
"Lo berlima nyamar jadi pemulung, kalau kalian dipaksa ikut jangan ngelawan. Kalau kalian ngalawab kalian disandra, dan ntar kalau kalian dipisah atau disiksa tekan tombol warna kesukaan kalian. " jawab Biru dan mengeluarkan lima gelang yang sama hanya besa warna.
Para cowok mengambil gelang masing-masing, dan memperhatikan gelang terdapat sebuah alat pecak diantara permata. Rafi ferdiam karena memikirkan Hana yang belum datang, biru dapat melihat itu dari wajah Rafi.
"Lo mikirin Hana Fi? " tanya Venus dan Rafi meraih gelang yang diatas meja.
"Belut pasti marah tau gue ikut misi kayak gini. " jawab Rafi dan memakai gelangnya.
"Dia pasti ngerti, kan lo niatan bantuin dia Fi. " sahut Santri yang sebenarnya takut juga.
"Ya udah Fi, gue pamit ya dan lusa kita ketemu lagi. " pamit Biru dan Rafi mengangguk.
"Hati-hati Bi. " sahut Rani dan Hani, Biru mengangguk lalu keluar restoran.
"Ntar juga dateng tu bocah, mending kita makan siang gue udah laper. " ajak Gilang dan bangkit menuju dapur diikuti yang lain.
"Ayo om Rayen mikirin apa? " tanya Hana yang tiba-tiba didepan Rayen yang melamun.
"Ngak ada, Hana bisa ngak sih jangan bikin om jantungan. Kalau om anfal gimana mau tanggung jawab? " tanya Rayen kesal dengan gadis yang dihadapannya.
"Kalau om anfal terus meninggal, ya tante Bintang jadi jamud atau janda muda beranak dua. Ntar biar Hana yang cariin calon suami," ledek Hana makin menjadi-jadi, membuat yang lain menganga memdengar ucapan Hana.
"Wah bang, ntar kalau Rafi udah bisa milikin Hana jangan restuin biar kapok dia. " kompor Vino dan Hana duduk sambil menatap rencana Rafi.
"Ye om Vino gimana sih, kan om Rayen belum anfal berarti Hana doain om itu panjang umur. " sewot Hana dan Rafi menyumpal mulut Hana dengan kentang.
"Udah jangan berisik, elo makan baru bantuin gue cuci piring. " sahut Rafi membuat Rayen menahan tawa melihat wajah Hana yang cemberut.
"Hmm iya, tapi ngak pakek nyumpal mulut gue juga kali. " sungut Hana dan minum jus milik Rafi.
"Biar ngak ngoceh mulu lo. " ucap Galih dan makan mie pastanya.
Rafi dan yang lain makan dengan tenang, Hana meraih pipet bersamaan dengan Rafi jadinya kedua saling tatap satu sama lain. Galih juga tak tinggal diam ia selalu mengabadikan momen Rafi dan Hana, Gilang menyuapi Santri dan tak meleset dari cepretan Galih.
"Belut lo bilang gue punya kesempatan buat milikin lo, apa kesempatan gue belut? " tanya Rafi dan menggenggam tangan Hana.
"Kesempatan lo itu ngomong langsung ama tante lo lusa, pas dinikahan tante lo jadi gimana lo beranikan galon? " tanya Hana mencolek hidung Rafi membuat si empu terkejut.
"Oke siapa takut, gue bakalan berjuang buat dapetin lo belut. " jawab Rafi dan menarik hidung Hana gemas.
Hana menepis tangan Rafi lalu makan lagi dengan sedikit cepat, Hana mencoba tenang karna setiap perlakuan Rafi membuat jantung Hana berdetak lebih cepat.
(Tenang Han, lo ngak boleh baper ama si galon. ) batin Hana dan menatap Rafi yang makan.
"Lo kenapa liatin Rafi kayak gitu? Ada yang aneh ya Han? " tanya Rafa yang melihat Hana menatap adiknya.
"Emm ngak papa, gue cuma bayangin gimana ya kalau si galon pakek jubah putih. " jawab Hana dan jalan kedapur untuk mencuci piring.
"Apa Hana tau soal kedatangan Biru? " tanya Galang dan melihat kearah dapur.
"Gue rasa kagak sih, kan Hana datang belakangan. " sahut Santri lalu minun jusnya hingga habis.
"Sory gaes, gue harus kerumah sakit dan sory gue gak bisa bantu lo pada cuci piring. " pamit Gilang dan melihat jam yamg melingkar ditangannya.
"Ya udah gak papa, utamakan tugas lo ntar kalau lo lembur biar gue atau Hana nganter cewek lo balik. " balas Venus diangguki yang lain.
"Makasi ya Ve dan sory udah sering ngerepotin lo, yang harusnya nganter Santri malah elo. " ucap Gilang merasa ngak berguna.
"Bang lo itu kebanggaan kita semua, apa lagi Santri bangga banget liat lo udah jadi dokter diusia masih muda. Abang ngak usah berasa ngak berguna," balas Hana dari arah dapur dan menatap Gilang.
Bersambung....