LOVE YOU

LOVE YOU
Part82


Kami semua menoleh ke arah Raymond yang jelas tampak sedang sangat kesal.


“Ray,” kataku.


“Apa kalian mau ngobrol sampe pagi? Ini sudah jam sebelas lebih,” gumamnya.


“Sayang, pergi temani dia gih.Kalau dia sudah tidur kamu boleh gabung lagi sama kita. Mama ada di kamar tante Ruly,kami lama tidak ketemu mau ngobrol sampe pagi.Kamu juga Carol,Wisnu pasti nungguin,” kata mama Kinan.


“Tar dicariin Papa lho,” kata Raymond.


“Nggak, Mama sudah ngomong sama Papa tadi.Papa juga pasti ngobrol sama Kakek sampe larut.Lama tidak ketemu Kakek, pasti banyak yang ingin dibahas,” jawab Mama Kinan.


Ray segera menggamit lenganku dan membawaku pergi ke kamarnya.


“Ray, apa tidak sebaikya aku tidur di kamar lain?” tanyaku.


“Sudah penuh, mau tidur di gudang? Kenapa memang kalau tidur di sini? Tidur di kamar suami sendiri apa salah?”


“Kita baru menikah minggu depan, tidak enak sama kakek dan yang lain,” jawabku.Ray berjalan mendekatiku dan mengangkat daguku dengan jarinya.


“Kita sudah menikah dari dulu, karena ada maling yang mencurimu makanya semua jadi kacau.Bukankah dari sejak kau masuk SMP aku sudah katakan kau adalah istriku,harusnya kau menjaga dirimu dari godaan brengsek Rouhan itu.Tapi semua memang salahku yang melanggar perjanjian dengan mengambil kesucianmu sebelum waktunya,jadi aku harus menutup mata pada akibatnya,” kata Raymond.


Kulihat wajah Raymond,rahangnya mengeras karena menahan amarah yang begitu besar.


“Kau ingin aku harus bagaimana Ray? Aku tahu kau menganggapku kotor karena dicemari orang lain dan kau begitu berusaha keras menghilangkan segala hal yang berhubungan dengan Rouhan.Jangan menyiksa dirimu lagi, aku tahu kau sampai beberapa kali menemui Psikiater karena ini. Aku merelakan kalau perjanjian orang tua kita tidak usah diteruskan.Kakek pasti akan mengerti kalau ini sampai di sini saja,Raymond aku cukup tahu diri,” kataku.


Tanpa terasa air mataku berjatuhan tanpa bisa kutahan.Tiba tiba Ray meraih wajahku dan mencium bibirku dengan lembut.


“Kau adalah milikku dan tetap akan menjadi milikku.Aku akan menerima apa pun keadaanmu saat ini.Asal kau hanya melihatku, selalu ada di sisiku dan mengabaikan masa lalumu.Aku ingin kau melupakan bahwa pernah ada pria lain dalam hidupmu.Apa kau bisa berjanji padaku Maghda?”


“Asal kau tidak menyia nyiakan anak ini, aku akan menjauhi Rouhan dan menganggapnya orang asing.Apa kau bisa Ray?”


“Aku sudah katakan padamu kalau anak ini milikku,akan kuberikan namaku di belakang namanya dan akan kubuat dia merasa asing pada ayahnya jika suatu saat dia mengetahui kalau aku bukan ayah biologisnya.Cinta dan kasih sayang dariku cukup untuknya dan tidak akan terikat dengan ayah kandungnya, asal kau menbantuku Maghda.”


Raymond mengusap lembut perutku dan menciumnya.Kuusap kepalanya, rasa sesak di dadaku perlahan memudar.Raymond kembali mencium lembut bibirku dan kubalas dengan sepenuh hati.


Raymond menekan tengkukku dan menciumku lebih dalam saat aku berusaha mendorongnya.


“Ray,Maghda.Apa kalian sudah tidur? Buka pintunya?”


Terdengar suara kakek di luar, kudorong Raymond sekuat tenagaku hingga pelukannya terlepas.


Aku segera berlari ke kamar mandi untuk mencuci mukaku, aku tidak mau kakek mengetahui apa yang barusaja kami lakukan.Kulihat di cermin ada sedikit bekas membiru di ujung bibirku.


“Maghda,Kakek ingin bicara denganmu,” terdengar suara Raymond di depan pintu kamar mandi.Agak canģgung aku ke luar dari kamar mandi.


Di Sofa tampak kakek duduk bersama Cristo.


“Kakek,ada apa?” tanyaku seraya duduk di sebelah Raymond yang duduk di sofa behadapan dengannya.


“Maghda,besok kau harus ikut Kakek ke perkebunan.Kita tinggal di sana beberapa hari sampai sehari sebelum hari pernikahan kalian,” kata Kakek.


“Kek...” sela Raymond.


“Jangan membantahku anak bengal, Maghda tidak boleh stress karenamu. Kau harus tetap di rumahmu mempersiapkan pernikahan kalian.”


“Sudah ada tim yang mempersiapkan, Kakek tidak perlu khawatir.Aku yang akan stress kalau Maghda tidak ada di dekatku,” kata Raymond.


“Maghda pergi bersamaku apa yang kamu takutkan?” marah Kakek.


“Bisa saja kan Kakek tiba tiba membawanya lari entah ke mana. Dani dan Mona akan ikut tinggal di sana, itu syaratnya,” kata Raymond.


“Kenapa harus membawa pengawalmu ke rumahku?” tanya Kakek.


“Mereka akan menjaga dan melayani Maghda di sana.Terserah,kalau Kakek menolak maka aku yang akan ikut ke sana,” kata Raymond.


“Yaa ampuun, kalian ini seperti saingan cinta saja,” Cristo tertawa melihat Raymond dan Kakeknya saling beradu argumen.