LOVE YOU

LOVE YOU
Part46


Satu bulan berlalu tanpa terasa.Aku menjalani pemulihan di apartemen Ray.Ada seorang pelayan dan ahli gizi yang dipekerjakan Raymond untuk mengurusku.Pagi itu dia pergi ke kantor karena harus meeting dengan klien penting dari luar negri. Berkali kali ia memperingatkanku untuk meminum vitamin dan susu ibu hamil. Kakak angkatku itu begitu perhatian padaku melebihi suamiku sendiri.Rouhan sama sekali tidak pernah datang menemuiku atau pun menelponku.


“Kinanti,aku mau pergi ke rukoku sebentar ya.Aku mau mengambil surat surat penting di sana.Tidak perlu melapor pada pak Raymond kalau aku pergi.Nanti aku juga mampir ke sana,” kataku pada pelayan yang mengurusiku.


“Iya Non Maghda,akan saya telpon Dani supaya menyiapkan mobil untuk Nona,” jawabnya seraya mengangkat ponselnya untuk menyuruh Dani, sopir yang memang disediakan untuk mengantarku kemana pun aku pergi.


Aku segera turun dan membawa satu kotak brownis kukus buatanku untuk kuberikan pada teman temanku di kantor.


Dani membukakan pintu belakang mobil limo milik Raymon.


“Dan, nanti aku bawa mobilku ke mari ya.Jadi kau boleh pulang setelah sampai di ruko,” kataku saat Dani mulai melajukan mobil ke jalan.


“Jangan Nona,kata pak Raymond Nona tidak boleh bawa mobil.Dan saya harus mengikuti ke mana pun Nona pergi kalau tidak bersama pak Raymond,” jawab Dani.Ah kenapa jadi serumit ini fikirku.


Sampai di ruko aku disambut dengan gembira oleh rekan rekanku.Mereka bertanya ke mana saja aku selama ini.Kenapa tidak ada kabar.Terutama Kinar yang memang sangat dekat denganku.


“Kakak gemukan dikit,kenapa tidak pernah kasih kabar Kak? Kakak tinggal di mana? Beberapa kali Tuan Rouhan datang menanyakan Kakak pernah datang atau tidak,” kata Kinar.


“Aku seminggu di rumah sakit Nar,setelah itu rawat jalan di rumah seseorang yang sangat baik padaku. Sekarang aku sudah sehat, makanya bisa datang. Tangga ke lantai tiga yang di luar ko nggak ada?” tanyaku.


Aku hanya mengangguk dan tersenyum kecil.Itu pasti Ray yang menyuruhnya, kehamilanku ini pasti alasannya.


“Aku pergi ke atas sebentar ya.Kinar, mungkin aku tidak akan pulang ke sini untuk waktu yang lama.Tolong sesekali kau bersihkan ya,” pintaku.Aku segera beranjak dari kursiku.Tiba tiba Kinar berlari mengejarku masuk ke dalam Lift.


“Kak, izinkan aku mengetahui tempat tinggalmu.Waktu Tuan Han ke sini dia tidak menjawab waktu kutanyai.”


“Kinar, aku masih cari tempat yang strategis. Setelah semua beres aku akan mengundangmu ke rumah,” jawabku.


“Ting,” pintu lift terbuka. Kami sudah sampai di tempat tinggalku di lantai tiga.Segera kukemasi semua pakaianku,beserta surat surat penting yang kumiliki. Kukumpulkan foto fotoku bersama Han dan kumasukkan dalam kardus. Kinar tampak termangu menatap semua yang kulakukan.Kututup kardus dengan lakban dan kumasukkan ke dalam lemari paling bawah.


“Kak, jangan katakan kalau kau dan Tuan Han ..”


“Iya Nar,kami memang harus berpisah. Sebesar apa pun cinta Han padaku, memang ini lah yang harus diambil. Jangan berprasangka buruk kepada Tuhan atas musibah yang kita terima.Aku merelakan semua yang terjadi, kau juga harus belajar dari pengalamanku.” Kuusap pundak Kinar dengan lembut.


“Tuan Han kadang ke sini, menginap di sini.Mungkin dia sedang rindu padamu Kak.Aku tidak berani bertanya atau menyapanya. Karena tampak kesedihan yang sangat di wajahnya.” Kulihat mata Kinar berkaca kaca.Kuusap rambutnya supaya tidak terlalu memikirkan apa yang terjadi padaku.Kinar memang rekan kerjaku yang paling muda.Dia seperti adik yang suka bermanja padaku.