LOVE YOU

LOVE YOU
Part67


Sehabis sholat magrib aku segera bersiap untuk menemui papinya Han.Kuambil tas tanganku dan kunci mobil Bima di atas meja.


Tiba tiba ponselku berbunyi, Ray menelponku.Untuk pertama kalinya diriku merasa enggan menjawabnya. Kubiarkan saja ponsel itu berbunyi.Kulajukan mobil Bima menuju ke restoran yang dimaksud Papinya Han.Setelah melihat Tuan Januardi segera ku silent ponselku karena Ray terus saja menelponku.


“Pi, selamat sore.Maaf mengganggu waktu Papi,” kataku seraya menjabat tangannya.


“Tidak Lena, Papi selalu ingin menemuimu tapi tidak memiliki keberanian.Papi banyak membuat kesalahan Lena,” kata pria paruh baya itu penuh penyesalan.


“Tidak Pi, semua memang harus terjadi.Aku sama Han memang hanya sampai di sini. Kali ini Lena tidak membahas tentang Han Pi, tapi tentang Raymond,” kataku.


Tiba tiba wajah Januardi menjadi pucat dan buku menu yang dipegangnya jatuh ke lantai.


“Papi baik baik saja? Lena sampai lupa belum pesan makanan,maaf.Papi ingin makan apa?” tanyaku.


“Seperti biasanya saja Lena,” katanya. Januardi menatap lembut ke arahku.Aku memanggil pelayan dan menyerahkan pesananku.


Seorang pelayan mengantarkan minuman jahe hangat ke meja kami.


“Tadi Papi sudah pesan minuman sebelum kamu datang.Lena bagaimana keadaanmu, apa sudah membaik sekarang? Han menceritakan semuanya padaku,” kata Januardi.


“Seperti yang Papi lihat,Lena baik baik saja,” jawabku.


“Tolong jaga cucu Papi ya,kau boleh membenci Papi tapi jangan membenci anak itu.”


Mata Papi berkaca kaca, beberapa saat kemudian ia mengusap ujung matanya yang berair.


“Papi bicara apa? Anak ini adalah satu satunya yang menjadi alasanku untuk bertahan hidup.Aku pasti menyayanginya Pi,” jawabku. Pria itu kembali mengusap matanya.Segera kusodorkan tisyu yang ada di dekatku.


“Pi, Kak Cristo dan Raymond memberitahukan tentang jati diriku beberapa hari yang lalu. Aku bahagia sekali ternyata keluargaku masih ada walau pun kedua orang tuaku sudah tidak ada,” kataku.


“Apa kau juga mengetahui siapa aku,Lena?” tanyanya setelah berdiam beberapa lama.


“Iya, Papi adalah kakak kandungnya mama,” jawabku. Januardi kembali menunduk.


“Maafkan Papi,Lena.Hanya ini yang bisa Papi lakukan untuk melindungi ibumu.Papi bersedia menikahi Mami supaya Mami tidak mengganggu Rosie lagi. Maafkan Papi yang tidak mampu mencegah Han menikahimu, karena Han sangat mencintaimu.Selama ini Han tidak pernah merespon keberadaan setiap wanita yang mendekatinya.Tapi saat mengenalmu bahkan dia rela meninggalkan pekerjaan hanya untuk mengikutimu. Mami menyetujui Han menikahimu karena dia tahu kalau perusahaan yang kujalankan saat ini adalah milikmu.Aku punya hak atas saham hanya dua puluh persen saja.Empat puluh lima persen akan menjadi hakku bila aku menjaga dan memberimu perlindungan sampai Tuan Raymond kembali.”


Januardi meneguk minuman jahe yang sudah mulai dingin, sementara aku hanya diam mendengarkannya.


“Lena,aku gagal melindungimu maafkan aku.Keegoisan Mami yang tidak mampu kucegah, memaksa Han menikahi Gayatri,aku sungguh tidak berguna.Emosi Mami semakin menjadi setelah Mami tahu kalau kau adalah putrinya Rosie dan Surya.Setiap kali melihatmu dia berusaha untuk menyakitimu secara fisik dan mental.Papi memaksa Han untuk menandatangani surat cerai itu walau pun Han tidak mau.Tuan Raymond sudah kembali dan aku yakin dia akan mencari dan melindungimu.Lena,Papi minta maaf ya.Papi...” Pria paruh baya itu tidak mampu meneruskan kata katanya.


“Sudahlah Pi,semua sudah terjadi.Tapi kenapa Mami sangat membenci Mama?” tanyaku.


“Karena Surya adalah cinta pertamanya.Surya sangat mencintai ibumu.Itu yang membuat Mami sangat membenci Rosie,” jawab Januardi.


“Tapi sebelum menikah dengan Mama, bukannya ibunya Cristo ...”


“Ibu Cristo dan Surya menikah karena dijodohkan, berbeda dengan Rosie.Walau pun awalnya dijodohkan oleh ibunya Cristo tapi Surya menikahinya karena jatuh cinta pada ibumu,” jawab Januardi.


Aku mengangguk mengerti.


“Papi juga pasti sangat menderita hidup bersama Mami, iya kan Pi? Terima kasih Papi sudah berusaha melindungi Mama,” kataku.


Makanan yang kami pesan sudah datang.


“Papi kita makan dulu ya, ini pertama kalinya kita kencan lho Pi, mungkin tidak akan ada lain kali,” kataku.Janiardi tertawa kecil.Entah kenapa aku merasa senang melihatnya tertawa.Pamanku itu membuatku masih merasakan kehangatan seorang ayah. Kehadirannya membuatku merasa tidak sendiri.