
Aku terbangun saat mendengar suara gemercik air di kamar mandi.Aku sedikit kaget saat membuka selimut dan dalam keadaan polos tanpa sehelai benang. Ah aku baru ingat kalau aku kelelahan sampai tertidur saat Raymond hampir klimaks.
Raymond ke luar dari kamar mandi dengan senyum manis saat melihatku membuka mata.Kutarik selimut hingga ke wajahku.Aku merasa sangat malu karena menolak tapi menikmati saat Ray memaksaku.
“Ini bukan pertama kalinya, kenapa malu malu begitu? Maghda, I love you.” Raymond mencium lembut bibirku. Ia mengambil paperbag di atas nakas.
“Pakailah,ini baju tidur yang aku suruh Dani mengambil di butik.Coraknya sama dengan yang kupakai,” katanya.
Segera kulihat isi paperbag itu, oh my God kenapa seksi begini? Ray terkekeh melihatku kaget.Baiklah kupakai saja, daripada tidak berpakaian sama sekali.
Ray tersenyum melihatku memakainya, segera kutarik selimut sampai ke pinggang karena pahaku sangat terekspose.
“Maghda,terimakasih,” katanya.Ray membaringkan tubuhnya di sampingku. Tangannya masih sibuk memainkan anak rambut di dahiku.Aku tersenyum dan membelai wajahnya.
“Aku tidak ingin terbangun dari mimpi kalau ini mimpiku,” kataku.
“Aku pasti berusaha mewujudkan mimpimu Sayang,asal kau tidak meragukanku,asal cintamu tetap untukku,” Raymond memeluk erat tubuhku.
“Tidurlah, masih jam satu.Besok kita akan ke Bandara menjemput Papa dan Mama.Aku ingin kita tinggal bersama seperti dulu apa kau mau?” tanya Ray.
“Mmm,akan kupikirkan.Sebenarnya aku ingin menjalankan rencanku dulu,tidak apa kan?” tanyaku.
“Rencana yang mana?”
“Aku sudah menyewa sebuah rumah yang ada tempat usahanya, memang agak ke pinggir kota tapi aku menyukainya.Aku sudah pernah cerita kan kalau ingin membuka florist.Aku akan belajar budidaya tanaman bunga pada Kakek dan Kak Cris.Dia besok pulang dan aku akan pergi dengannya,” jawabku.
Raymond mengerucutkan bibirnya.
“Jadi kau tidak ikut ke Bandara, jam delapan kita jemput mereka?” tanya Raymond.
“Baiklah,setelah jemput mereka.Ray apa mereka akan menyukaiku?”
Raymond tertawa hingga matanya berair.
“Kau lucu sekali, Sayang? Kita bertahun tahun tinggal bersama, mama juga lebih sayang padamu daripada aku dan George.Kalau ada kamu di rumah, kami ini seperti anak pungut.Makanya George lebih milih tinggal sama Grandma di London.” Raymond tertawa lagi.
“Ini semua salahku, kau tidak perlu khawatir.Kita akan melalui semuanya Maghda,berjanjilah untuk tetap bersamaku apa pun yang terjadi. Sekarang ayo tidur lagi,ini masih jam dua pagi.”
Raymond membali menarikku dalam pelukannya.Kucoba untuk kembali memejamkan mataku.Kenapa aku merasa sangat nyaman saat Ray memelukku?
Ah biarkan saja, nikmati saja saat saat bersamanya. Mungkin besok, lusa atau beberapa hari lagi aku tak bisa lagi bersamanya.
Ray, perasaanku semakin bertumbuh, jangan salahkan aku karena kau yang menarikku.☆☆☆
Kubuka mataku,segera kuambil tas selepangku di atas nakas dan kuambil ponselku.Sudah jam lima pagi,Raymond tidak lagi di sampingku. Kuketuk pintu kamar mandi, tidak ada jawaban.Setelah kubuka ternyata memang tidak ada siapa pun.
Segera kuisi bathtub dengan air hangat dan berendam sebentar.Setelah kurasa cukup segera kubilas tubuhku dan bersiap untuk sholat subuh.
Hingga jam tujuh pagi Raymond belum juga kembali.Akhirnya kutelpon layanan kamar untuk memesan Risoto, entah kenapa pagi ini aku sangat ingin makan Risoto.Untunglah aku tidak mual pagi ini.
Kudengar bel di pintu, segera kubuka dan seorang pelayan mengantarkan pesananku.
“Terimakasih Mbak,” kataku.Gadis itu mengangguk dan kuberikan sebuah tip kepadanya.Ia segera berlalu dan aku melonjak kegirangan melihat hidangan yang ada di meja.Baru beberapa suapan, pintu kamar terbuka. Ray datang dengan membawa beberapa paperbag dan entah apa yang ada di dalam kantong plastik.
“Eh, sarapan apa?” tanyanya.
“Risoto, jangan mau ya aku cuma pesan satu,” kataku.
Raymond tampak menelan ludahnya.
“Mau dikit.” Tanpa permisi Raymond langsung mengambil sendok dari tanganku dan memakannya.
“Ray!!” teriakku jengkel. Raymond hanya tersenyum lalu menghabiskan makananku.
“Eh, nangis.Minum ini dulu, akan kupesankan lagi.”
Raymond mengambil susu UHT kemasan yang sudah dihangatkan.
Kuusap air mataku dan menerima susu itu.