
Beberapa hari ini kami selalu bangun kesiangan. Ray menggangguku setiap malam dan juga setiap pagi. Lagi pula dia masih cuti dan kami langsung kabur ke Villa miliknya di kota M. Aku menolak berbulan madu ke Eropa karena di sana sedang musim dingin. Di Indonesia saja sudah sedingin ini kalau hujan.
Pagi itu hujan gerimis, Raymond tampak sibuk dengan laptopnya.Kubuatkan susu hangat untuknya.
“Terimakasih Sayang,bagaimana tidurmu? Oh ya, tadi Papa telfon katanya kita disuruh cepet balik.Banyak Customer dan Clien yang ingin bertemu langsung denganku. Mama juga khawatir kau kelelahan karena di sini tidak ada pembantu, hanya ada penjaga Vila.Bagaimana,Sayang?” tanya Raymond.
Aku memeluk bahunya yang kokoh dan mencium pipinya.
“Iya, ayo pulang.Kita sudah cukup lama bersantai.Aku mau lihat kontrakanku dan memulai membuka florisku,” jawabku.
“Mmm,Sayang.Rumah kontrakan itu sudah aku suruh kontrakkan ke orang lain.Itu terlalu jauh dan aku khawatir dengan kandunganmu,” kata Raymond.
“Apa?”
“DP nya sudah dikembalikan padaku.Aku akan mencarikan tempat lain yang ada di kota.Kau tidak boleh kelelahan OK?” kata Raymond.
“Ya sudah,” jawabku.
“Mobil yang kau beli melalui Bima juga sudah aku lunasi,sudah diantar Bima ke rumah Sayang.Tapi kau tidak boleh nyetir sendiri,itu tidak baik untuk bayimu ya. Aku akan mengantarmu kalau mau belanja atau pergi beli sesuatu.”
“Aku kan bisa naik taksi kalau kau sibuk Ray,” kataku.
“Eee, mana boleh.Mama pasti ngomel bermeter meter. Terus Dani disuruh ngapain kalau kamu pergi naik taksi, nganggur dong mobilnya.”
“Yaà,suruh ngapain gitu.Nyapu kali,” jawabku.
Tiba tiba Ray tertawa ngakak.
“Sekali sekali kita kerjai saja ya suruh nyapu taman.Kira kira gimana ya ekspresinya?” Ray tertawa lagi.
“Jangan, kasihan lah tar dia malu.Baiklah, aku mau beres beres pakaian.Apa kita pulang siang ini atau nanti sore?” tanyaku.
“Aku belum suruh mereka jemput sih, eh ngomong ngomong kau tampak seksi sekali dengan baju ini,” Ray menarikku ke dalam pelukannya.
Aroma maskulin khas sabun mandinya yang sudah cukup kuhafal membuatku tertarik untuk membalas pelukannya.
“Tunggu,tunggu.Kita itu dulu yuk.” Tangan Raymond mulai nakal.
“Aku lapar Ray, mana punya tenaga? Semalem sudah dua kali kan?” malasku tapi membalas sentuhan Raymond.
“Kita pesan makanan di luar, bentar Sayang.”
Ray memainkan gawainya dengan lincah.
“Sudah, ayo ke kamar.”
Tanpa menunggu persetujuan Raymond menggendongku ke kamar kami.
♡♡♡♡♡
Sampai di Mansion kami disambut hangat oleh mama Kinan dan Papa Alvaro.
Mama mencium keningku dan mengelus perutku.
“Mama kangen Maghda,sebenarnya Mama pingin nyusul tapi dilarang sama Papa. Mama kesepian, Papa juga selalu pulang malam. Kerjaan Ray banyak yang dihandle, jadi Mama sendirian di rumah,” kata mama Kinan.
Aku hanya bisa tersenyum karena aku merasa kenapa Mama sekarang suka merengek.
“Iya deh, besok makan pastry yuk Ma.Di Mall XD ada toko pastry yang enaaak,” kataku.
“Eh, sampe mau ngiler Maghda.Iya ayo. Biar para pria yang ada di ruang kerja itu mencari uang.Kita yang habisin.”
Kami berdua tertawa cekikikan.Dalam hati aku merasa sangat bersyukur, karena Mama Kinan adalah mertua sekaligus orang tua angkatku yang lebih sayang padaku daripada Raymond dan George.
Beberapa saat kemudian beberapa orang le luar dari dalam ruangan itu saat aku dan Mama sibuk membuat masakan kesukaan suami masing masing.
Tapi aku merasa sedikit aneh karena ada sepasang mata tajam yang sedang melihat ke arahku.
“Kak George, kapan datang?” teriakku seraya menghambur ke dalam pelukan pria itu.