
Ronal mengangguk sopan dan tersenyum kepadaku, aku hanya sedikit membalas senyumannya.Matanya melihat ke arah kotak makanan yang kubawa.Aku hanya diam dan menyembunyikannya di belakang punggungku.
“Ting,” indikator Lift terbuka dan aku bergegas ke luar. Kulangkahkan kakiku melintasi halaman parkir yang sangat luas di depan gedung pencakar langit Imperium Tower saat suasana yang sangat terik. Aku berdiri di pinggir jalan untuk menyetop taksi. Beberapa saat kemudian sebuah taksi berhenti.
“Taman kota Pak,” kataku. Taksi yang kunaiki melaju ke taman kota.Kupandangi dua kotak makan yang ada di tanganku.
“Sudah sampai nyonya,” kata sopir taksi.Kulihat argo menunjukkan angka sembilan puluh ribu.Kuberikan selembar seratus ribu dan kukatakan padanya untuk mengambil kembaliannya.
Di taman kota ada banyak orang karena sudah memasuki jam istirahat.Di sekitar sini banyak gedung perkantoran dan bagi karyawan yang merasa jenuh pasti menghabiskan waktu istirahatnya di tempat ini.
Aku tertarik untuk duduk di kursi taman yang agak sepi. Perutku juga sudah terasa lapar tapi enggan sekali rasanya membukanya. Kulihat seekor kucing lucu di bawah kursi.
“Pus, apa kau mau menemaniku makan?” tanyaku. Kubuka kotak makanku dan sisanya kutaruh di sebelahku.Kucing itu datang dan mengeluskan kepalanya di kakiku.
Kutaruh kakap panggang pada penutup kotak makanku dan kuberikan kepadanya. Kucing itu memakannya dengan lahap. Sejenak kulupakan kejadian barusan dan mencoba menikmati makan siangku.
Agak susah masuk, kubuka botol air mineralku yang hanya tinggal separuh dan meminumnya.Aku diam terpaku tiba tiba seseorang duduk di sebelahku dan membuka kotak makan yang tadi kuletakkan di sana.
“Kenapa ? Bukan cuma kucing itu saja yang lapar.Aku juga lapar,” Raymond memakan kakap bakar buatanku dengan lahap tanpa mempedulikanku yang masih bengong.
Kuberikan sisa makanku kepada kucing lucu itu yang masih tampak kelaparan.
“Aku pergi dulu, masih ada urusan yang belum kuselesaikan.Nanti malam aku menginap di rumah kakek,” kataku.
Ray menghentikan makannya dan menyodorkan teh boba kepadaku.
“Akan kuantarkan, kau mau ke mana?” tanyanya.
“Tidak perlu, kau kembali saja ke kantor.Ray, sudah saatnya kita jalan sendiri sendiri. Semalam itu adalah hadiah terakhir untukmu.Aku harus menata kembali hidupku. Tinggal dua minggu lagi kan? Kau pasti sibuk mengurus semuanya.”
“Ngomong apaan sih, ayo kuantar.Kamu tidak perlu pusing mikirin itu, sudah ada yang menangani Maghda,mau nikah ya nikah aja, tinggal duduk, melakukan ijab qobul, tanda tangan selesai,” kata Raymond.Tiba tiba ponselnya berdering.
“Halo ada apa? Apa ? Jangan macem macem Carol.Kamu di situ saja, aku akan ke sana. Maghda, aku pergi dulu.Kamu bisa cari taksi kan?” kata Raymond panik.
“Naiklah Nona,” katanya.
“Bagaiman kau tahu aku ada di sini?” tanyaku.
“Tuan Raymond yang menelpon saya,” jawabnya.
“Baiklah,aku mau ke jalan Senopati.Bima Trip&Travel,” kataku. Dani segera mengemudikan mobilnya menuju ke tempat yang aku inginkan.
“Ini tempatnya Nona?” tanyanya.
“Iya, kau tidak perlu menunggu.Nanti aku pulang naik taksi saja,” kataku.
“Baiklah Nyonya.” Dani segera berbalik arah meninggalkanku.
Aku segera menemui Mas Bima di kantornya.
“Masuk Lena, lima menit lagi aku mau ke luar.Untung saja kamu nyampe sini duluan,” katanya.
“Aku mau bayar kekurangan uang kontrak Mas, tolong berikan rekening pemiliknya,” kataku.
Bima segera mencari data di dalam brankas datanya.Ia lalu menuliskan sesuatu dan memberikannya padaku.
Segera kulakukan transfer dengan mobile banking.
“Buktinya sudah ku kirimkan ke wchat mu Mas,” kataku.
Bima tersenyum.
“Tidak perlu buru buru, lusa sudah bisa kamu tempati. Mereka mengganti barang barang usang dengan yang baru supaya kamu betah tinggal di sana.”
“Makasih Mas,” kataku.