
SIANG PUN DATANG...
Masih direstoran....
Rafi menunggu dengan gelisah karena Hana belum kembali juga sampai saat makan siang, yang lain juga khawatir dengan keadaan Hana yang tak memberi kabar.
"Astaga, tuh bocah kemana sih? Dia tersesat apa gimana? " tanya Gilang dan perasaannya gelisah.
"Lu doain temen yang baik napa, bikin orang makin gelisah aja. " jawab Rafi sambil kesal dengan Gilang.
"Udah jangan debat, An lo kemana sih buruan balik kita khawatir. " sahut Venus dan khawatir.
"Fi lo coba lo telfon dah sapa tau bisa. " ucap Galih dan memegang kameranya.
"Gimana sih lo, kan Belut gue kehutan foto grafer Galih. " sewot Rafi dan duduk didepan kasir.
Seorang gadis mendorong pintu masuk restoran, membuat semua menoleh arah pintu dengan penasaran.
"Hay gaes sorry ya, kalau gue lama banget datang. " sahutnya dengan senyuman hangat.
"Belut lo cantik banget sumpah. " puji Rafi dan diangguki yang lain.
Hana memakai kemeja biru langit, dan rok warna cream seatas lutut. Tak lupa memakai sepatu dan kaus sampai dimata kaki, memperlihat body Hana yang aduhai.
"Makasi galon, kan hari ini hari spesial Santri jadi gue turutin kemauannya. " Balas Hana dan mendapat pelukan hangat dari Santri, Gilang juga datang dengan baju jas hitam tak lupa ********** kemeja putih dan mencium tangan orang tuanya.
"Selamat ulang tahun yang kedua puluh sayangku. " sahut Gilang dan Santri langsung menatap Gilang.
"Jadi kau ngak lupa sama ulang tahunku? " tanya Santri dan Gilang mengeluarkan kotak kecil sebagai hadiah diikuti yang lain.
"Ya enggaklah sayangku, ini aku punya sesuatu. " jawab Gilang dan Santri menerima kado dari Gilang.
"San, selamet ulang tahun ya moga banyak rejeki dan jodoh ama dokter Gilang. Ini kado buat lo ya moga elo suka. " sahut Galih dan Rani menyerahkan kado untuk sahabatnya.
"Makasi ya gaes, meski gak meriah tapi gue seneng banget kok lo semua inget hari ini. " balas Santri dan menangis bahagia.
Bintang dan Keyla membawa kue ulang tahun, untuk Santri dan meletakkannya dimeja dan yang lain mendekat.
"Makasi banyak Tante. " ucap Santri dan mendekat.
"Berdoa dulu baru tiup lilin. " balas Galih dan meletakkan kadonya disamping kue.
Santri mengandahkan tangannya keatas untuk berdoa, lalu meniup lilin yang dinyalakan tadi diiringi tepuk tangan yang lain.
"Ye sohib gue udah genap umur dua puluh tahun. " sahut Galang dan meletakkan kadonya di atas kado Galih.
"Makasi ya Lang. " balas Santri dan tersenyum, Rafa melihat wajah Hana yang masih memar dibagian pelipisnya dan keningnya.
"Yuk pada makan siang, biar gak perih perutnya. " ajak Hani dan menarik yang lain untuk duduk.
Mereka pun makan dengan tenang dan saling suapi pasangan masing-masing, Hani dan Rani memperhatikan wajah Hana yang terlihat memar di setiap inci wajah Hana.
"Han tugas lo udah kelar? " tanya Venus dan minum jusnya.
"Udah kelar kok, habis dari hutan gue balik ke asrama makanya lama. Kenapa? " tanya Hana balik dan menyimpan sendok.
"Itu wajah lo masih ada yang biru. " jawab Venus dan menunjuk wajah Hana yang masih bengkak.
"Udah ngak sakit kok. " ucap Hana dan menyentuh ujung bibirnya.
Rayen datang dengan baskom kecil serta handuk untuk mengompres luka Hana, dan meletakkan dihadapan Rafi yang sudah selesai makan.
"Makasi ayah maaf ngerepotin. " sahut Rafi dan mengambil handuk kecil yang sudah dikeringkan, lalu mengarah kepelipis Hana.
"Auww, dingin galon. " ucap Hana dan memegang tangan Rafi dan membuat keduanya saling tatap.
(Apa gue sanggup jauh dari mata teduh lo galon.) batin Hana dan tersipu.
"Biar cepet sembuh belut, emang disana lawan preman apa gimana ape ini wajah babak belur. " sewot Rafi dan menekan luka Hana.
"Ya awal pulang dari hutan sih gue ngak kayak gini, tapi pulangnya gue nolong ibu-ibu yang mau dijambret premannya tiga orang ya udah gue sikat aja. " balas Hana dan yang lain geleng-geleng mendengar cerita Hana.
Bersambung.....