
Cristo menyuapkan bubur kacang merah hingga suapan terkhir ke mulutku.Beberapa saat kemudian Raymond dan dokter Lulu datang.Ia tersenyum ramah kepadaku.
"Kau ini sangat beruntung Nona Maghda, kau sudah dapat empat kantung darah golongan AB dalam waktu singkat.Ayo, silakan duduk di kursi roda ini.Kau harus ditransfusi di kamar rawat," katanya.
"Ayo," Ray menggendongku dan mendudukkanku di kursi roda.
"Cris, bawakan beberapa potong pakaian gantinya. Panggilkan ibu Sarita dari panti, katakan aku yang memintanya datang pada kepala panti.Anak asuhnya sakit,aku ingin dia yang menemani Maghda," katanya.
Raymond memdorong kursi rodaku dan membawaku ke klinik yang bisa dibilang kliniknya para orang kaya.Mereka membawaku ke ruang VVIP dan segera mengambil tindakan medis atas diriku.Ray mengusap kepalaku mencoba untuk menguatkanku.
"Aku memanggil ibu Sarita,Maghda," kata Raymond.
"Jangan Kak, Bagaimana kalau di panti kekurangan orang.Aku bisa sendiri,nanti minta tolong sama perawat saja," kataku.
"Cristo pasti cari pengganti untuknya.Apa aku saja yang membantumu ganti pakaian? Ke kamar mandi?" tanyanya.
"Ngaco," kataku.
"Dia yang merawatmu dari kecil.Dia pasti senang punya kesempatan merawatmu lagi," kata Raymond.
"Kau istirahatlah di apartemenmu Kak, kau pasti lelah.Aku hanya butuh ponselku Kak, apa aku boleh meminta ponselku?" tanyaku memelàs.
"Tidak.Kau cuma boleh tidur sampai besok. Setelah kau sembuh akan kukembalikan ponselmu.Kau juga boleh menyelesaikan urusanmu dengan Han.Tapi harus ditemani Cristo.Kau tidak boleh pergi sendiri," Raymond tiba tiba berubah menjadi mahluk rewel yang mengerikan.Beberapa saat kemudian Cristo datang, sudah berganti pakaian dan tampak lebih ganteng.
"Aku mau mandi dulu, sebentar lagi aku kembali," Raymond ke luar dari kamar rawatku.Cristo memberiku Ipadnya yang hanya berisi game.Kugelengkan kepalaku, itu pasti cuma game game cowok yang enggak banget.Lagi pula aku sangat lelah untuk bermain benda seperti itu.
"Tidurlah,atau kau ingin makan sesuatu?" tanyanya. Tiba tiba ponsel Cristo berbunyi, ia melihat sebentar lalu mereject panggilan itu.
"Mantan pacar, pasti minta dianterin beli ini itu.Kakek melarangku menemuinya lagi," jawab Cristo.
"Apa kau menyukainya? Apa kau sering diporotin olehnya?" Aku tersenyum mengejeknya.
"Kenapa senyummu itu? Dia bilang cinta mati padaku.Tapi dia suka sekali membeli barang barang yang tidak dia butuhkan.Itu penyakit gila belanja, aku tidak mau punya istri seperti itu.Aku capek capek kerja tahu2 cuma buat beli barang2 useless.Mendingan buat belikan kamu apa gitu," Cristo tertawa.
"Wanita seperti itu memang enaknya buat mainan doang.Kalau dijadikan istri bisa kelar hidup lo," tiba tiba Raymond muncul di balik pintu.
"Aku menunggu kalian menikahi wanita yang yang baik.Mencintai satu sama lain dan saling mendukung satu sama lain," kataku.
"Yang penting kamu sehat dulu.Apa rencanamu setelah ini? Apa yang kau ingin lakukan? Apa kau akan kembali pada Han?" tanya Cristo.
"Aku tidak yakin bisa melanjutkan hidupku bersamanya.Tapi akan kubicarakan dengannya.Bagaimana pun juga, aku sendiri yang dulu menerimanya menjadi suamiku. Walau pun akhirnya menyakitkanku," jawabku.
"Maghda harusnya aku..."
"Aku akan mendampingimu dan mencarikan pengacara terbaik untukmu," Cristo memotong perkataan Raymond.
"Terima kasih Kak,setelah transfusi darah selesai aku akan menemuinya," kataku. Cristo mengusap rambutku.
"Tentu,tapi dokter bilang empat kantung itu masih kurang.Nanti bisa ambil darahku lagi," katanya.
"Cukup dulu,aku ingin ketemu Han dulu," kekehku.Cristo mengiyakan.Ray duduk di sebelah Cristo yang sedang mengusap usap rambutku.