Your Heart Is Only Mine

Your Heart Is Only Mine
Episode 74


"Baiklah, karna nona memilih yang pertama itu artinya nona dilarang datang kerestoran ini selama menjalani hukuman. Dan untuk yang lain juga dilarang menemui nona Hana dirumah sakit dengan janjian, kalau itu terjadi maka hukuman untuk nona Hana diperpanjang. " sahut Kinan membuat yang lain menganga.


"Lah kok gitu, berarti kalau ngak sengaja ketemu gimana? " tanya Venus dan menatap Kinan.


"Hmm ya gak papa, kan gak janjian ketemunya tapi jangan keseringan aja dibuat ngak sengaja. " jawab Kinan membuat Rafi tersenyum geli.


(Ahh sial, rencana gue ketahuan. ) batin Rafi kesal dan menggaruk tekuknya yang tak gatal.


"Nan bisa ngak kasi waktu untuk buat Hana bersama ama aku dan yang lain, apalagi si Rafi tuh harus jauh? " tanya Venus sambil memohon membuat yang lain mengangguk.


"Lah siapa yang bilang kalau nona Hana memulai hukuman dari besok, nona Hana masih bisa bersama kalian untuk satu tahun kedepan untuk perluas ilmu kedokteran. Kalau tuan Gilang mau membantu sahabatmu ini aku kasi fulus tiga puluh juta selama setahun gimana? " tanya Kinan hampir membuat Gilang tersedak.


"Wuuihh boleh juga tuh, oke deh aku mau bantu Hana ya walaupun gak dibayar juga papa. " jawab Gilang antusias membuat Santri menepuk keningnya.


"Kak Kinan kasi cuma segitu, aku mau kasi lima puluh buat tuan Gilang. " sahut Gendis membuat Hana berlalu meninggalkan keduanya untuk berberes.


MALAM PUN DATANG...


Dikediaman Rayen...


Icha dan Arkya menginap dirumah Rayen sampai satu bulan kedepan, Icha juga ingin mewariskan jas kedokterannya pada Hana.


"Oma, Hana kan bisa beli jas sendiri nanti, ngak perlu dikasi juga kan. " sahut Rafa dan duduk berhadapan dengan Icha.


"Ya gak papa dong, kan oma udah pensiun dari rumah sakit dari pada dibuang mending kasi ke Hana. " balas Icha dan minun air setelah berdoa.


"Liat besok aja Hana mau apa ngak terima jas dari kakak. " sahut Bintang dan duduk disamping Rayen.


"Selamat makan. " ucap Arkya dan diikuti yang lain, Rafi berniat ingin mengajak Hana jalan-jalan.


"Emm oppa masih bisa baca kata hati orang kita sayang ngak? " tanya Rafa mrmbuat Arkya menatap Rafa.


"Emm masih tapi jarang. " jawab Arkya singkat dan melanjutkan makannya lagi.


"Ntahlah oppa juga kurang paham, sayang apa Byakugan masih buat ramuan herbal? " tanya Arkya yang panjang dan Icha menganguk sambil mengunyah makanan.


"Emm ngak tau, ntar aku bakalan coba telfon. " jawab Icha dan minum airnya, Rayen dan yang lain pun menyelesaikan makanan.


Setelah makan malam Rayen dan para cowok memilih untuk duduk diruang tamu, Rafi duduk lesehan disamping Rafa.


"Yen kenapa belum kirim Rafi kelondon? " tanya Arkya dan menatap Rayen.


"Emm biaya masih kurang bang, dan masih ada yang kurang tapi aku ngak tau itu apa. " jawab Rayen membuat Rafi melirik Arkya dan Rayen.


"Pakek kartu Gold macan putih untuk keperluan Rafi, dan perusahaan sedang diambil alih oleh musuh kita Rayen. " ucap Arkya dan menatap Rayen.


"Emm boleh Rafa kasi saran oppa? " tanya Rafa dan Rafi memasang telinganya untuk mendengarkan kata-kata Rafa.


"Katakanlah. " jawab Arkya singkat dan Rafa menghela nafas sambil menatap Arkya.


"Dari pada mempertahankan perusahaan yang hampir gulung tikar, mendingan oppa jual aja dengan harga pantastis. Terus ayah sana oppa bikin yang baru sambil nunggu Fi lulus kuliah dilondon, untuk modelnya biar Fa aja yang gambar kalau udah jadi. " saran Rafa membuat Arkya dan Rayen saling pandang.


"Setuju, ntar oppa telfon kolega bisnis oppa untuk batalkan kontrak dengan perusahaan yang lama dan rekrut karyawan yang baru. "sahut Rafi dan tersenyum sambil menatap yang lainnya.


"Gimana menurutmu Hemster? " tanya Arkya pada Icha yang baru datang dan duduk disamping Arkya.


"Hmm ya boleh juga si, aku juga mau liat hasil gambar Rafa. " jawab Icha membuat Rafa tersenyum.


"Berarti besok Fa harus beli kertas karton. " ucap Rafa dan kembali memainkan ponselnya.


Rafi dan Rafa memainkan ponselnya, Rayen dan Arkya memikirkan tentang Rafi yang akan dikirim ke london dan berniat mengajak Gilang.


Bersambung....