LOVE YOU

LOVE YOU
Part53


Raymond menggenggam ponsel itu dan tidak membiarkanku mengambil kembali.


“Telpon siapa?” tanyanya curiga.


“Teman, aku butuh bantuannya,” jawabku.


“Ada aku kenapa cari orang lain? Aku pasti membantumu, batalkan sekarang,” katanya.


“Kak Ray,kau punya setumpuk pekerjaan.Aku tidak mau bergantung padamu.Hanya urusan kecil kenapa harus merepotkanmu.”


“Kau harus bergantung padaku,karena cuma aku yang mencintaimu tanpa syarat. Maghda, jangan pergi terlalu jauh dariku.”Raymond menggamit tanganku dan menarikku pergi.


“Jangan berbuat seperti itu Kak Ray,sebentar lagi kau akan menikahi wanitamu.Jangan membuatku menjadi rumit di depan orang tuamu.Aku ini hanya barang bekas yang tidak berarti lagi di mata siapa pun. Jangan jadi manusia bodoh yang terpaku masa lalu. Bukankah kau sangat menantikan pernikahan itu? Biarkan aku pergi dan menjalani hidupku,” kataku.


Raymond berhenti dan menatapku.


“Jangan mengoceh terus, selamanya kau harus bergantung padaku.Aku tak akan membiarkan siapa pun menjadi tempatmu menggantungkan diri.Brengsek kalau bukan perjanjian sialan itu...” Ray mengumpat dan menarikku ke tempat kami semula.Cristo melihat penuh tanya kepada kami.


“Cris,apa supirmu sudah datang?” tanya Raymond.


“Iya,dia di luar.Kenapa?” balas tanya Cristo.


“Aku akan bawa Maghda pulang, masih ada yang harus kulakukan,” jawab Raymond.


“Aku ingin ikut Kak Cris,aku tidak ingin ganggu pekerjaanmu,” pintaku.


“Tidak,aku masih punya urusan denganmu.Ayo,” Raymond kembali menarikku pergi.Cristo hanya tersenyum dan melambaikan tangannya.


Eh dia yang kakakku kenapa aku harus ikut orang lain? Kenapa dia malah tersenyum seperti itu.


“Pulang ke apartemen.” Raymaond meminta Dani membawa kami kembali ke apartemen.Sepanjang perjalanan Raymond hanya menampakkan wajah betenya. Ponselnya berbunyi dan dia mengangkatnya dengan malas.


“Iya aku tahu,Shit.Aku akan langsung ke sana, kau tunggu aku di sana satu jam lagi,” Raymond menutup ponselnya dengan marah.Raymond menutup penyekat mobil dengan sopir.


“Kalau marah padaku jangan lampiaskan pada orang lain,” kataku.


“Maghda,aku ingin bicara serius denganmu nanti malam. Aku akan pulang cepat,tunggu aku ya,” Raymond menghembuskan napasnya dengan kasar.


“Apa kau tidak merasa lelah?” Raymond balik bertanya.


“Memasak sesuatu adalah hal yang aku sukai.Aku hanya lelah disakiti,” jawabku.


Raymond menatap ke arahku.


“Hehe,aku cuma bercanda. Kenapa mukamu serius begitu? Kalau sampai di kantor nanti senyum pada pegawaimu ya, jangan marah marah.Boss galak itu menyebalkan lho,” kataku menggodanya.Bibir Raymond menyunggingkan senyuman lalu mengusak rambutku.


“Kau sangat pintar menggodaku,siapa yang mengajarimu? Apa Rouhan juga selalu kau goda?” tanyanya.


“Suami istri saling menggoda itu wajar.Sudah sampai,aku turun dulu.Aku akan menunggumu pulang,” kataku.


Dani membukakan pintu untukku.Ray hanya diam tidak membalas perkataanku. Kulangkahkan kakiku menuju lift.


“Maghda.” Seseorang memanggilku.Aku segera menoleh ke sumber suara.


“Kakek?” kataku.Pria tua itu berjalan menghampiriku. Tampak dua orang pengawal mengikuti di belakangnya.


“Kau sudah kembali, tadi Cristo mengatakan kau dalam perjalanan pulang, jadi aku sengaja menunggumu setelah dari klinik,” katanya.


“Iya, ayo silahkan mampir Kek,” kataku seraya membimbingnya menuju ke lift.Aku membawanya menuju ke apartemen Raymond.


“Silahkan duduk Kek,akan kubuatkan minuman.Kakek mau minum jahe hangat?” tanyaku setelah laki laki tua itu duduk di sofa.Kakek memberi tanda supaya kedua pengawalnya berjaga di luar pintu.


“Iya,kakek suka,” jawabnya. Kubuatkan jehe hangat dan kutaruh di meja di depannya.


“Maghda,apa Cristo sudah menceritakan semuanya?”


“Iya,” jawabku.


“Apa kau marah dan benci kakek?” tanyanya.


“Tidak.Terima kasih telah diam diam melindungiku.Setelah keluarga Smith meninggalkanku, aku tidak pernah merasa kesulitan dalam hal apa pun.Dan itu ternyata bukanlah kebetulan. Kakek dan Kak Cris selalu mengawasi dan mengirim orang untuk membantuku. Aku baru menyadarinya sekarang,” jawabku.


Pria tua itu tersenyum dan dan menggengam tanganku.Mata tua itu sedikit berair dan segera kuambil tisyu untuk mengusapnya.