Your Heart Is Only Mine

Your Heart Is Only Mine
Episode 47


"Ya udah gue kerumah sakit ya, sayang aku tugas lagi ya. " pamit Gilang pada Santri, lalu mencium kening Santri.


"Iya sayang, hati-hati jangan ngebut dan jangan ganjen ama pasien. " ucap Santri dan salim tangan Gilang.


Setelah itu Gilang bangkit dan memakai jas kedokterannya, lalu salim tangan dengan Kesya dan Vino setelah itu keluar restoran.


"Calon suami idaman. " ucap Bintang dan Hana serempak, membuat yang lain menatap mereka bergantian.


...Ku ingin selamanya ada disampingmu.......


...Menyanyangi dirimu sampai waktukan......


...Memanggilku direlung sukmamu.......


...Melabuhkan seluruh cintaku......


"Bun jangan mulai deh, kan udah Rafi bilang kalau aku ngak mau kerja dicabang perusahaan oppa Arkya. " sahut Rafi kesal dan masuk kedalam kamar kasir.


Hana mendekati Bintang yang melihat Rafi kesal, Rayen juga menghela nafas melihat sikap keras kepala Rafi.


"Jadi Rafi diminta untuk kerja di perusahaan anak cabang yang ada dibandung Yah? " tanya Rafa yang baru mengerti.


"Iya, ayah merasa disana ada banyak kecurangan. Setelah Rafi lulus ayah ingin dia kuliah bisnis Raf, bukan ayah pilih kasih tapi kan kau ingin jadi arsitek dan Hani sebagai pelukis jadi kalian cocok. " jawab Rayen dan Bintang mengelus lengan Rayen.


"Iya Yah, Rafa ngak ngerasa ayah dan bunda pilih kasih kok. Kan cita-cita Rafi masih belun jelas, jadi apa salahnya kalau dia jadi CEO diperusahaan. " ucap Rafa dan Bintang mengelus kepala Rafa.


"Han kayaknya lo yang cocok buat mujuk Rafi. " sahut Hani dan menatap Hana yang diam.


"Nah lo kok gue, ya Rafa lah kan dia abangnya si galon. " sewot Hana dan memalingkan wajahnya.


"Gue baru tau soal ini Han, pleace lo bujuk Rafi biar dia mau kerja diperusahaan. " ucap Rafa dan Hana menghela nafas tidak ingin egois.


"Ya udah gue yang bujuk si galon, mumpung lagi baik hati gue. " balas Hana dan melihat Rafi keluar dari kamar, lalu duduk dimeja kasir.


"Emm yah Rafi mau kerja diperusahaan dengan dua syarat. " sahut Rafi dan menatap Hana dengan tatapan tak bisa diartikan.


"Bukan ayah, tapi si belut juga harus ikut Rafi kuliah bisnis dan nanti biar dia jadi sekertaris Rafi kalau udah berhasil mengembangkan perusahaan. " jawab Rafi dan Hana langsung memplototinya.


"Emang gue pacar lo yang ikut lo kemana lo mau, gue ogah ikut lo galon. " kesal Hana lalu meraih tasnya tanpa pamit Hana keluar restoran.


MALAM PUN DATANG....


Diasrama...


Hana berbaring sambil memeluk bantal gulingnya, dan memikirkan ucapan Rafi ia juga mengabaikan video dari Kirana. Ponselnya juga dalam mode getar ia tak ingin dinganggu, padahal ia tau ada chat dari Rafi dan yang lain.


Seekor harimau kecil melompat ketempat tidur dan jalan mendekati Hana, lalu duduk dibalik punggung Hana yang diam saja.


"Berantem lagi ama tuan Rafi nona Hana? " tanyanya dan Hana meraih sang harimau lalu berbalik sambil menyimpannya disampingnya.


"He'em. " jawab Hana singkat dan mengelus harimau peliharaannya.


"Bukannya nona dan tuan sering adu mulut? Kenapa sekarang malah seperti kesal? " tanyanya dan menggoyangkan ekornya dibawah.


"Kau tau Gendis, sekarang dia suka seenaknya memintaku untuk jadi sekertarisnya kelak. " jawab Hana dan menatap harimaunya yang diberi nama Gendis.


"Bukankah itu keinginan nona, dan mungkin tuan tak ingin kehilanganmu nona. Aku tau kau juga punya rasa yang sama dengannya, tapi karena terikat aturan nona menolak tuan Rafi bisa disebut overprotektiv. " ucap Gendis dan menatap mata teduh Hana.


"Jadi aku harus gimana? " tanya Hana dan sebenarnya membenarkan ucapan Gendis.


"Sebaiknya nona sampingkan dulu, dan sebaiknya fokus untuk menolong para anak jalanan kasian mereka nona. " jawab Gendis dan Hana berbaring lalu menatap langit-langit kamarnya.


"Ya kau benar Gendis, tidurlah sudah malam. " ucap Hana dan menepuk kepala Gendis.


"Nona apa boleh aku bertemu dengan tuan Rafi? " tanya Gendis dan Hana melirik Gendis dari ujung matanya.


"Nanti aja, kalau dia melihatmu yang ada mereka pingsan. " jawab Hana dan mengambil ponselnya yang dibawah bantal.


Bersambung....