
Kurebahkan tubuhku saat tiba di kamarku.Ah sakit sekali punggungku, sangat terasa kaku.
“Nyonya,saya membawa orang untuk memberikan relaksasi tubuhmu. Mereka dikirim Tuan dari spa untuk berada di sini beberapa hari ini. Mereka juga akan memberikan perawatan sebelum acara beberapa hari lagi,” kata Mona yang tiba tiba datang bersama beberapa wanita.
“Ya, terimakasih.Punggung dan betisku sakit, bisakah tolong ambilkan obat dan vitaminku Mona? Silahkan mbak mbak ini bersiap,” kataku. Lumayan enak mungkin kalau dipijit, pikirku.
“Minumlah Nyonya,” kata Mona seraya menyodorkan beberapa tablet yang harus aku minum.
“Terimakasih,” kataku seraya menerima segelas air putih dan meminum obatku.
Siang itu aku cukup merasa relax karena perawatan yang dilakukan oleh beberapa wanita yang dibawa Mona.Lumayan bisa membuatku tidur pulas hingga sore hari.
Selama aku di perkebunan, Kakek melarangku menghidupkan ponsel.Aku tidak tahu apakah Raymond marah karena ini.
Kudengar ketukan di pintu, Mona menyembulkan wajahnya di balik pintu.
“Nyonya waktunya makan malam,” katanya.
“Iya sebentar lagi aku turun,” kataku.
Segera kulipat mukenaku dan meletakkannya di lemari.Aku terkejut karena mendengar teriakan seseorang tak jauh dari kamarku.Segera kubuka tirai jendela yang paling mendekati sumber suara tersebut.Suara itu berasal dari paviliun karyawan tertentu di perkebunan.Kulihat dua orang sedang beradu argumen di bawah sana.Itu Cristo dan Merina.
Merina tampak menangis sambil membawa koper sementara Ctristo berusaha menahannya.
Aku bergegas turun dan ke luar dari rumah utama untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
“Kak Cris ada apa? Kenapa kalian bertengkar di sini.Ayo kita masuk, nanti pasti banyak yang datang,” kataku.
“Ini semua karenamu Maghda,aku sudah mengorbankan begitu banyak sampai harus meninggalkan rumah dan mengejarnya sampai ke tempat terpencil seperti ini.Tapi apa? Dia akan menikahi orang lain,” teriak Meri.
“Mer aku tidak mengerti apa maksud pembicaraanmu ini.Kamu dapat info dari mana aku mau menikah?”tanya Cristo.
“Kabar santer sudah beredar Cris,aku mencoba menutup mata tapi setelah kulihat sendiri,begitu mesranya kau dan Maghda sampai kau menciumnya di depan mataku.Kau menganggapku apa?” teriak Meri.
“Mer kau salah paham,aku memang akan menikah beberapa hari ini.Tapi bukan..”
“Selamat ya, aku pergi.Semoga kalian bahagia selamanya,”Meri segera menarik kopernya dan meninggalkan kami.
Tanpa pikir panjang segera kukejar Meri dan kuraih tangannya.
“Mer, bukan Cristo.Aku tidak...”
“Maghda,aku senang karena Cristo tidak pernah lagi bersamamu.Tapi setelah aku melihatmu bersamanya lagi,itu membuatku sakit karena dia pasti akan lebih memilihmu.Dulu aku sering membelamu saat dibuly teman temanku karena aku ingin mengambil hati Cristo.Aku merasa sakit karena banyak laki laki yang membelamu.Cih perempuan seperti apa dirimu, sampai pacarku pun kau ambiĺ, Cristo itu pacarku Maghda,kau sampai hamil dengannya.Kenapa kau tega sekali.” Meri berlinang air mata, segera kuraih tangannya namun dengan kasar ditepisnya.Tanpa kusangka sangka Meri mendorong kuat tubuhku hingga terperosok ke lembah di tepi jalan. Dengan reflek aku berpegangan pada apa saja yang bisa kupegang.
“Maghda!” kudengar teriakan Cristo.
“Maghda! Brengsek,seret perempuan itu jangan biarkan dia kabur.”
Kudengar teriakan Raymond di atas, kucoba memegang beberapa ranting pohon dan mencari pijakan.
“Ray..” teriakku sedikit lemah.Terus terang saja aku sedikit takut karena gelap sekali,aku takut ada ular di sela sela pepohonan rimbun itu.
“Maghda, Maghda!”
“Ray, di sini,” teriakku.
“Oh my God, syukurlah.”
Raymond menarik kedua tanganku ke atas dibantu Mona yang mengulurkan tali untuk aku pegang.
Setelah sampai di atas tiba tiba kakiku lemas.Aku menangis karena masih merasa syok.
“Dani, kau cari tahu siapa wanita itu. Kalau perlu patahkan tangannya yang sudah mendorong istriku,” kata Raymond geram.
“Tidak Ray, jangan.Dia hanya salah paham dan emosi sesaat.Dia pacarnya Cristo, dia cemburu karena dia pikir aku akan menikah dengan Cristo,” kataku.
“Aku tidak terima dia melukaimu.”
Raymond mengangkat tubuhku dan membawaku ke rumah utama.
Di ruang tamu tampak Cristo, Meri Kakek dan beberapa asistennya duduk tanpa sepatah katapun.
Ray meletakkan tubuhku di sofa sementara Mona membawakan kotak obat untukku.