
"Baru sebesar kepalan tangan Gilang. " jawab Mars dan Gilang menganguk.
"Hmm Gilang punya cara, tapi ini perlu pertimbangan kedua keluarga om dan tante kalau ngak bisa demo keGilang nanti. " ucap Gilang sambil cengar-cengir.
Galih menabok lengan Gilang,"elo jangan bikin gue penasaran pea, cara lo apa bilang dulu baru dirunding oncom. " sahut Galih dan Rani tersenyum sambil mengepel.
"Sabar, gini tante Lintang hamil dulu dan kalau mau lahiran dioperasi sesar biar ngak ikut itu kanker ketubuh bayi. Terus rahim tante diangkat aja biar nyawa tante selamat, gimana om ama tante setuju? " tanya Gilang dan Lintang menatap Gilang.
"Mas aku mau, ngak papa kalau aku ngak punya rahim. Setidaknya kita punya anak dua mas," jawab Lintang dan Mars menatap istrinya.
"Yakin ngak papa, kalau kau ngak bisa hamil untuk seterusnya? " tanya Mars masih ragu dan Gilang tau itu.
"Iya mas, mas masih ingatkan mama minta kita punya anak cewek biar usaha butiknya ada yang lanjutin. " jawab Lintang kekeh dan Bintang melihat Mars masih ragu.
"Stop udah jangan debat, pikirin ini mateng-mateng dan runding dulu. Kalau semua udah setuju, lo berdua langsung kedokter kandungan aja atau ama Gilang langsung. " usul Bintang membuat Mars langsung setuju.
"Ya udah, gue ama Lintang balik duluan ya udah sore soalnya. " pamit Mars dan Bintang serta yang lain mengangguk.
"Tante sabar ya, jangan nangis terus ngak baik loh. " sahut Venus dan mengelus bahu Lintang yang masih nangis.
Mars pun merangkul bahu sang istri dan jalan keluar restoran, Bintang dan Rayen iba melihat kondisi Lintang tiba-tiba....
"Hana.... ! " teriak Rani dan Santri serempak, Gilang juga langsung menghampiri Santri yang memangku kepala Hana.
"Han lo kenapa? " tanya Gilang panik melihat nafas Hana tercekat ditengkorokan.
"Lang bawa kerumah sakit aja pakek mobil gue. " sahut Rafi ikut panik dan langsung menggendong Hana ala bridal steyle.
"Hah, hah, hah. " nafas Hana terputus-putus digendongan Rafi, Gilang dan Rafa mengambil kunci mobil yang dikasir.
"Gue ikut. " pinta Rani dan Gilang menggeleng agar lebih cepat takut terkena macet.
"Ya udah sana cepetan, nanti kita nyusulin lo pada. " balas Galang dan mereka berempat pun berangkat menuju rumah sakit.
Dirumah sakit Bandung...
Mobil Rafi terparkir didepan rumah sakit, para suster langsung mendekat setelah Rafi turun dari mobil dan meletakkan Hana dibrangkar. Gilang dan para suster serta Rafi mendorong bragkar Hana, menuju ruang UGD tangan Rafi terus menggenggam tangan kanan Hana. Rafa lari menyusul Gilang setelah memarkirkan mobil, berangkat Hana masuk ruang UGD tanpa Rafi hanya ada Gilang.
(Belut lo harus bertahan, jangan tinggalin gue. ) batin Rafi dan Rafa mengelus bahu Rafi agar tenang.
"Lo yang tenang dan berdoa moga-moga Hana baik-baik aja Fi. " sahut Galang datang bersama yang lain,serta Rayen sambil lari kecil.
"Sayang aku urus administrasi Hana dulu ya, tenangkan Rafi. " pamit Rayen dan Bintang mengangguk.
"Gimana keadaan Hana Fi? " tanya Bintang dan Rafi menggeleng.
"Masih diperiksa sama dokter bunda. " jawab Rafi dan menatap pintu ruangan.
"Ya udah sabar dulu, mudah-mudahan Hana nggak papa. " sahut Rayen dan Rafi mengangguk, Rafa bersandar ditembok samping pintu ruangan dan dokter seumuran Rayen keluar membuat yang lain langsung menghampiri dokter.
"Gimana keadaan Hana dokter? " tanya Rafa dan Bintang serempak, dan Gilang keluar sambil menutup pintu dengan susternya.
"Nafas Hana sudah stabil, tapi Hana belum melewati masa kritisnya. Dan yang lebih parah lagi kanker Hana sudah membayar jadi harus segera diangkat, atau rahim Hana yang diangkat. " jawab dokter Satria dan menatap yang lain.
"Apa bisa hanya kankernya saja yang diangkat dokter? " tanya Rayen yang sudah kembali dari urus administrasi.
"Dokter Gilang awasi kondisi sahabat anda, saya mau bicara dulu sama dengan pak Rayen dan buk Bintang. " pamit dokter Santria dan Gilang mengangguk.
Bersambung....