
Bima menyodorkan beberapa foto rumah padaku.
“Ini adalah foto foto rumah yang dijual,harganya lumayan murah dan tempatnya strategis untuk usaha.Dan yang ini adalah rumah yang dikontrakkan,ada beberapa yang strategis juga.Kamu lihat lihat dulu,bagus juga kalau ada yang kamu minati.Tidak perlu pusing cari lagi,” kata Bima. Kubuka dan kuamati foto foto itu.Ada yang bagus di dalam kota, tapi letaknya sedikit berdekatan dengan lokasi mansion milik Raymond.
“Ini dikontrakkan ya Mas? Ini di mana?” tanyaku seraya menunjukkan salah satu foto kepadanya.
“Ini agak jauh di pinggir kota,sekitar dua kilometer dari pelabuhan.Satu kilometer dari pantai.Ini lumayan strategis sih.Ada tempat usahanya di samping rumah.Kalau kamu mau aku bisa antar ke sana,” kata Bima.
“Wah,sekalian dapat sopir nih,” kataku.Bima tersenyum lalu mengambil kunci mobilnya.
“Let's go,” katanya seraya berjalan ke luar kantornya.
Segera kuikuti langkah kakinya.Bima kau selalu baik padaku.Dulu kau juga sering membelaku saat aku dibully. Bima membukakan pintu mobil untukku.
“Mas Bima beneran tidak masalah ninggalin kantor?” tanyaku.
“Aku Bossnya,Alfarizi Bimantara Santoso pasti ada waktu untuk Maghdalena cengeng,” jawabnya.
Aku tertawa mendengar ucapannya.Yah memang benar, tiap kali aku nangis, tiap kali juga dia lewat. Bahkan dia pernah berkelahi gara gara ada anak kelas tiga yang menggangguku.
Sekitar satu jam kemudian kami sampai di sebuah rumah dengan halaman yang lumayan luas.Di sampingnya terdapat sebuah bangunan yang dulunya rupanya buat tempat usaha.Pemilik rumah mempersilahkan kami masuk.Ada dua kamar tidur,satu kamar mandi di kamar tidur utama,satu kamar mandi di dekat dapur,satu ruang makan yang terhubung langsung dengan dapur.Ada satu musolla kecil.Satu ruang tengah yang terhubung dengan ruang tamu.
“Mas,aku suka rumah ini.Aku ambil satu tahun dulu nggak pa pa kan? Berapa sewanya satu tahun Pak?” tanyaku.
“Baiklah.Mas aku DP dulu,aku hanya bawa sepuluh juta soalnya,” kataku.
“OK Lena tidak masalah.Pak tolong dikasih kuitansinya dulu.Nanti sisanya bisa diantar ke sini atau langsung ditransfer kan Lena? Pak Rahman tinggal di belakang rumah ini,nanti aku kasih nomor telponnya.Nomor rekeningnya aku juga ada,” kata Bima.Aku tersenyum senang,aku bisa langsung jatuh hati dengan rumah ini. Suasananya sangat tenang.
“Baiklah,kami permisi dulu Pak Rahman.Selanjutnya akan saya hubungi,” kata Bima setelah Pak Rahman memberikan kuitansi untuk DP ku.
“Baik Pak Bima,” kata pria paruh baya itu.
Bima melajukan mobilnya dengan wajah berseri.
“Aku senang kau langsung suka dengan rumah itu.Pemiliknya adalah adik pak Rahman.Dia pindah ke Jakarta karena suaminya bekerja di sana dan juga punya rumah di sana.Jadi yang di sini dikontrakkan biar tidak rusak,” kata Bima.
“Mas, terima kasih sudah membantuku.Aku tidak menyangka akan secepat ini dapat rumah.Aku pikir akan berhari hari buat cari lokasi. Tempatnya juga strategis, dekat perkantoran dan keramaian.Dekat rumah sakit dan ada Maĺl juga.Sepertinya aku bakalan betah di sini,” kataku antusias.Bima tersenyum senang.
“Cari makan dulu yuk,” ajak Bima.
“Aku mau langsung pulang Mas.Aku naik taksi saja,takut ketahuan suamiku kalau tahu tahu aku pulang diantar mas Bima,” tolakku.
Bima tertawa seraya menyentil hidungku.
“Gadis cengeng, sekarang sudah punya suami yang mungkin suka cemburuan. Baiklah, nyegat taksi di depan itu saja,aku tungguin sampai dapat.” Bima segera menepikan mobilnya.