
Raymond menundukkan wajahnya,aku tidak pernah melihatnya seperti itu.Ray yang selalu angkuh sejak kecil,hanya bersikap lembut kepadaku dan disegani teman temannya,saat ini menundukkan wajahnya di depan Kakek.
“Aku memohon padamu Kakek,” katanya.
“Apa semua syarat dalam perjanjian itu sudah kau penuhi?” tanya Kakek.
“Iya, sudah kupenuhi,” jawab Ray.
“Baiklah,tapi ada lagi yang aku minta kau penuhi.Keluarga Wiratama akan membawanya kembali jika suatu saat kau terbukti melakukan kekerasan secara fisik maupun psikis kepada Maghda.”
“Tentu Kakek,aku akan membuat perjanjian tertulis mengenai itu.Keluarga Wiratama bisa menuntut secara hukum jika itu terjadi.Saat ini aku hanya perlu izin darimu untuk menikahinya,” jawab Raymond.
“Maghda,bagaimana apa kau bersedia ? Ini hanya mengulang akad nikah secara hukum.Dulu waktu kecil kau sudah dinikahkan dengannya.Tapi waktu itu kau masih belum mengerti,kau berhak menjawab atau mengajukan keberatan Sayang,” kata Kakek.
“Aku tidak bisa menerimanya Kakek, bagaimana bisa kalian membiarkan Ray menikahi dua orang sekaligus?Maafkan aku Ray aku tidak bisa,” jawabku.
Raymond bangkit dari duduknya dan menghampiriku.
“Aku menyiapkan pernikahan untuk menikah denganmu.Menikahi dua orang, siapa lagi?” tanyanya.
“Caroline.Jangan mempermainkan perasaan wanita Ray,aku tidak mau terlibat konflik dengan istrimu yang lain setelah menikah. Kakek,aku bisa hidup sendiri dan menjaga diriku.Kakek tidak perlu khawatir,” kataku.
“Maghda kau salah faham padaku,Aku adalah kakak sepupu Raymond.Ini adalah Mamiku, dia kakak kandung mamanya Raymond,Mami Kinan.Dan ini adalah Wisnu suamiku.Aku hanya diminta Raymond membantunya membuatkan gaun untukmu.Aku adalah perancang busana,aku juga membantu sedikit mempersiapkan yang lain.Aku punya rumah mode,kau bisa berkunjung sekali sekali,” kata Caroline.Aku hanya diam dan menatap tak percaya dengan apa yang dikatakan Caroline.
“Kau sengaja melakukannya Ray, kau sengaja membuatku berfikir seperti itu kan Ray?Kenapa?Apa yang sebenarnya kau inginkan?”
“Aku ingin kau hanya melihatku.Aku merasa senang melihatmu seperti itu,aku ingin menghapus Rouhan dalam pikiranmu dan kau hanya memikirkanku,” jawab Raymond.
“Yaa Tuhan, aku tidak percaya kau bisa sekejam itu padaku.Aku banyak menangis karena itu,” gumamku.
“Itulah yang kuingin Maghda, kau hanya tertawa dan menangis karenaku.Aku tidak pernah mengatakan akan menikah dengan Caroline atau siapa.Kau adalah istriku dari kecil,kenapa aku harus tertarik dengan wanita lain sementara ada yang memiliki semua yang kubutuhkan untuk hidupku.”
Raymond mengaduh saat Mama kinan memukul kepalanya dengan sendok.
“Harusnya Mama datang lebih cepat untuk menghentikan ulah anak bodoh ini, Sayang. Sekarang kau tidak perlu takut ditindas olehnya ya, Mama di sini Sayang, sampai bayimu lahir Mama akan di sini,” kata Mama Kinan.
Tiba tiba air mataku berjatuhan.
“Kau mau menikah denganku bukan?” tanya Raymond seraya mengusap air mataku.
“Bayi ini milikku, aku akan memberikan namaku di belakang namanya.Aku akan menjadi ayah yang sangat menyayanginya. Jangan khawatir OK?”
“Maghda,Papa juga setuju dengan Ray. Bagaimana pun anak itu tidak bisa memilih siapa ayah ibunya.Kau harus menutup mata, anggaplah dia anaknya Raymond.Nanti kedepannya kalian akan punya anak anak lagi.Saat dia dewasa terserah kalian mau mengatakan yang sebenarnya pada anak ini,” kata Papa Alvaro.
Ray menggenggam erat tanganku.
“Kita menikah ya,” katanya.
“Iya,” jawabku.
“Terimakasih Maghda,” bisik Raymond seraya memelukku.
Papa Varo menghampiri kakek dan saling berpelukan.Cristo menghampiri kami dan memeluk kami berdua.Ray mengusap air matanya.
“Akhirnya kau benar benar menjadi adik iparku Brow,” katanya.Ray meninju lengannya.
Kuhampiri Mama Kinan yang tampak menangis melihatku.
“Ibu Mertua,” kataku.
Mama Kinan menjewer telinga dan pipiku bergantian.
“Anak nakal,kau akan selalu menjadi Tuan Putri di rumahku.Dari kecil aku buru buru membawamu karena takut diambil orang.Kau yang membuat Ray tidak kerasan di rumah.Pagi sekolah, pulang sekolah ke panti main denganmu. Pulang malam langsung tidur,” katanya. Kami berdua tertawa mengingat hal itu.
“Tuan, cincinnya.” Mona menyerahkan kotak cincin yang tadi dibawanya.
Ray menerimanya dan menghampiriku.
“Maghda, apa kau bersedia di sisiku sampai kita tua dan membesarkan anak anak kita dengan penuh kesabaran?” tanya Ray seraya meraih tanganku.
“Aku bersedia,” jawabku.Ray memelukku lalu memasangkan cincin indah itu di jari manis kiriku dan menyerahkan perhiasan lainnya di tanganku.
“Ini harus dipakai saat resepsi pernikahan, akan kuundang semua teman SMA kita,teman main kita. Termasuk semua alumni panti asuhan dan yang masih di sana saat ini. Maghda, aku akan menanggung biaya sekolah mereka,” kata Raymond.
Aku hanya bisa tersenyum bahagia mendengar apa yang dikatakannya, karena Kakek dan Cristo yang menanggung biaya hidup mereka selama ini.Biaya sekolah ditanggung donatur lain.Campur tangan Ray akan membuat kehidupan di panti semakin baik.