
Raymond membawaku je jalan yang berlawanan arah dari rukoku.
"Kak kita mau ke mana?" tanyaku panik.
"Ke tempat yang aman dari pria ******* itu, kau tidak boleh pulang ke ruko beberapa hari ini." Ray memacu mobilnya ke kawasan elite apartemen Green Garden.Ia memarkir mobilnya di garasi luas yang hanya berisi tiga buah mobil.Salah satunya adalah mobil limo yang dulu pernah kunaiki.Ray mengambil pakaianku di garasi dan menarik tanganku menuju ke lift.Di lantai tiga Ray membawaku ke masuk ke apartemen miliknya.
"Yang di sebelah itu yang aku tinggali,bukalah dengan sandi yang kuberikan tadi." Kuambil kertas yang berisikan alamat dan sandi pintu apartemen itu.Pintu terbuka, sebuah ruangan yang luas.Sofa,TV, meja makan,meja bar, dapur dan dua kamar dengan tatanan yang sangat mewah.Ray mendorongku masuk karena aku terbengong di depan pintu.
"Tempatilah sesukamu.Belum ada air minum, kulkas juga blm dinyalakan.Ambilah di apartemenku.Pintu itu adalah jalan tembus bangunan ini, jadi kau bisa lewat situ kalau ingin mengunjungiku." Ray membuka pintu yang tadi ditunjuknya.Ia memberiku isyarat supaya mengikutinya.Kulangkahkan kakiku mengikutinya.Tempat yang sangat rapi, aku duduk di atas sofa sementara Ray membuatkanku milkshake coklat kesukaanku.Ia masih ingat minuman kesukaanku saat hawa panas seperti ini. Malam ini agak panas, mungkin akan turun hujan.
"Kak, ini kenapa ada celana dalam wanita?" Ray langsung menoleh ke arahku.
"Serius?Itu pasti milikmu," Ray terkekeh, ah ketahuan aku mengerjainya.Ray menghampiriku dan memberikan milkshake coklat dingin buatannya padaku.Ia tanpak senang melihatku menikmati milkshake buatannya.
"Tidurlah di kamar sebelah kamarku itu kalau kau masih takut sendirian di sebelah.Matikan ponselmu beberapa hari ini.Jangan biarkan pria itu terus menyakitimu.Akan kuhubungi pengacara kalau kau memang benar benar ingin mengakhirinya." Ray menyalakan TV kabel di hadapan kami.Kupandangi wajah yang sedang serius menonton berita CNN. Tetap tampan dan lebih dewasa, tapi tubuhnya tidak sekekar dulu.Ia lebih cocok menjadi seorang model yang punya tubuh proporsional.Segera kutundukkan wajahku saat Raymond menyadari kalau sedang kuperhatikan.
"Aku ingin mencari pekerjaan baru, yang tidak ada hubungnnya dengan desain," kataku.
"Terserah padamu,tapi tidak dalam waktu dekat ini.Aku akan selalu mendukung apa pun yang ingin kamu lakukan,"jawabnya.
"Bagaimana kalau aku membuka florist,aku menyukai pekerjaan itu."
"Boleh saja, aku akan membantumu sekali sekali," katanya.
"Sudah,eh maksudku setelah semua urusanku beres.Mansion juga belum jadi,biar kuselesaikan dulu semuanya," jawab Raymond.
"Setidaknya perkenalkan dia padaku, aku janji tidak akan membicarakan masa lalu kita," kataku lagi.
"Maghda, kenapa kau ini cerewet sekali.Nanti kau akan bertemu dengannya pada waktunya. Kita bereskan dulu masalahmu,"kata Raymond kesal.Tiba tiba ponsel Ray berbunyi. Ia segera menyambar ponsel yang ada di dekatku dan mengangkatnya.
"Halo my love, I miss you.Maaf aku sibuk sekali akhir akhir ini.Ok, aku akan segera menemuimu.Ya sudah kutransfer ke rekeningmu, jangan protes.Jangan menolak Sayang, kita akan menikah kan. Okey, bye I miss you," Ray menutup ponselnya.
"Kau pelit sekali, kenapa tidak kenalkan padaku," beberapa saat kemudian terdengar suara bel di pintu.Ray melihat kamera cctv dan membuka pintunya.
Cristo memghambur masuk dan memukul kepala Ray hingga terjatuh di sofa.
"Kenapa tidak ngomong kalau membawa Maghda ke sini? Kakek cemas sampai mau lapor polisi.Sudah gitu ditelfon ngomongnya ngaco lagi," marah Cristo.
"Heh diamlah mulutmu Cris, Sorry tadi aku juga panik karena Han terus saja menghubungi Maghda.Lama lama lokasinya akan terlacak," jawab Raymond.
"Hmm sekarang aku mengerti kenapa kadang omonganmu ngaco saat kutelfon.Itu karena ada dia bersamamu kan," bisik Cristo.
"Bantu aku Bodoh,jangan keras keras kalau ngomong," marah Ray.
Aku hanya memperhatikan saja dua orang laki laki itu berbicara dengan suara pelan. Akhirnya aku pergi ke dapur untuk membuat sesuatu.