Your Heart Is Only Mine

Your Heart Is Only Mine
Episode 39


"Iya paham." sahut yang lain, Santri salim tangan dengan Gilang dan Gilang juga mencium kening serta pipi Santri.


"Kenapa nggak lo habis sama gelasnya langsung belut? " tanya Rafi dan meledek Hana yang baru sadar.


"Lo pikir gue master Limbad apa yang bisa makan beling. " sewot Hana lirih, Bintang langsung menabok lengan sang anak.


"Baru ketemu udah perang aja, giliran gak ketemu gak mau senyum. " sahut Venus dan Rafi duduk disamping kaki kiri Hana.


"Han kenapa baru sadar sekarang? " tanya Rafa dan menatap Rafi yang memijit kaki Hana.


"Pengen liat galon gue galau lagi. " jawab Hana dan Rafi langsung menarik Hana kedalam dekapannya.


(Mampus, jantung gue mau copot. Galon moga lo ngak denger detak jantung gue.) batin Hana dan tersenyum, Rafi melepaskan pelukannya.


"Asal lo tau Han, dia denger lo koma langsung ngak mau makan. " Adi Galang mendapat pelototan dari Rafi.


"Dan dia nginep di rumah sakit buat jagain lo. " sahut Venus membuat Rafi malu.


"Cie galon khawatir ama gue. " ledek Hana dan menoel-noel pipi Rafi.


"Salah gue khawatir ama lo? Ya kan, gue pengen disaat Lo sadar. Orang pertama kali lo liat itu gue," tanya Rafi dan Hana kembali berbaring.


"Gue seneng lo perhatian ama gue sebagai sahabat lo. " ucap Hana dan berbaring kembali.


(Gue pengennya lebih dari sahabat belut.) batin Rafi dan menatap infus Hana.


"Oh ya Fi, meeting kelas baru selesai berapa? " tanya Gilang yang duduk disamping Santri, tangan Rafi berjalan ingin menggenggam jari Hana.


"Baru tiga, besok Lo harus dateng dan besok juga ada lomba lari. " jawab Rafi dan melirik jarinya yang memegang jari tengah Hana.


"Terus Hana gimana? " tanya Gilang yang enggan meninggalkan Hana yang baru sadar.


"Ngak papa, kan ada dokter Kinara lo bisa masuk aja. " sahut Rafa dan Kinara mengangguk.


Hana turun dari ranjang dengan perlahan, dan Rafi langsung memegang Hana agar tak jatuh. Rafi langsung menggendong Hana bridal style menuju kamar mandi, dan mendudukkan Hana dicloset duduk lalu keluar kamar mandi.


(Galon, kenapa perhatian lo lebih dari seorang sahabat? ) batin Hana bimbang dan melaksanakan ritualnya.


"Beda apanya? Perasaan sama aja menurut gue. " balas Rafi dan menatap yang lain.


"Itu menurut lo, tapi beda ama kita dan Hana dan mendingan lo jujur aja ama Hana atas perasaan lo buat dia. " sahut Venus dan diangguki yang lain.


"Gue belum siap buat jujur, dan mungkin nunggu kita sukses dulu. " balas Rafi dan Damar menepuk lengan atas Rafi, yang menunduk.


"Gini bilang dulu perasaan lo ke Hana, tunggu Hana jawab jujur kalau Hana nolak lo tanya alasannya. " saran Damar dan Rafi menatap Damar yang disampingnya.


"Gue setuju ama om Damar. " sahut Rafa mendukung Rafi untuk jujur dan Hana keluar dari kamar mandi lebih segar, serta rambutnya digulung keatas dengan handung.


"Ahh segernya. " ucap Hana dan memakai baju pasien yang baru.


"Sini Han tante bantu keringin rambutmu. " sahut Bintang dan Hana langsung menghampiri Bintang yang sudah membawa sisir dan pengering rambut.


"Emm dok saya permisi dulu ya mau cek pasien yang lain. " pamit suster pendamping Gilang.


"Oh ya udah, Hana juga baik-baik saja dan aktifkan Ac diruanganku. " balas Gilang sambil melepaskan jas kedokterannya, dan suster mengangguk.


"Baik dok, ada lagi? " tanya suster dan Gilang bangkit lalu membuka laci yang disamping brangkar Hana, lalu menyodorkan ke susternya.


"Berkas ini kasi sama dokter Vitra yang spealis kanker, suruh baca dulu baru tanda tangan kalau sudah taruh dilaci ruangan saya. " jawab Gilang dan suster pun meraih berkas lalu mengangguk.


"Baik dok, semuanya saya permisi dulu. " ucap suster lalu keluar kamar rawat Hana.


...Yeay.... Yeaay.......


...Lalu kau datang.......


...Tiba-tiba......


... Kau tanya aku mengapa.......


Rambut Hana selesai dikeringkan lalu dikepang satu agar mempermudah, Rafi langsung menghampiri Hana dan menarik Hana agar berdiri disamping ranjang. Hana sendiri bingung dengan tingkah Rafi, yang tiba-tiba mencium tangan Hana.


Bersambung....