
Kursi taman berukir persis seperti gambarku. Suatu saat aku akan buat taman seperti ini di depan rumahku, entah berapa tahun bisa mengumpulkan uang dan membeli sebuah rumah kecil dan membuat taman seperti ini.
“Kau suka? Aku pintar sekali kan? Persis seperti gambarmu.”
Ray menarikku masuk ke dalam mansionnya.Ia langsung mengajakku ke atas, dua kamar utama dan empat kamar tambahan juga sebuah aula.Ia mengajakku masuk ke salah satu kamar utama.Persis juga seperti gambarku.
“Ini kamarmu kan, kamarmu dan calon istrimu.Kau bisa mengubah warna dan perabotnya sesuai seleranya. Tidak harus persis seperti gambarku.Harusnya kau bicarakan dengannya,”kataku.
Raymond merapikan barang barang yang masih berserakan di lantai.Sebuah pigura besar terjatuh kain penutupnya. Seorang wanita sangat cantik dan berambut panjang sedang tersenyum manis.
“Oh,dia kah orangnya Kak Ray?” tanyaku.Raymond hanya tersenyum.Ia segera menutup kembali pigura itu.
“Seminggu lagi kita akan pindah ke sini,aku ingin kau tinggal bersamaku,” katanya.
“Aku tidak mau Kak Ray,terima kasih sudah memberiku tumpangan beberapa bulan ini.Kau akan menikah dan punya keluarga.Aku akan cari tempat tinggal sendiri.Tidak perlu cemaskan aku.Aku akan berkunjung sesekali,” tolakku.
“Maghda bicara apa kau ini? Rumahku juga rumahmu. Minggu depan papa dan mama pulang, apa kau tidak rindu mereka?” tanyanya.
“Aku akan mengunjungj mereka.Bukankah mereka pulang untuk mempersiapkan pernikahanmu? Aku tidak mau menjadi benalu lagi di keluargamu,” jawabku.
“Aku tidak tenang kalau kau sendirian di luar Maghda,” kata Raymod.
“I am strong,jangan meremehkanku.Hari ini aku akan pergi denganmu.Besok aku akan sibuk ke suatu tempat,” kataku seraya melangkah ke luar.Ray mengikuti di belakangku.
“Maghda, biarkan aku menjadi ayah dari bayimu.Apa Han tahu kalau kau mengandung anaknya?” tanyanya.
“Han tidak tahu,tidak akan kukasih tahu.Kalau dia lahir nanti akan kusuruh dia memanggilmu papa Raymond. Dan istrimu dengan mama ... siapa namanya?”tanyaku.
“Nama apa?”
“Wanita cantik yang ada dalam pigura itu,” jelasku.
“Oh,dia.Caroline namanya,” jawab Ray.
“Oh,nama yang indah.Baiklah, ke mana lagi kita?” tanyaku.
“Ya,terimakasih sudah membantuku mencari tahu. Kak Ray, apa kau mencintainya?” tanyaku.
“Siapa?”
“Wanita yang dijodohkan denganmu,yang akan kau nikahi.Apa kau menginginkannya?” tanyaku.
“Iya,aku mencintainya Maghda,” jawabnya.Sakit sekali mendengar jawaban itu.
“Aku ingin ke toilet, apa kamar mandinya sudah berfungsi?” tanyaku.
“Kamar utama bawah yang sudah berfungsi,” jawabnya.
Tanpa menunggu lagi aku segera bergegas menuruni tangga menuju ke kamar utama bawah.Aku sudah tidak mampu lagi membendung air mataku.Aku berpisah dengan Han rasanya tidak sesakit ini. Baiklah,bagaimana pun juga ini harus kuhadapi.Aku harus pindah dan cari tempat yang jauh darinya.Aku ingin melupakannya sampai aku tidak mengingat apa pun tentangnya.
“Maghda.”
Terdengar suara Raymond di depan pintu kamar mandi.
“Kak Ray tunggu aku di mobil,sebentar lagi selesai,” kataku.
Tidak terdengar jawaban, segera kucuci
mukaku,ah tasku ada di atas kasur.Segera kubuka pintu kamar mandi,ternyata Raymond masih berdiri di situ.
“Tunggu di luar Kak Ray,” kataku dengan suara sedikit serak.Tiba tiba Ray memelukku sangat erat.Aku tak kuasa lagi membendung air mataku.
“Lepaskan aku Kak Ray,dengan begini aku semakin sakit.”
“Aku mencintaimu Maghda, dari dulu sampai sekarang. Aku tidak pernah berhenti mencintaimu.”
“Jangan serakah, setelah ini aku akan pergi jauh darimu. Waktu di masa lalu tidak akan bisa diputar lagi.Nikmatilah hidupmu,aku akan bekerja keras untuk anakku.Aku tidak perlu lagi bersandar pada siapa pun.Baik dirimu mau pun Cristo,suatu saat pasti pergi dariku.” Kulepaskan tangannya dan berjalan cepat menuju mobilnya.Raymond menyusulku masuk ke dalam mobilnya dan menyuruh Dani jalan.