LOVE YOU

LOVE YOU
Part25


Selama perjalanan kami tidak saling bicara. Ray begitu sibuk dengan Ipadnya.Aku hanya diam memandang ke luar jendela menikmati pemandangan pagi yang masih sepi. Kuambil ponsel dari tasku.Kulihat mungkin Han mengirim pesan padaku.Ternyata tidak ada pesan darinya.Bahkan pesanku kemarin tidak dibacanya. Kucoba melakukan panggilan, sekedar ingin menanyakan keadaannya. Aku sedikit kaget karena panggilanku direjek olehnya.Di dalam otakku mulai berfikir macam macam.Aku terkejut ketika Ray menendang kakiku.Aku yang duduk berhadapan dengannya sontak membulatkan mataku.


"Apa ini sepatu yang dikasih Cristo kemarin?" tanyanya.


"Iya, nyaman dipakai jadi kupakai saja. Kenapa Cristo perhatian padaku dari dulu? Dia itu pria yang sangat lembut,terimakasih karenamu aku mengenalnya,"jawabku.


"Cih, kamu jangan kegeeran.Kau piķir secantik apa dirimu? Kekasíh Cristo cantik sekali,kamu ini bukan seleranya," Ray tersenyum sinis.


"Tidak perlu mengingatkanku Tuan,aku tahu siapa diriku.Mungkin kau benar,Cristo hanya kasihan padaku," jawabku.Kumatikan ponselku, kembali kulayangkan pandanganku ke luar jendela.Rupanya sudah sampai di area Imperium Tower.Mobil itu diparkir di tempat khusus.Ray dan aku turun dari mobil limo miliknya.


"Tuan,jam berapa kantormu masuk?" tanyaku.


"Kenapa memang? Terserah aku saja jam kerjaku mulai jam berapa."


"Aku bukan bertanya jam kerjamu, tapi jam kerja pegawaimu," kataku.Aduh lama lama pingin aku cubit itu mulut.Kenapa sekarang bicaranya selalu kasar padaku.


"Jam setengah delapan?" jawabnya.Ia melangkah pergi.Masih belum jam tujuh, kulangkahkan kakiku ke luar dari area Imperium Tower.


"Maghda!" kudengar teriakan Ray,sontak aku menoleh.Ray berjalan cepat ke arahku.Tanpa aba aba Ray menarik tanganku dan membawaku menuju ke lift khusus yang dulu pernah kupakai.


"Lepaskan tanganmu Tuan,aku hanya mau cari roti dan secangkir kopi di minimarket di depan tempat ini,"kutarik tanganku.Tapi tangan kokoh itu seakan diberi lem tidak bisa kulepaskan.


"ini mejamu," Ray membawaku ke sebuah meja kerja di sudut ruangannya dan itu berarti kami akan saling berhadapan pada saat bekerja.


"Ayo," Ray kembali menyeretku ke sebuah ruangan di dalam ruang kerjanya itu.Ada sebuah kulkas besar,microwave,kompor listrik dan tempat cuci piring. Ray mengambil roti tawar di lemari gantung dan daging asap dari kulkas.


"Ini, buatkan sandwich untukku.Aku masih lapar,juga buatlah untuk dirimu," Ray ke luar dari ruangan itu.Kudengar bunyi mesin coffee maker.Dia sedang membuat kopi.


Kubuat dua sandwich.Kuisi dengan daging asap dan beberapa sayuran.Segera kuambil piring dari dalam lemari gantung itu,lalu kuberikan padanya sebuah.Ray tampak sangat lahap memakannya.Tidak sampai lima menit sandwich itu tandas.


"Makan punyaku ini kalau masih lapar,ini belum aku makan," kusodorkan sandwichku.


"Tidak,makanlah.Aku sudah kenyang," Ray meminum kopi buatannya.


Aku kaget saat Ray memberikan cangkirnya padaku.


"Ini masih ada, mau ditarus di pantri?"tanyaku


"Minumlah," katanya.Aku cuma diam memandangi kopi di tanganku.


"Kenapa? Apa kau jijik minum dari bekas bibirku? Aku tidak jijik makan dari mangkuk dan sendok yang sama denganmu." Ray menatap sinis padaku.Akhirnya kuminum juga separuh cangkir kopi itu.Aku tidak mau dapat mood jelek sepagi ini.Kubawa piring dan cangkir kotor ke pantri.Setelah kubersihkan aku kembali ke mejaku.