
Aku pergi ke ruang makan saat seorang pelayan memberitahuku Raymond sudah menungguku.
Ia tersenyum sangat manis saat melihatku menuruni tangga.Pakaian yang diberikannya sedikit terlalu formal untuk makan malam di rumah.Ray juga sangat tampan dengan kemeja casual dan celana denimnya.Ia berdiri dan mengulurkan tangannya.
Oh Ray,kau memang pantas disebut seorang pangeran.
Ia menggesser kursi tempat duduk untukku.
“Ray, kenapa seformal ini? Apa akan ada tamu malam ini?” tanyaku.
“Tidak, tapi ini adalah malam istimewa untuk kita.”
“Apa?Apa maksudmu?”
“Mona, tolong bawakan ke sini.”
“Iya Tuan.”
Wanita muda itu mengambil sebuah kotak yang sangat bagus dan mewah.
“Apa ini?” tanyaku.
“Aku ingin melamarmu,aku ingin melakukannya dengan benar.Selama ini aku tidak memperlakukanmu dengan baik. Maghda,aku tidak akan menanyakan apa kau bersedia menikah denganku.Tapi aku akan mengatakan kau harus menikahiku,” jawab Raymond.
“Apa apaan kau ini? Apa kau akan menikahi diriku dan Caroline sekaligus?Aku menolaknya Ray,aku tidak mau,” jawabku.
“Aku memaksamu, gelang itu hanya bernilai sekitar seratus ribu US dollar. Tapi satu set perhiasan ini bernilai tiga juta US dollar.Aku ingin kau memakainya saat acara pernikahan kita.”
Ray membuka kotak cincin dan mengeluarkan sebuah cincin berlian hitam dan putih yang sangat cantik.Ia meraih tanganku dan segera kutarik kembali tanganku.
“Maghda.”
Ray menarik kembali tanganku.
“Hey,Bodoh.Apa begitu cara memperlakukan adikku? Kakek akan menghabisimu.”
Kami berdua menoleh ke arah pintu masuk.Di sana berdiri Cristo dan Kakek, di belakangnya juga ada Papa Alvaro dan Mama Kinan .
Raymond menutup kembali tempat cincin itu dan meletakkannya ke tempat semula.
“Ada tamu tak diundang rupanya, silahkan masuk.Silahkan duduk,mari makan malam,” kata Ray seraya melirik ke arak kepala pengawalnya yang sedang ditodong pistol oleh pengawal kakek.
“Tolong hentikan ini Ray,Kakek tolong hentikan,” aku terduduk dan tangisku pun pecah di ruangan itu.
“Maafkan Ray Sayang,seharusnya Mama tidak membiarkannya menyakitimu.” Wanita itu pun menangis sambil memelukku.
“Ray, kalau kau masih seperti ini aku tidak mengizinkanmu bersama Maghda. Aku berhak mengahiri dan membatalkan perjanjian keluarga kita,” kata Kakek.
“Ayah tenanglah, kita bicara baik baik.”
Papa Alvaro membimbing Kakek untuk duduk.
Cristo pun duduk di sebelah Kakek.
“Sudah cukup,Raymond.Acara pernikahan tinggal seminggu lagi.Kalau kau masih seperti ini Kakek akan batalkan semuanya,Kakek mengizinkan mu bersamanya bukan untuk kau sakiti. Kakek sudah cukup memberimu waktu, kau tidak boleh semaumu lagi,” kata Kakek.
“Apa kalian ke sini untuk menghakimiku?” tanya Raymond.
“Ray,semua harus kau katakan pada calon istrimu.Kau sengaja ambigu untuk meluapkan kemarahanmu entah pada siapa.Maghda tidak salah apa apa, tapi pada akhirnya dialah yang paling tersakiti,” kata Cristo.
“Andi,apa Caroline belum sampai?” tanya Alvaro.
“Hampir sampai Tuan, dia datang bersama Wisnu dan ibunya,” jawab Andi.
“Baiklah,semua harus jelas malam ini,” katanya.Aku semakin bingung dengan situasi ini.
Semua orang diam,semua orang hanya diam memandangi meja makan.
“Selamat malam semua, maaf tadi sedikit macet.”
Seorang wanita paruh baya datang bersama Caroline dan seorang pria. Mama Kinan memeluknya dan mempersilahkan mereka duduk. Sekarang aku merasa kalau hanya diriku orang asing di sini.
“Ma,bolehkah aku pergi sekarang? Sepertinya aku tidak sepantasnya ada di sini.Ini acara keluarga kalian,jadi...”
“Maghda,Sayang.Duduklah, sebenarnya kami semua datang untukmu,” kata Papa Alvaro.
“Sekarang katakan Raymond,apa yang kau inginkan?” kata Kakek.
“Aku... Aku.” Raymond tampak gugup.
“Ayah,biar aku yang bicara mewakili putraku. Aku ingin melamar Maghdalena untuk diperistri Raymond Putraku. Mohon restui dan kita ulang lagi akad nikah mereka,” kata Papa Alvaro.
Aku semakin bingung dengan situasi ini, apa sebenarnya yang tidak kuketahui. Aku hanya bisa menunggu situasi selanjutnya sementara Kakek hanya diam sambil menatap Raymond.