
Raymond mendorongku masuk ke dalam mobil dan segera menutup pintunya.
“Antar aku pulang Ron,kamu handle dulu rapat siang ini. Nanti sore akan aku evaluasi. Antar ke mansion,” kata Raymond.
“OK Boss,” jawab Ronal lalu melajukan mobilnya.
Dalam hati aku ingin tertawa mendengar lelucon Raymond barusan dan Rouhan sungguh naif sampai speachless gitu.
“Hei apa yang kau tertawakan?” Raymond mengerutkan alisnya yang malah membuatku ingin tertawa.
“Kak Ray keterlaluan sekali, memprovokasi Rouhan juga gak usah sampai gitu kali. Mana ada anak umur tujuh tahun disuruh mengucapkan ijab kobul.Kalau gitu waktu itu aku berumur empat tahun dong.” Aku tak bisa lagi menahan tawaku.
Ray mengerucutkan bibirnya, wajah tampannya itu agak sedikit kusut.
“Aku tidak berbohong,saat itu aku memang menikahimu walau pun saat itu kamu masih sekolah playgroup,” jawab Raymond.Tawaku semakin keras.
“Apa yang membuatmu mau disuruh menikahiku? Apa saat itu kamu diculik keluargaku dan dipaksa menikahiku? Kenapa tidak lari,kenapa...”
“Cup.”
Aku terdiam saat Ray mendaratkan ciumannya di bibirku.Kulirik Ronal di belakang kemudi tampak salah tingkah.
“Kenapa sekarang Kak Ray selalu menyerangku tiba tiba?” gerutuku.
“Karena aku menginginkannya, aku jengkel kau tidak mempercayaiku.Ini memang benar terjadi dan ayah Rouhan adalah salah satu saksi waktu itu,” jawab Raymond.
“Baiklah aku percaya,tapi apa pernikahan seperti itu dianggap sah? Kita masih anak anak dan kau juga belum bisa menafkahiku lahir batin.Ini hal yang sungguh lucu,” kataku.
“Keluargaku menafkahimu secara materiil,untuk nafkah batin memang belum.”
“Lalu kenapa kalian meninggalkanku waktu itu? Keluarga Smith tiba tiba pindah ke London dan aku ditinggalkan begitu saja,” keluhku.
“Aku melanggar perjanjian Maghda, dan itu yang kusesali hingga kini.Sampai akhirnya aku harus melepaskanmu,” jawab Raymond.
“Perjanjian apa? Dengan siapa?” tanyaku penasaran.
“Kak Ray,aku tidak tahu bagaimana akan berhadapan denga Tuan dan Nyonya Smith.”
“Mama sangat ingin bertemu denganmu.Setiap kali menelponku, selalu saja mencecarku dengan pertanyaan tentangmu.”
Ray membuka pintu mobil karena kami sudah sampai.Mansion indah hasil rancanganku itu tampak sudah mulai ramai oleh pengurus rumah.Sepertinya mansion ini sudah sangat siap menyambut pemiliknya.
“Pak Gun,aku mau makan siang dengan Non Maghda. Tolong suruh siapkan pelayan,” kata Ray kepada seorang pria paruh baya.
“Baik Tuan.Selamat siang Nyonya,saya Gunarso yang bertanggung jawab untuk mansion ini,” katanya memperkenalkan diri.Aku hanya tersenyum dan mengangguk.Ray langsung mengajakku ke atas.
“Kau boleh pilih kamar mana yang kau suka.Besok kita pindah ke sini,” katanya.
“Jangan bercanda,aku akan terganggu dengan suara kalian saat kau dan istrimu sedang having ****,” jawabku.Ray menatap tajam ke arahku.
“Kau bahkan dibolehkan melihatnya.”
“Edan, aku juga tidak berminat.Apa foto Caroline tidak dipasang di kamar kalian?” tanyaku saat membuka dan melihat lihat kamar Raymond.
“Tidak,” jawab Raymond seraya merebahkan diri di ranjang.Ia mengulurkan tangannya kepadaku.Karena tidak kurespon ia pun segera bangun dan menarikku ke dalam pelukannya.Kami sama sama terhempas di ranjang.
“Ayo kita menginap di sini malam ini.Maghda, ayo kita manfaatkan waktu sebelum aku menikah.Bulan depan, saat hari ulang tahunku aku akan menikahi wanita yang ditakdirkan untukku.” Raymond membelai wajahku dan menyingkirkan anak rambut di sana.
“Iya, mungkin ini yang terahir kali aku menurutimu.Setelah ini mungkin kau sibuk untuk pernikahanmu dan tidak sempat menemuiku.Kak Ray aku tidak bisa tinggal di sini,” kataku lirih.
“Baiklah aku mengerti, apa kau akan tinggal bersama kakek?”
“Entahlah, mungkin aku akan memilih tinggal bersama kak Cris di perkebunan.Melihat begitu banyak bunga krisan, akan membuatku terasa nyaman,” jawabku.
Terdengar pintu diketuk, seorang pelayan mengabarkan bahwa makan siang sudah siap.
“Ayo kita makan,” Ray meraih tanganku dan membawaku turun.