
Buggg...
Rafi dan Hana sama-sama terjatuh karna Rafi yang belum siap, jadinya Hana jatuh diatas tubuh Rafi wajah keduanya cukup dekat berjarak dua centi meter.
Deg...
Deg...
Dan
Cekrek...
(Andai gue bisa milikin lo galon, pasti gue udah terima cinta lo. ) batin Hana dan menatap dalam mata Rafi.
(Belut makin hari lo makin cantik. ) batin Rafi dan Hana segera bangkit dari atas tubuh Rafi.
"Ehmm, dunia milik berdua sisanya ngontrak. " sorak yang lain membuat Rafi dan Hana salah tingkah.
"Elo sih galon, ngak becus nangkep gue. " sewot Hana menghilangkan rasa groginya.
"Kok gue, sapa suruh lo punya badan berat kan gue ngak seimbang nangkep lo. " balas Rafi tak mau kalah.
"Elo ngatain gue berat galon. " ucap Hana dan Rafi sudah lari menuju lapangan putsal, Hana mengejar Rafi membuat yang lain geleng-geleng.
Galih membidik sasarannya dengan kameranya, untuk memotret momen Hana dan Rafi. Ia juga memotret para cewek yang tertawa melihat tingkah laku Hana serta Rafi.
Keduanya mendekat dengan Rafi menggendong Hana sebagai hukumannya, setelah sampai Rafi menurunkan Hana dan mengambil microfon untuk memberi arahan.
"Oke gaes, karena sudah jam sepuluh lewat lima puluh kita semua pulang. Dan untuk yang lomba besok siapkan diri, biar feat untuk bertanding dan menang kalah itu hal biasa yang kita cari itu adalah nilai jangan nongkrong lagi langsung pulang. " sahut Rafi dan mematikan microfon, lalu mengumpulkan nilai yang sudah diambil.
"Lo balik aja, biar gue yang nyimpen ini microfon dan kunci ruang osisnya. " ucap Hana dan diangguki yang lain.
"Lo ngak takut sendirian Han, disini banyak setannya lo. " balas Venus yang ingin menakut-nakuti Hana.
"Gue ngak takut ama setan, lo salah orang nakutin gue dan kalau lo nakutin Hani mungkin langsung pingsan. " ucap Hana dan merampas mic lalu jalan menuju ruang guru.
SIANG PUN DATANG....
Rayen dan para istri melayani pelanggan yang berdatangan, Rafa dan Hani juga membantu membagikan menu keduanya kewalahan Rafi serta yang lain datang kecuali Hana yang datang belakangan.
"O-oh iya benar, ada apa ya? " tanya Bintang tergagap melihat penampilan Biru mengingatkan tentang dirinya dulu.
"Apa aku bisa bicara dengan Rafi? " tanya balik Biru dan tersenyum.
"Bisa, Venus panggilin Rafi ya ada yang nyari. " jawab Bintang dan sedikit teriak.
"Silakan duduk nak. " sahut Kesya dan Biru tersenyum geli karena Bintang serta yang lain terlalu formal.
"Panggil aku Biru, dan tante Kesya serta tante Bintang gak usah formal gitu. " balas Biru dan tersenyum lalu duduk.
"Loh Bi, lo tau resto gue dari mana? " tanya Rafi datang dengan minuman serta cemilan.
"Dari sini. " jawab Biru dan mengeluarkan dompet Rafi membuat yang lain tersenyum geli.
"Elo nyolong dompet adek gue? " tanya Rafa dan langsung digeplak Biru.
"Sembarangan, dari pada gue nyolong dompet mendingan gue sandra orangnya biar ditembus milyaran ama om Rayen. " jawab Biru dan Rayen mencurigai Biru.
"Jadi elo yang namanya Biru, terus lo datang kesini pasti ada sesuatu kan? " tanya Hani dan Biru mengangguk lalu menatap Rafi.
"Ada, dan gue butuh bantuan lo. " jawab Biru dan menatap Rafi.
"Emm soal penculikan kemaren, gue udah ada rencana tapi butuh orang banyak buat bebasin semuanya. " sahut Rafi setelah mengambil kertas karton.
"Emang berapa Fi? " tanya Galang dan membawakan pesanan yang lain.
"Sekitar enam puluh orang, itu pun sebenarnya masih kurang. " jawab Rafi dan Biru melihat rangkaian rencana Rafi yang dikarton.
"Gak masalah, gue paham ama rencana lo. Dan lo bisa kapan mulai membebaskan semuanya? " tanya Biru dan menatap Rafi.
"Lusa aja gimana, soalnya gue masih harus ada meeting kelas selama dua hari. Dan gue serta para cowok juga ikut lo Bi," jawab Rafi dan Biru mengangguk setuju.
"Gue punya sesuatu yang lebih menarik, biar kalian gak sia-sia ikut berpetualang. " ucap Biru dan menyeringai.
"Apa Biru? Kami ingin ini jadi lebih menantang? " tanya Gilang dan Galih serempak, membuat Biru tersenyum.
Bersambung....