
KHUSUS 21+
"Ya, aku mencintai Eko," jawab Elia.
"Deg," Roni kembali terkerjut mendengar perkataan Elia.
"Aku mencintainya sejak aku kecil, cinta itu sempat pudar saat kami berpisah, dan perlahan aku mencintaimu..."
"Namun cinta itu kembali tumbuh, saat kami terpakasa menikah, hatiku bimbang aku mencintai kalian berdua..."
"Tapi sekarang, Aku sudah yakin, bahwa aku akan mencintaimu tanpa ada keraguan, Eko akan bahagia jika kita menikah, dan kamu akan bahagia jika kita hidup bersama, dan aku akan bahagia melihat kalian berdua bahagia," ucap Elia tersenyum memeluk Roni.
Roni kemudian tunduk di tubuh Elia, "Apa benar Eko bahagia melihat kita bersama?"
"Ya, dia sendiri yang mengatakan kepadaku, dan mungkin saja ia memang sudah tidak mencintaiku lagi," jawab Elia.
"Baik, aku berjanji akan membahagiakan sisa umurmu bersamaku," ucap Roni.
"Baik, aku juga telah yakin, cintaku hanya untukmu seutuhnya," ucap Elia.
"Apakah kamu benar-benar tulus? Atau mungkin karen Eko menolak cintamu?"
"Ya, aku pernah menawarkan cintaku padanya dan dia menolak, alasanya dia akan bahagia jika kita bersama, dan sekarang aku akan mewujudkan kebahagiaanya."
"Tapi kamu jangan berpikir, kamu hanya pilihan kedua saat Eko menolakku, bagaimana pun dia adalah cinta pertamaku, dan sekarang aku sudah melupakanya demi kebahagiaanya, aku akan hidup bahagia denganmu, Roni," ucap Elia.
"Aku tidak tau apakah Eko merelakanmu, agar aku tidak terluka, atau apakah dia memang tidak menginginkanmu lagi," ucap Roni.
"Aku juga tidak mengerti, tapi sekarang lihatlah bagaimana pengorbananya untukmu, untuk kebahagiaan kita, jadi jangan pernah berpikir buruk lagi tentangnya, sekarang sesuai janjimu, bahagiakan aku sampai aku benar-benar lupa dengan Eko kekasih kecilku," ucap Elia kembali.
"Apa benar kamu akan mencintaiku sepenuhnya?" tanya Roni.
"Tentu saja, aku juga mencintamu sama seperti Eko, tapi aku sadar aku tidak bisa memiliki keduanya, bagaimanapun perjuanganmu untuk membahagiakan aku sudah menujukkan bahwa aku tidak perlu ragu untuk memperjuangkan cinta kita, aku berjuang dengan seorang yang memang menginginkanku, sehingga cintaku tidak bertepuk sebelah tangan," ucap Elia.
"Ya aku akan membahagiakanmu semampuku, Elia."
Elia tersenyum mendengar perkataan Roni, "Aku beruntung di cintai oleh mu, maafkan aku sempat berpaling darimu, sekarang cintailah aku sepenuhnya," ucap Elia sambil menatap Roni.
"Apa kamu mau aku cintai sepenuhnya?" tanya Roni tersenyum nakal.
"Ya..." perkataan Elia terhenti
Roni dengan sigap langsung menyambar bibir, cumbuan membara tanda cinta yang seutuhnya. Elia langsung menyambut dengan membalas dengan lihai dan penuh nafsu, lidah mereka saling bergantian bermain di dalam mulut masing-masing.
Roni kemudian mengangkat tubuh Elia menuju kamarnya, meletakkan dengan lembut tubuh ke atas ranjang. Roni kemudian menatap Elia, dibalas dengan senyuman manis oleh Elia.
"Katakan kau mencintaiku," ucap Roni.
"Aku Me..." ucapan Elia tidak selesai, karena Roni langsung saja menyambar kembali bibir mungil Elia, suara kecupan menggema, perlahan Roni mulai melucuti seluruh pembalut tubuh dari Elia.
Elia tidak tinggal diam perlahan juga membuka seluruh pembalut tubuh Roni, sampai keduanya sudah tidak mengenakan sehelai benang pun. Roni kemudian perlahan kembali memainkah lidah lincahnya menelusuri seluruh tubuh Elia.
Elia mengalungkan tanganya ke pundak Roni, dan mencengkramnya dengan keras manahan nikmat atas perlakuan Roni.
Perlahan Roni kemudian mulai melakukan gerakan erotisnya ke area sensitif Elia, "Kamu mencintaiku?" tanya Roni di sela gerakannya.
"Yahh, aku mencintaimu, aku..."
Elia tak kuasa menahan nikmat, mengeratkan kepalan tanganya di atas pembalut kasur yang berusuara mengikuti irama gerakan Roni.
Roni semakin mempercepat gerakanya, "Katakan kau mencintaiku!" ucap Roni lagi.
"Cepat selesaikan, aku akan sampai."
"Hm, aku mencintaimu Ronii, aku... mencintaimu."
Mereka kemudian sampai pada titik puncaknya secara bersamaan. Elia dan Roni kemudian tertidur saling berdekapan.
"Ayo tidur, mulai hari ini aku akan membahagiankanmu," ucap Roni.
"Yah, aku juga akan mulai mencintaimu sepenuhnya," balas Elia tersenyum.
Sampai kemudian, keduanya terlelap setelah menyelesaikan pertempuran birahi yang membara.
***
Di villa pribadi milik Eko
"Ambilkan aku minuman, aku membutuhkan itu saat ini," ucap Eko duduk di atas sofa panjangnya.
"Apa kau mendengarku?" Suara Eko mengeras.
Tasya terkejut dan langsung menuju kulkas mengambil minuman untuk Eko.
Eko langsung meneguk satu gelas minuman tersebut, "Huh bagaimana ini, mengapa semuanya menjadi rumit, aku terlalu memikirkan seluruh perasaan orang sampai sekarang beban terbesarnya hanya aku yang menanggungnya sendiri," ucap Eko sendiri.
Eko kembali menuang minumanya ke gelasnya, Tasya semakin panik karena takut Eko akan tidak sadarkan diri.
Saat Eko akan meneguk kembali minumanya, Tasya kemudian langsung melangkah mendekati Eko dan memeluk. Gelas Eko jatuh dan pecah ke lantai, Eko kaget "Hey, apa yang kamu lakukan?" Tanya Eko kebingungan.
"Bos, jangan minum lagi, aku takut," ucap Tasya panik sambil mengeratkan pelukannya.
Eko kebingungan, "Kenapa dia takut," pikir Eko.
"Aku takut, nanti bos tidak sadarkan diri, dan bos bisa khilaf lagi seperti waktu itu," ucap Tasya sambil terus memeluk Eko.
Eko kemudian tertawa geli melihat Tasya yang ketakutan, " Tasya jangan takut."
Eko berusaha melepas pelukan Tasya, namun Tasya justru semakin mengeratkan pelukaanya, "Tasya... Ayolah, aku hanya minum sedikit, aku membutuhkanya, aku tidak akan sampai lepas kendali."
"Tidak... Aku tidak akan melepasnya sampai bos berjanji tidak akan minum lagi," lagi-lagi Tasya mengeratkan pelukannya.
Eko kemudian tersenyum, "Baiklah, silahkan saja peluk aku, justru pelukan ini merangsangku," ucap Eko tersenyum.
Tasya terkejut dan melepas pelukannya, ia kemudian berdiri memalingkan muka dari tatapan Eko, mukanya merah merona.
Eko kemudian tersenyum kembali, dan berdiri mengambil minuman di atas mejanya kemudian melangkah. Tasya benar-benar panik, "Dasar lelaki nafsuan, aku akan kabur jika saja kamu macam-macam denganku lagi," gumam Tasya.
Eko kemudian kembali ke sofa nya mendekati Tasya, Eko kemudian membuka kemeja birunya, seketika itu Tasya panik
"Sialan..." Ucap Tasya sambil menutup matanya.
Eko kemudian mendekati Tasya dan menggenggam erat tangan Tasya yang dipergunakan untuk menutup matanya.
Tasya kemudian panik, matanya menunduk tidak berani menatap wajah Eko.
"Tasya, jangan takut, tenanglah aku tidak akan melakukan apapun kepadamu... Tatap aku!!" Ucap Eko.
Tasya kemudian menatap Eko, muka yang panik dan merona tampak di tatapan Eko
"Haha, kau benar-benar takut denganku? Bagaimana mungkin kau akan bertahan lama menjadi seketaris pribadiku?" tanya Eko.
Tasya hanya diam membisu, mukanya semakin merona melihat otot Eko yang atletis, Eko hanya tersenyum melihat Tasya yang menurutnya sangat menggemaskan
"Tasya tenanglah, saat itu aku benar-benar khilaf, aku bukan seorang maniak, aku hanya akan melakukannya dengan orang yang memang aku cintai dan tentu saja ia juga mencintaiku, ayolah jangan takut," ucap Eko menenangkan Tasya.
Perlahan Tasya kemudian menatap dalam wajah Eko, "Apa aku bisa mempercayaimu?" Tanya Tasya ragu-ragu.
"Percayalah," Eko menatap Tasya dengan serius.
Tasya kemudian perlahan mulai tenang, "Baik bos, aku percaya," ucapnya.
Eko kemudian tersenyum, "Baiklah, karena kamu melarangku untuk minum maka sebagai gantinya kamu harus menemaniku berbicara sampai aku tertidur," ucap Eko kemudian perlahan tidur di atas pangkuan Tasya.
Tasya masih terdiam, "Ayo usap rambutku, apa sekarang kamu juga tidak mau mengusap rambutku?" Ucap Eko.
"Bisakah kamu memakai baju dulu, Bos?" Tanya Tasya ragu-ragu.
"Huh, ambilkan bajuku di lemari!" perintah Eko.
Tasya langsung beranjak dari sofa, menuju lemari, "Ayo Tasya, dia sudah mengatakan tidak akan macam-macam denganmu, percayalah tapi harus tetap waspada, laki-laki selalu tidak konsisten dengan ucapanya," gumam Tasya.
Tasya kemudian kembali ke Eko dengan membawa kaos, "Ini bajunya, Bos."
"Pakaikan!" Eko berdiri di hadapan Tasya.
Tasya kemudian memakaikan baju Eko, godaan tubuh atletis Eko membuat wajah Tasya merona, Eko tersenyum melihat Tasya yang menggemaskan.
Tasya kemudian duduk di atas sofa, di ikuti Eko yang tidur di atas pangkuannya.
"Apakah kau sudah siap mendengar curhatanku? Ini akan lama, jika kamu bosan, katakan!" Ucap Eko.
Tasya hanya diam, mulai mengusap rambut legam Eko.
****
Bersambung, Like & Koment!!