LOVE YOU

LOVE YOU
Part71


Suasana terminal kedatangan dari London sangat ramai.Lumayan banyak yang menjemput.Raymond menggenggam tanganku yang memang sedang bingung. Entah bagaimana harus menyapa orang tua Raymond. Sepuluh menit berlalu,yang ditunggu akhirnya pun datang. Raymond memeluk kedua orang tuanya bergantian sementara diriku tanpa sadah mundur ke belakang hingga menabrak seseorang.


“Hai, kamu Maghda kan? Kau juga ikut menjemput Papa Mama Raymond? Ayo,” wanita cantik yang tak lain adalah Caroline menggandeng tanganku dan membawaku kepada mereka.


“Mama,” Caroline memeluk nyonya Smith dengan gembira. Keduanya saling tertawa dan Raymond juga ikut membaur bersama mereka.


Mereka sudah melupakanku, dalam hati aku menertawakan diriku sendiri, bagaimana bisa aku sekonyol ini menuruti Raymond.Diam diam aku pergi menyelinap meninggalkan keluarga bahagia itu. Kupercepat langkahku menuju sebuah cafe dan duduk untuk menenangkan diri sebentar.


“Mau pesan apa Bu?” tanya seorang pelayan menghampiriku.


“Kopi expresso sama roti boy satu yang rasa kacang coklat ya,” kataku seraya melihat ke buku menu.


Pelayan yang masih belia itu tersenyum lalu meninggalkanku.Ponselku berbunyi, Raymond menelponku.Kubiarkan saja, ini adalah hari bahagiamu, aku tak akan merusaknya.


Sebuah pesan masuk ke aplikasi chatku.


“Di mana?”


Kubiarkan saja.


“Maghda, katakan kau di mana? Papa dan Mama mencarimu, kenapa tiba tiba ngilang?”


Pesan itu hanya kulihat saja.


Pesananku datang diantar seorang pelayan yang berbeda.


“Terima kasih,” kataku seraya menerima secangkir kopi expresso yang kupesan. Kunikmati kopi kesukaanku dan membuatku sedikit melupakan kejadian barusan.


Beberapa saat kemudian ada telpon masuk, dari Cristo dan segera kuangkat.


“Maghda kamu di mana?” terdengar suara Cristo di seberang.


“Apa kau menjemputku?” tanyaku.


“Iya, kau di mana?”


“Aku di Cafe Boy di Bandara.Datanglah cepat, aku menunggumu.” Segera kumatikan telponku.


Yaa Tuhan,kenapa aku sebahagia ini mendengar suara Cristo.


Beberapa saat kemudian seseorang membuka pintu dan itu membuatku kurang senang.Raymond begitu mencolok daripada pengunjung yang lain.Aku hanya berusaha tenang melihat raut wajahnya yang masih tampak marah.


Ia duduk dengan kasar di kursi depanku.


“Sebentar lagi Cristo jemput,aku akan pulang bersamanya.Hari ini dia akan membantuku pindah rumah.Jadi aku minta maaf tidak ikut denganmu,” jawabku.


“Baiklah, tapi kau harus ikut ke mansion menyapa papa dan mama,” paksanya.


“Aku bukan siapa siapa hanya orang luar.Mereka tak akan peduli aku ada atau tidak.Ray jangan memaksa mempermalukamku,” jawabku.


“Oh, begini kamu membalas budi pada mama yang sangat menyayangimu? Dia tidak minta apa apa padamu, hanya ingin melihatmu setelah sekian lama,” kata Raymond.


“Baiklah,tapi tunggu Cristo datang.Akan kutunjukkan muka jelekku kepada mereka dan aku akan langsung pergi dengan Kakakku.”


Akhirnya aku yang harus mengalah, Raymond mengambil kopiku dan menghabiskannya.Aku hanya melotot marah melihatnya melakukan itu.


“Kenapa kau sekarang punya hobi menghabiskan makanan orang?”


“Bukan makanan orang tapi makananmu.Terlalu banyak minum kopi tidak baik untuk wanita hamil,” jawab Raymond cuek.


“Maghda!”


Kami berdua menoleh saat mendengar suara yang sangat familiar di telingaku.


Aku merasa bahagia sekali melihat Cristo datang.Aku berdiri dan menyambutnya dengan pelukan.Oh penyelamatku,teriak ku dalam hati.


“Hey, Bro kau datang lebih cepat,” katanya seraya duduk di samping Raymond.


“Tentu,Maghda sekarang punya hobi ngilang.Membuatku pusing,” jawab Raymond.


Cristo tertawa mendengar omelan Raymond.


“Cepat habiskan rotimu Maghda, setelah ini kita harus menemui kakek.Ada hal penting yang akan dibicarakan dengan kita,” kata Cristo.


Segera kuhabiskan roti boy ku dan meminta sebotol air mineral kepada pelayan.Cristo memanggil pelayan untuk meminta bon dan memberikan selembar seratus ribuan kepada pelayan itu. Kami segera beranjak dari tempat itu.


“Tunggu Tuan, kembaliannya,” kata pelayan itu.


“Buat kamu,” jawab Cristo.


Kuraih lengan kokoh Cristo dan menggandengnya.


Tentu saja Raymond tidak terima dan segera membawaku menjauh dari Cristo dan memeluk pundakku.