
"Nich buat lo Lang. " sahut Santri dan meletakkan jus dihadapan Gilang yang memeriksa data Hana.
"Makasi Santri cantik gue. " balas Gilang dan menarik tangan Santri untuk duduk, lalu mengaduk jus dan diminunnya.
"Lang kok gue ngak pernah liat lo jalan ama pacar lo? " tanya Santri membuat Vian tersenyum jahil.
"Dia jomblo angkut San. " sahut Vian membuat Gilang menatap tajam sang papah.
"Bukan jomblo pa, tapi single dan belum ada yang cocok ama Gilang papah. " sewot Gilang membuat Galih dan Rafi terbahak mendengar sewotan Gilang.
"Single apa kagak laku? " tanya Santri dan ikut meledek Gilang yang menandatangi berkas tentang Hana.
"Au, ah gelap. Oh ya San kenapa ngak lo aja yang jadi pacar gue, kan lo single jadi pas dong lo jadi calon pacar gue? " tanya Gilang langsung ceplos yang lain menganga mendengar ucapan Gilang.
"Ya gak gitu juga kali, Gilang gue yang ganteng. " jawab Santri dan menoyor kepala Gilang.
"Oi, dari pada lo pada ributin Gilang yang single. Mendingan kalian nyanyi, main gitar atau apalah. " sahut Hana yang sudah selesai makan.
"Bener tuh yang dibilang Hana. " balas Hani yang sudah selesai melukis Rayen dan Bintang yang sedang saling rangkul sambil menyuapi makan siang.
Keyla menatap Hani yang diam saja, lalu melihat gerakan tangan Hani yang dipapan putih. Karna penasaran Keyla jalan mendekati Hani, yang duduk menghadap ke arah Rayen dan Bintang sambil sesekali melirik kearah Rayen yang mencubit pipi Bintang.
"Wah kerennya, buatin tante satu ya Hani. Nanti tante bayar kok. " sahut Keyla yang sudah berdiri disamping Hani.
"Baiklah, karna Hani lagi butuh uang untuk beli cat lagi. Jadi, harganya lima ratus ribu aja. " balas Hani dan mencabut stok kontak.
"Apa kagak kemurahan, lukisan lo itu bagus loh? " tanya Rafa dan memainkan gitarnya.
"Kagak kok, untuk lukisan tante nanti ya dihari minggu berikutnya. " jawab Hani dan menutup papan tulis dengan kain.
"Ya udah enggak papa kok. " ucap Keyla dan tersenyum sambil melihat ke arah mata Hani yang menatap Rafa main gitar.
"Emm Fa ntar gue nebeng ama lo ya. " pinta Hani dan Rafa mengacungkan jempolnya tanda setuju.
"Tiap hari juga gak papa. " sahut Galang dan merangkul bahu Rafa.
MALAM PUN DATANG....
Di kediaman Rayen....
Setelah makan malam Rafa dan Rafi duduk disofa sambil menonton tv, Rayen dan Bintang juga ikut menonton tv Rafa tersenyum saat mengingat senyuman Hani. Yang melayani para pelanggan tadi, dan semua itu tak luput dari pandangan Rafi dan Rayen. Lalu Rafi melirik Rayen yang ternyata melirik dirinya dan tersenyum jahil, tanpa disadari oleh Bintang dan Rafa yang masih tersenyum.
"Yah kayaknya Fi suka sama Hani deh. " sahut Rafi membuat Rafa menatap Rafi begitu juga Bintang.
"Lo yakin naksir Hani Fi, udah bisa move on lo ama mantan lo itu. " balas Rafa ketus membuat Bintang bingung dengan sifat Rafa.
"Udahlah, dan lo harus bantuin gue nembak Hani sebulan lagi. " ucap Rafi memancing Rafa untuk jujur.
"Ayah juga bakalan bantuin. " sahut Rayen dan langsung ditatap tajam Rafa, membuat Bintang terkekeh melihat wajah galak Rafa.
"Emang kenapa kalau Rafi naksir Hani, kan Hani baik, pinter dan lukisannya juga bagus kan mas? " tanya Bintang dan menatap Rayen.
"Iya bener yang dibilang bunda, kau ini kenapa sih larang adekmu nembak Hani? " tanya Rayen dan menatap Rafa yang kesal bukan main.
"Ihh, pokoknya Rafi lo ngak gue kasih restu kalau beneran jadian ama Hani. " jawab Rafa ketus dan beranjak menuju dapur untuk minum.
"Haha, cie abang Rafa ngambek alias cemburu cie. " sorak Rafi dan Rafa datang menjewer telinga Rafi.
"Dasar adek kurang asem, lo sengaja bikin gue cemburu ha. " sewot Rafa dan menatap nyalang sang adik.
"Aduhh, sakit bang. Ya habis elo senyam senyum ngak jelas gitu. " balas Rafi dan Rafa duduk disamping Rafi.
"Salah gue senyum, dari pada elo gak pernah senyum dan sering ketus wek. " ucap Rafa dan Rafi mengambil bantal sofa lalu memukul kearah Rafa.
Bersambung....
Mau aku isi dengan pelakor dan perebut gak? Kalau ada yang mau kimen disini ya...