LOVE YOU

LOVE YOU
Part43


Kupejamkan mataku,Cristo membelai lembut kepalaku.Seperti biasa dia bisa meredakan emosiku.


"Ayo kita kembali ke rumah sakit," kata Cristo.


"Tidak, Kak.Ayo kita ke rukoku, aku mau mengambil barang barangku.Biarkan saja aku seperti ini.Kalau mati ya biarkan saja mungkin sudah waktunya.Tidak ada yang menangis juga," kataku.


Cristo menyentil keningku.


"Kakek pasti sangat bersedih kalau terjadi apa apa padamu.Kita ke klinik, nanti akan kuambilkan barang barangmu,"katanya.Cris melajukan mobilnya menuju ke klinik tempatku dirawat.Aku masuk ke dalam lift, Cristo menahan tanganku.Ia langsung menggendongku dan membawaku ke kamar rawatku.Beberapa saat kemudian dokter Ana datang bersama seorang perawat yang langsung memasang infus di tangan kiriku. Perawat itu memeriksa tekanan darah dan suhu tubuhku.Mengambil sample darahku.


"Tekanan darahnya turun lagi Mas Cris.Kau harus istirahat Nona,apa rasa mualmu lebih dari sebelumnya?" tanya dokter Ana.


"Tidak terlalu,pusingnya juga sudah hilang," jawabku.


"Apa darahku perlu diambil sekarang?" tanya Cristo.


"Tidak perlu,tadi Pak Raymond datang membawa tiga pendonor.Itu sudah cukup," jawab dokter Ana.Seorang perawat memasang jarum untuk transfusi di tangan kiriku.Ini sangat tidak nyaman untukku.Aku tidak pernah masuk rumah sakit sebagai pasien.Dokter menyuntikkan beberapa macam obat melalui infus di tanganku.


Kulihat Ray masuk, kenapa dia sangat tampan.Aku mengutuki diriku sendiri.Wanita yang masih bersuami bisa bisanya mengagumi orang lain.Cih, menjadi pasangan hidup seorang Rouhan saja aku tidak pantas apa lagi pasangan hidupmu Raymond.


"Apa yang kau pikirkan? Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Ray.Kupalingkan wajahku.


"Tidak apa,aku hanya melamun," jawabku.


"Melamunkan diriku?" tanyanya.Aku tersenyum getir.


"Tidak pantas istri seseorang melamunkan pria lain.Lagipula mana pantas aku memikirkan dirimu Tuan Muda Smith?Aku tahu kau Cristo hanya mengasihaniku. Aku cukup tahu diri," jawabku.


"Apa Mansionnya sudah mulai dibangun?" tanyaku. Ray memberikan ponselnya padaku. Ia menunjukkan foto foto yang membuatku membulatkan mataku.


"Hampir jadi,waktunya sudah dekat hmm? Apa kau sudah melamarnya?" tanyaku.


"Belum,setelah urusanmu beres baru aku lamar dia," jawab Ray.


"Jangan campuri urusanku Kak Ray,setelah sembuh aku akan pergi dari kota ini.Tidak perlu bereskan urusanku.Sekarang pergilah, aku mau istirahat," usirku.


"Tidurlah, aku akan ada di sini sampai kau terlelap.Ray mengambil kursi dan duduk di sebelah kepalaku.Dengan lembut diusapnya rambutku.Air mataku tiba tiba saja mengalir deras.Kumiringkan tubuhku membelakangi nya.


"Aku bersamamu jangan terlalu bersedih. Kasihan janin yang ada dalam perutmu Maghda. Kalau kau seperti ini, dia juga akan ikut sakit." Deg, segera kupalingkan wajahku menghadap ke arahnya.


"Apa maksudmu?" tanyaku.


"Kau mengandung, empat minggu kata dokter.Jangan bersedih dan takut, kalau Han berpisah denganmu, aku yang akan menjadi ayahnya," jawab Raymond.Aku menangis sekaligus tertawa.Bahagia dan sedih tertumpah jadi satu.Aku akan memiliki malaikat kecil yang akan menemaniku. Itu berarti aku tidak akan sendirian lagi.


"Terimakasih Tuan Muda Smith, aku akan membesarkannya sendiri," kataku.Kupegangi perutku yang masih rata.Ray menggenggam tanganku.Mencoba untuk menguatkanku.


"Terima kasih Uncle Ray telah menemani mamaku,"kataku saat Ray membelai lembut perutku.


"Panggil aku Daddy,Sayang," kata Raymond. Ray mengambil bubur daging dari dalam lemari pasien.


"Aku membuatnya tadi, anakmu perlu dikasih makan." Ray menyuapiku.Aku tidak menolak lagi walaupun perutku rasanya tidak enak.