
Raymond mengambil tisyu di atas nakas dan melap mulutku.
"Aku tidak tahu kenapa kepalaku pusing sekali.Mungkin tekanan darahku drop," kataku. Ray mengambil ponselnya dan ke luar dari kamarku untuk menelpon seseorang. Beberapa saat kemudian Ray datang dengan seseorang yang mengenakan jas putih layaknya seorang dokter.
"Saya dokter Lulu, Tuan Ray meminta saya datang memeriksa Nona," katanya. Aku menurut saja apa katanya.Ray duduk di sebelah kepalaku dengan wajah cemas.
"Apa Nona bisa ke kamar mandi sebentar untuk sample urine?" tanyanya seraya memberikan sebuah wadah kecil.
"Ayo biar kugendong," kata Raymond.Aku menurut saja Ray menggendongku ke kamar mandi.Ia ke luar setelah mendudukkanku di atas closet.Kupanggil Ray setelah selesai mengambil urine dan menutup wadah kecil itu.Ia kembali menggendongku dan membaringkanku di atas ranjang.
"Sekarang akan kuambil sample darahmu Nona," katanya.Kuulurkan tanganku. Dokter Lulu mengambil sample darahku dengan cekatan.
"Tuan Ray, akan saya bawa ke Lab sebentar," Ray mengangguk dan dokter Lulu pun pergi.
"Kak,apa dokter Lulu tinggal di apartemen ini?" tanyaku.
"Di bawah ada klinik yang cukup besar dan lengkap.Dia bekerja di situ, kebetulan pemilik klinik adalah temanku," jawab Ray. Ponsel di tangan Ray berbunyi.
"Halo Ron, iya selesaikan semua. Katakan pada Kojiro untuk menggantikanku menemui klien.Iya aku tidak akan kembali ke kantor. Besok aku juga tidak masuk kantor. Teruskan saja rapatnya besok,kau saja yang pimpin rapat.Hasilnya langsung emailkan padaku." Raymond mematikan ponselnya.
"Aku hanya sedikit pusing, nanti juga sembuh sendiri.Kak Ray pergilah selesaikan urusanmu," kataku.
"Kau sakit,saat ini urusan terbesarku ada di sini.Aku tidak mau mama memukuliku karena mengabaikanmu," jawab Ray.
"Iya,mama hampir tiap hari menelpon. Yang ditanyakan cuma keadaanmu," Ray tersenyum.Aku ikut tersenyum melihat kekesalan Ray.
"Perkenalkan pacarmu padaku, apa mama juga tahu tentangnya? Apa dia anak teman papamu yang dulu dijodohkan denganmu?" tanyaku.
"Iya, nanti kau akan kukenalkan kalau sudah saatnya," jawab Ray.Aku tersenyum senang, Ray pasti hanya kasihan padaku.Kupejamkan mataku, rasa pusingku sedikit berkurang.Terdengar bel di pintu, Ray bergegas membukanya.Terdengar suara dokter Lulu.Ray membawa dokter itu ke apartemennya.Kucoba bangun dari ranjang,ah kenapa susah sekali.Kenapa aku tiba tiba seperti ini.Kugenggam daun pintu kamar dan berhasil kubuka sedikit.
"Dokter tolong rahasiakan dulu yang ini, untuk saat ini.Yang lain boleh kau beritahu," kudengar suara Raymond di luar. Beberapa saat kemudian dokter Lulu masuk ke kamarku.
"Maghda, kenapa di sini? Bagaimana kalau jatuh?" Ray memapahku ke tempat tidur.
"Apa yang ingin kalian rahasiakan dariku? Apa sakitku parah? Selama ini aku baik baik saja, kenapa aku sakit setelah di sini?" tanyaku. Ray memelukku, air mataku mengalir deras tanpa bisa kubendung.
"Tenanglah Nona,akan kuberitahu segalanya. Yang pertama tekanan darahmu rendah, perbanyak minum susu dan makanan dari daging, sari kacang hijau.Akan saya kasih suplemen nanti.Yang ke dua kadar HB Nona hanya 6, Tuan Ray tolong segera carikan darah golongan AB.Di tempat kami golongan darah AB hampir tidak pernah ada.Barangkali dari orang tua,adik atau kakak pasti ada yang sama.Nona Maghda harus ditransfusi segera. Untuk sementara akan saya berikan suntikan,
tapi itu tidak banyak membantu.Tolong segera carikan Tuan, ini berbahaya untuknya," kata dokter Lulu. Ia mengambil alat suntik dari tasnya dan menyuntikkan entah apa di tanganku.
Ray tampak panik dan menghubungi seseorang dengan ponselnya.
"Cris ,aku butuh darah golongan AB secepatnya.Maghda butuh transfusi darah, tolong carikan.Baiklah." Ray menutup telponnya.