
Ray tersenyum saat aku melihat ke arahnya. Aku tidak bisa mengartikan senyuman itu.
"Ini Nona Maghdalena, yang mendesain mansionku.Nona, tolong berikan seluruh gambar lantai bawah untuk mansionku kepada Tuan Alex," Ray menunjuk seseorang agar aku menyerahkan gambar itu.
"Tuan Alex,aku mau lantai bawah dibuat sama persis seperti itu.Bangunan lantai bawah sudah jadi kan?" tanya Ray lagi.
"Iya, sudah Tuan.Akan saya buat sama seperti gambar ini," jawab Alex.
"Maaf Tuan Tuan saya terlambat," aku menoleh ke arah suara yang sangat kukenal. Han berdiri di depanku, Gayatri berada di sebelahnya.Tiba tiba saja dadaku terasa sakit, Han duduk dengan kikuk di depanku.
"Hai selamat siang,apa saya tidak salah lihat?" tanya Ray. Aku hanya diam saja menundukkan wajahku.
"Nona Maghda, tolong berikan desain taman kepada Tuan Januardi," segera kuserahkan desain taman kepada ayah mertuaku, cih apa dia masih menganggap aku ini menantunya.
"Gambar yang sangat indah," kata Januardi.
"Itu adalah impian seseorang dan aku akan mewujudkan impian itu," kata Ray sinis.
"Gambar pagar dan kolam renang Nona Maghda, berikan pada Tuan Rouhan," kata Ray lagi.Kuserahkan gambar itu tanpa melihat ke arahnya.Rasanya aku muak sekali melihatnya. Han kau akan lihat,akan kuakhiri semuanya.
"Aku ingin lantai bawah selesai dalam satu bulan.Untuk lantai atas mulailah sesuai gambar rancang bangunnya. Masih saya diskusikan interiornya dengan Nona Maghda." Ray menatap lekat ke arahku.
"Kojiro,Segera transfer sisa nilai kontrak ke rekening nona Maghda hari ini juga. Tambahkan dua kali nilai kontrak sebagai bonus telah mendesain mansionku dengan baik," kata Ray.
"Ya Tuan," jawab Kojiro.
"Mansion itu kubangun untuk seseorang yang sangat aku cintai.Kami akan tinggal di situ nantinya.Jadi jangan membuat kesalahan dalam membuatnya," kata Ray.
"Tuan Smith, Tugasku sudah selesai.Apa boleh saya pergi duluan?" Ray langsung menoleh ke arahku.
"Mau ke mana? Kita makan dulu," katanya.
"Maaf saya tidak bisa ikut makan.Saya masih ada urusan," kataku seraya merapikan sisa berkasku.Tiba tiba ponselku berbunyi. Cristo yang menelpon,segera kuangkat. Han menatap tidak suka ke arahku.
"Hai Kak,ada apa menelponku jam segini?" tanyaku.
"Besok aku harus ke perkebunan,apa kau mau menemaniku berbelanja?Habis itu kita makan Pitza, gimana?" Aku tersenyum kecil.
"Ya,aku mau.Nanti kutelpon,akan kuselesaikan urusanku dulu.Aku juga lagi pingin jalan jalan,nanti tolong antar beli alat gambar ya.Punyaku hampir habis," kataku. Terdengar tawa renyah Cristo.
"Mau ke ujung dunia pasti akan kuantar Maghda. Okey, nanti kabari aku," katanya.
"Baiklah," kuputuskan sambungan telpon itu.
"Maaf semua saya harus pergi,Tuan Smith, besok akan kita bahas yang lantai atas.Saya perlu mendiskusikan dengan anda,setelah itu pekerjaan saya selesai.Saya tidak akan menemui Anda lagi setelahnya," kataku lalu beranjak meninggalkan tempat itu.
"Tunggu Maghda,aku juga akan pergi.Kojiro lanjutkan meetingnya," Ray beranjak dan mengikuti langkah kakiku. Ray berjalan menyebelahiku dan menggandeng tanganku.
"Tuan lepaskan tanganmu,aku akan pergi dengan Cristo.Akan kutelpon dia,aku ingin dia membawaku pergi yang jauh." Ray menghentikan langkahku.
"Aku tahu kau sangat kesakitan Maghda.Aku yang akan membawamu pergi.Ke mana pun kau ingin pergi," katanya.
"Aku tidak ingin menyakiti wanitamu Tuan, tidak perlu mengasihaniku," kataku.Segera kutelpon Cristo,kukatakan kalau aku menunggunya di dekat area parkir Imperium Tower.Kuturuni anak tangga dan tidak mempedulikan Ray memanggilku berkali kali.