
Hana saat ini sudah berdiri diatap rumah sakit, matanya terpejam merasakan angin menerbangkan anak rambutnya yang tergerai dan menajamkan pendengarannya.
"Tolong kami, lepaskan aku mau pulang om. " teriak salah satu anak pengemis jalanan.
Plaakkk...
Salah satu dari yang menculik mereka langsung menampar yang berteriak tadi, hingga sudut bibirnya berdarah membuat Hana langsung mengepalkam tangannya. Ia juga mendengar kegaduhan disekitar rumah sakit seperti orang bertengkar, dan Hana terkejut karna lima anak dibawa paksa oleh preman.
Satu tangan preman masih menyeret tangan anak kecil berusia sepuluh tahun dengan paksa, dengan kilat Hana melepaskan tangan preman lalu memplintirnya kebelakang.
"Arkhhhh sial, siapa kau jangan ikut campur. " emosi sang preman dan berniat menendang perut Hana.
"Itu tidak penting. " sahut Hana dingin setelah berhasil menghindar, dua preman lain langsung menghajar Hana dengan brutal.
Bugggg...
Buagg...
Kraaak...
Satu kali pukulan Hana bisa mengalahkan keduanya, ketiga preman bangkit dan mengeluarkan pisau yang lumayan tajam. Lalu kembali menghajar Hana, semua orang yang disekitar sana histeris melihat Hana entah dari mana datangnya Rafa serta yang lain untuk membantu Hana. Apa lagi Rafi langsung menendang tangan preman yang memengang pisau, membuat Hana terkejut.
"Lo ngak papa? Jangan sok jago kalau tak bisa. " sahut Rafi sedikit emosi.
"Gue bisa dan hanya ingin sendiri, urus yang disini aku harus pergi. " balas Hana dan menendang perut preman hingga jatuh.
"Aaarrrkhhh.. " teriaknya dan memengang perutnya.
Hana langsung lari meninggalkan yang lain, Rafi mengejar Hana yang lari kilat dan Rafi yang memang latihan lari mampu mengejar Hana hingga tempat tujuan.
Di sepanjang perjalanann.....
Hana memilih jalan perlahan dan matanya dengan teliti, memerhatikan trus serta mobil yang lalu lalang. Rafi juga menghentikan larinya lalu menatap Hana yang masih menyamar, dan Hana mengikuti satu truk yang berisi anak jalanan. Rafi mendekati Hana dan menarik tangannya membuat si empu menatap Rafi, truk yang diintai Hana semakin jauh.
"Gara-gara lo itu truk makin jauh, ayo kejar. " sewot Hana dan menarik Rafi untuk mengejar truk, tapi truk itu sudah hilang membuat Hana kesal.
"Lo ya mirip banget amat sahabat gue, yang gak bisa pakek cara lain. " balas Rafi dan Hana menarik tangannya yang dicekal Rafi, lalu melihat truk yang membawa anak-anak pengamen.
"Astaga nich anak gak mikirin dirinya. " kesal Rafi dan menyusul Hana dengan mengambil jalan pintas.
Disebuah gudang tuaa...
Dua mobil truk masuk kedalam gudang dan Hana segera melompat turun, lalu bersembunyi ditempat yang aman kedua supir truk langsung menurunkan semua anak jalanan dengan paksa. Rafi jongkok disamping Hana dan Hana belum sadar dengan kehadiran Rafi, Hana bangkit dan mengikuti semua anak jalanan hingga masuk lebih kedalam gudang.
"Ngapain lo ngikutin gue? " tanya Hana ketus dan sambil mengawasi keadaan sekitar.
"Gue penasaran dan khawatir ama lo. " jawab Rafi dan bersembunyi setelah ditarik Hana.
"Disini bahaya, harusnya lo pulang. " sentak Hana dan Rafi malah menatap penampilan Hana.
"Dan Lo itu cewek, makanya gue nggak mau ninggalin Lo. " sewot Rafi dan Hana yang malas berdebat langsung menghitung jumlah penjaga.
"Penjaganya lumayan ketat ya. " sambung Rafi sambil melihat sekeliling.
"Ayo balik, jangan sampai ketahuan. " ajak Hana lalu menarik tangan Rafi, keduanya langsung lari keluar gudang dengan kilat.
Deg....
Deg....
Deggg...
Jantung Rafi berdetak lebih cepat saat tangannya digenggam oleh gadis bertopeng, perasaannya kembali hadir seperti sedang bersama Hana.
Hana memelankan langkah kakinya disebuah warung makan, Rafi juga terlihat sedikit lelah dan langsung menatap sekeliling.
"Gue laper belum makan dari jam sepuluh, lo mau ikut? " tanya Hana dan melihat kearah Rafi.
"Ikut gue juga belum makan, gue chat ama yang lain biar gak khawatir. " jawab Rafi dan Hana masuk kewarung.
Bersambung....