
"Lo kenapa Fi? Liatin foto Hana gitu amat? " tanya Rafa yang sekarang sekamar dengan Rafi.
"Gue pengen banget ngajakin Hana tunangan, tapi Hana sibuk terus jalanin misi dan gue juga takut bilang ama ayah dan bunda. " jawab Rafi dan Rafa mengelus bahu sang adik yang masih bimbang.
"Saran gue, lo bilang dulu ama ayah dan bunda. Terus lusa baru bilang ama Hana kalau elo ingin berhubungan spesial. " saran Rafa dan Rafi ngangguk setuju dengan saran Rafa.
"Rafa, Rafi makan malam dulu sayang. " teriak Bintang sambil menata makan malam.
"Iya bundaaaa. " balas teriak keduanya dan jalan menuju dapur.
Rayen dan Bintang sudah ada didapur menunggu kedua putranya, yang baru turun dan jalan perlahan setelah itu keduanya duduk berhadapan dengan Rayen.
"Fi kau kenapa kok seperti ada yang dibicarain? " tanya Rayen dan Bintang meletakkan makan malam dihadapan ketiganya.
"Emm ngak ada kok yah, nanti aja kalau udah pas. " jawab Rafi dan mulai makan, diikuti yang lain Bintang tau kalau Rafi ingin menyampaikan sesuatu. Lalu menendang kaki kanan Rafa dan Rafa menatap Bintang yang masih penasaran.
"Fi bilang kalau kau ada keinginan sayang? " tanya Bintang yang sudah sangat penasaran.
"Emm, ngak ada kok Bunda. Rafi udah selesai makan," jawab Rafi dan minum airnya, lalu bangkit menuju kamarnya.
"Fa adik itu kenapa sih? Bikin orang penasaran aja. " sahut Rayen dan minum airnya hingga habis.
Rafa minum airnya hingga tandas, lalu menatap Rayen dan Bintang bergantian. "Menurut ayah bunda Hana sama Hani itu gimana? " tanya Rafa serius membuat Rayen dan Bintang saling pandang.
"Kalau Hani, baik, cantik, pinter lukis, kalau masak Ayah ngak tau. Kan belum coba dan pasti cocok denganmu, itu pendapat ayah sama Hani. " jawab Rayen.
"Kalau bunda, sepakat sama ayah soal penilaian Hani. Untuk Hana sih pinter, baik, jago masak kayak oma Icha. Dan paras Hana ngak terlalu cantik tapi bunda suka, ya walau pun Hana sedikit tomboy cocok kok sama Rafi. " sahut Bintang dan tersenyum.
"Rafi ingin ngajakin Hana tunangan Bun, tapi bunda kan tau kalau Hana sibuk banget ama misinya. " balas Rafa dan menatap Rayen serta Bintang.
"Emm ntar ayah tanya ama tantemu untuk memberi Hana cuti. " sahut Rayen dan Rafa mengangguk.
"Iya ayah, ya udah Rafa mau nonton tv dulu. " balas Rafa lalu bangkit dan menuju ruang tengah.
PAGI PUN DATANG....
Hana, Galang dan Galih menyamar sebagai pembeli ikan ketempat barang haram disebar luaskan secara ilegal. Rafa serta para cewek menuju keduanya direstoran, Gilang juga harus kerumah sakit hal itu membuat Santri menghela nafas.
Dikediaman Rayen...
Rayen berbaring tangannya meraih ponsel untuk melihat jam serta mengechat Kirana yang dijakarta, Bintang terbangun karena tau suaminya sudah bangun.
"Chat siapa mas? " tanya Bintang dan memeluk pinggang Rayen.
"Mas chat Kirana sayang, bicarain keinginan Si bungsu. " jawab Rayen dan tangannya mengelus rambut bintang yang panjang.
OmRayen.
"Rana sudah bangun? "
Send.
^^^Kirana.^^^
^^^Send.^^^
Om Rayen.
"Kau tidak memberi Hana cuti? "
Send.
^^^Kirana.^^^
^^^"Emm belum om untuk saat ini, apa Rafi kesepian kalau Hana jalankan misi om? " ^^^
^^^Send.^^^
OmRayen.
"Tentu saja Rana, sepertinya Hana menyampingkan perasaannya pada Rafi. "
Send.
^^^Kirana.^^^
^^^"Begitu ya, ya udah ntar biar Kirana aja yang bicara sama Hana. " ^^^
^^^Send.^^^
OmRayen.
"Baiklah om tunggu ya Rana. "
Send.
Chat berakhir dan Rayen menyimpan ponselnya dinakas, Bintang mengeratkan pelukannya dan Rayen menatap Bintang tanpa kedip.
"Kenapa liatin aku kayak gitu mas? " tanya Bintang dan menatap wajah tampan Rayen.
Rayen memiringkan tubuhnya menghadap sang istri sambil tersenyum,"kau makin cantik sayang, kau ngak ada niat untuk memiliki anak lagi apa? " tanya Rayen dan Bintang tau kalau suaminya ingin memiliki anak lagi.
"Tergantung mas dan kedua putra kita untuk memiliki adik lagi. " jawab Bintang dan bangun lalu keluar kamar menuju dapur.
Rafa dan Rafi sudah memasak sarapan walau pun hanya nasi goreng ala chef Rafa, tapi mampu menggungah selera yang mencium bau aroma masakan nasi goreng.
Bersambung....