
Setelah Cristo berlalu, tinggal aku dan Ray yang berada di meja kami.
"Mmm Tuan Smith,saya harus pergi," kataku. Ray masih menikmati makanannya yang belum habis.
"Aku belum selesai makan kenapa main pergi saja? Temani aku sampai selesai," Ray berkata ketus kepadaku.Beda sekali dengan Cristo yang lemah lembut setiap berbicara padaku.Akhirnya aku hanya duduk diam menunggunya.Kuambil sekaleng softdrink dan meminumnya.
"Makanlah Tokoyaki nya, aku tidak bisa menghabiskannya sendirian," katanya.
"Aku kenyang,Kak Cris memang suka berlebihan.Sudah bungkus aja," kataku.Ray tertawa cukup keras hingga beberapa orang melihat ke arah kami.
"Bodoh,malu maluin.Aku bisa membeli seratus rumah makan seperti ini, kenapa harus bungkusin sisa makanan."
"Tuan Smith,apa aku boleh bertemu kekasihmu?" tanyaku.
"Tidak.Kau pasti akan mengatakan padanya kalau kau mantan kekasihku.Pernah tidur denganku,sangat mencintaiku," jawabnya. Brengsek, kenapa dia bicara sekasar itu padaku.
"Aku hanya ingin tahu apa yang dia inginkan untuk kamar kalian dan anak anak kalian nanti.Kau tidak perlu paranoid karena aku bukan manusia seperti itu.Biar segera bisa kuselesaikan dan pergi sejauh mungkin dari hidupmu," jawabku.
"Dia sangat cantik, dan satu satunya wanita dalam hidupku.Jadi aku tidak mau kehilangan dia karena kesalahan kecil," Ray menandaskan minumannya.
"Apa kau sudah selesai? Aku pergi dulu. Temanmu itu kenapa sangat baik padaku. Cristo selalu tahu apa yang sangat aku inginkan.Kalau aku ini sebuah kesalahan dalam hidupmu,sebaiknya tidak perlu menemuiku lagi.Biar selanjutnya aku berurusan dengan bawahanmu." Aku bangkit dari dudukku.Ray menggenggam paper bag yang tadi diberikan Cristo padaku.
"Aku bisa memberimu satu container barang barang seperti ini.Mulai besok kau harus mengerjakan desainmu di kantorku.Akan kupersiapkan meja di ruanganku.Besok pagi jam tujuh aku akan menjemputmu." Ray membanting kasar paper bag itu.
"Ingat, besok jam tujuh aku akan menjemputmu.Kalau sampai telat aku akan memandikanmu dan memakaikan pakaianmu." katanya kemudia berlalu dari hadapanku.Cih seenaknya saja dia padaku. Segera kutinggalkan restoran itu dan menyeberangi jalan kembali ke rukoku.
Malam itu sampai larut masih kukerjakan pekerjaanku.Aku hanya ingin semua selesai lebih cepat.Kulihat ponselku,tak ada satu pun telpon mau pun pesan dari Han. Kucoba untuk menelponnya, ada nada sambung tapi tak diangkatnya.Kucoba untuk berkirim pesan sekedar mengingatkannya untuk makan. Pesan itu sengaja tidak dibaca olehnya, padahal kulihat statusnya sedang online. Akhirnya aku silent ponselku,kucoba untuk memejamkan mataku.Entah kenapa ada firasat yang kurang baik dengan Han suamiku.
Tapi segera kutepiskan, aku tidak mau stress memikirkan sesuatu yang tidak tidak.
Dengan susah payah akhirnya aku terlelap.
Pagi harinya aku berisap dari pagi.Aķu takut Ray akan benar benar melakukan ancamannya.Kupikir ada baiknya juga mengerjakan di kantornya.Bisa langsung dibicarakan dan cepat selesai.Kumasukkan berkas berkasku ke dalam tas kerjaku. Kuambil mie instan yang tadi kubuat dan bergegas ke ruang tamu.Kulihat masih setengah tujuh jadi masih ada waktu untuk sarapan.
"Kenapa kau makan makanan seperti itu?" Mangkuk di tanganku hampir jatuh saat kulihat Ray menyandarkan punggungnya di dekat pintu.
"Masih jam setengah tujuh kenapa sudah jemput? Besok aku akan datang sendiri tidak perlu dijemput." Kulanjutkan memakan mei instanku.Ray mengambil mangkuk dari tanganku. Ia duduk di sofa dan memakannya.
"Aku juga lapar belum sarapan," Ray memakan mie instanku dengan lahap.
"Apa mau kubuatkan lagi? Apa di rumahmu tidak ada pembantu?Mana mungkin orang kaya sepertimu tidak ada yang buatkan sarapan.Segera bawa wanitamu ke rumah, mansion jadi tinggal pindah," kataku.Kubuat dua cangkir coklat hangat,kuberikan satu gelas pada Ray.
"Kenapa kau cerewet sekali? Dulu kau tidak seperti ini.Ayo berangkat," Ray menghabiskan coklatnya dan ke luar dari rukoku.Kuikuti langkah kakinya hingga ia membukakan pintu mobilnya untukku.Seorang sopir membawa kami menuju Imperium Tower tempat Ray bekerja.