
^^^Rafigalon.^^^
^^^"Gue jemput lo diasrama boleh. " ^^^
^^^Send.^^^
Hanabelut.
"Em boleh dong, daa galon. "
Send.
Chat pun berakhir dengan percakapan Hana dan Rafi yang masih online, tapi menyimak saja Rani menyenggol lengan Hana yang tersenyum.
"Lo naksir Rafi Han? " tanya Rani dan Hana bersandar disofa, lalu melirik Rani dari ujung matanya.
"Iya gue naksir si galon, tapi disisi lain gue ngak boleh jatuh hati sama tujuan misi gue Ran. " jawab Hana dan Rani langsung mebatap Hana.
"Maksudmu apa Hana? " tanya Vino penasaran dan Kesya juga menatap Hana.
"Membuat galon tersenyum, jahil dan tertawa lagi adalah misi Hana yang ditugaskan oleh ketua Kirana. Tapi Hana malah jatuh hati sama dia. " jawab Hana dan tanpa sadar air matanya menetes Rani langsung memeluk Hana.
"Kalau Rafi juga jatuh hati denganmu gimana? " tanya Kesya yang ikut sedih.
"Hana juga bingung tan, dan Hana akan tanyakan ini sama ketua. " jawab Hana dan menghela nafas.
"Ya udah jangan dipikirin, tidur sana udah malem besok kalian sekolah. " sahut Vino dan diangguki Rani dan Hana, mereka pun bangkit dan jalan menuju kanar Rani.
PAGI PUN DATANG....
Dua hari kemudian...
Hana sudah berangkat kemaren sore bersama dengan Kirana dan Yusra, Rafi benar-benar menjemput Hana diasrama disusul yang lain yang ingin melihat Hana berangkat. Dan bahkan Rafi memeluk Hana untuk pertama kalinya, membuat Hana dan yang lain terkejut dengan tindakan Rafi apalagi jantubg Hana berdetak lebih cepat dari biasanya.
Dikediaman Rayen...
...Menatap langit yang'kan menjelang... ...
...Sinarnya yang tak akan pernah hilang.......
...Setelah lewati penantiab panjang.......
...Yang tak berujung dan terus meradang.......
"Mikirin Hana lo? " tanya Rafa setelah menendang kaki Rafi membuat si empu sadar dari lamunannya.
"Iya bang, bang apa gue berhak mencintai belut bang? " tanya Rafi dan menatap langit-langit kamarnya lagi.
"Menurut gue sih berhak aja, tapi kebapa lo bilang ngak berhak? " tanya Rafa dan melirik Rafi dari ujung matanya.
"Entahlah, gue ngerasa makin cinta ama Hana yang sederhana. " jawab Rafi dan memeluk bantal gulingnya.
"Eh, Fi lo beneran cinta sama Hana? " tanya Rafa dan Bintang berhenti didepan kamar putranya.
"Iyalah, gue perang ama belut bukan benci. Malah gue nyuri perhatian dia bang, pasti lu mikir gue benci ama dia. " jawab Rafi membuat Bintang tersenyun ucapan Rafi.
"Lah, lo perang mulu ama dia. Dah gue mau mandi dan keliling komplek. " ucap Rafa dan bangkit, lalu mengambil handuk sambil jalan menuju kamar mandi.
Rafi turun dari kasur dan membuka pintu kamar lalu jalan, menuju dapur dan mendapati Bintang serta Rayen sudah berada didapur. Rayen melirik Rafi yang jalan kayak mayat hidup, Rafa juga turun dengan rapi tak lupa sepatu rodanya ditangan.
...Kini tiba waktu yang dinanti.......
...Sudah lama saling pahami hati.......
...Satu keyakinan memasti.......
...Kau yang s'lama ini ku cari.......
"Pagi yah, bun. " sapa Rafa dan duduk disamping Rafi yang melipat tangannya dimeja.
"Pagi juga jagoan ayah, udah rapi rupanya mau kemana Fa? " tanya Rayen dan Gilang serta Galih datang dari pintu belakang dengan mengendap-endap.
"Mau keliling rencananya, elo berdua jangan coba-coba kagetin bokap gue. " jawab Rafa dan Rayen menoleh kebelakang, dan mendapati Gilang serta Galih.
"Maaf ya om. " sahut kedua dan Gilang menepuk punggung Rafi dan duduk disamping Rafa.
"Santai aja kali, belum dikagetin. " balas Rayen dan Bintang membawa nampan berisi enam susu untuk yang lain.
"Maaf ya tante, jadi ngerepotin deh. " sahut Gilang dan Bintang mengelus kepala Gilang.
"Enggak repot kok, ayo diminum dan kau Fi kenapa gak semangat gitu? " tanya Bintang dan duduk disamping Rayen.
"Enggak ada belut bun, enggak seru lagian kenaoa harus belut sih yang harus ikut sama tante. Kan pasukannya banyak," jawab Rafi kesal membuat sang abang terkekeh.
Bersambung....