka sangat sukses menjalankan bisnis di Kota ini.
Setelah sampai di Rumah Tuan Kecil Mereka langsung menuju ke dalam kamarnya, Tuan kecil mulai tidur di pangkuan Elia kecil dan Elia sesegera mungkin mengusap Rambutnya.
"Apakah kau benar-benar tidak bisa tidur jika tidak ada yang mengusap rambutmu?" tanya Elia jengkel.
"Ya aku tidak bisa, cepat lakukan dengan lembut," ucap Tuan Kecil.
"Lalu mengapa harus aku? Bukankah banyak orang lain di sini selain aku?" tanya Elia.
"Hanya usapanmu yang rasanya sama seperti Ibuku, Tidak ada yang lebih nyaman selain usapan Ibuku dan kamu," jawab Tuan kecil.
"Mengapa aku, kau benar-benar menggangguku anak manja, ini yang terakhir dan setelah itu aku tidak akan mau lagi!!" ucap Elia.
Mendengar Itu, Tuan kecil tersebut bangkit dari pangkuan Elia.
"Lia berjanjilah kau akan melakukanya setiap malam saat Ibuku tidak ada, aku akan memberikan apa yang kau mau, aku akan membelikan kau eskrim yang banyak," ucap Tuan kecil.
"Aku tidak mau es krim!"
"Lalu, kamu mau apa?"
Elia berpikir sejenak, "Aku mau kau membacakan buku ceritaku, agar aku bisa tertidur juga," ucap Elia polos.
"Oke tidak masalah, aku akan memerintahkan Pak supir untuk meminta buku cerita itu kepada ayahmu tunggu sebentar," ucapnya.
Setelah buku diantar oleh supir pribadinya, Tuan Kecil kemudian membacakan buku cerita kepada Elia sementara Elia mengusap Rambut Tuan kecil tersebut sampai mereka tertidur bersama.
Flashback Off